LPK Elang Khatulistiwa Jajaki Kerja Sama dengan Basarnas Semarang
Tim LPK Elang Khatulistiwa Indonesia bersama Asnawi Suroso, S.Ikom., M.M., Kasi Sumber Daya Kantor SAR Semarang, Hardi Amanurizal, S.I.P., Rescue Penyelia Kantor SAR Semarang; serta Budi Purnomo Sari, S.E., M.Si., instruktur SAR. (foto - Sekar).
Dalam Memperkuat Kompetensi Pemandu Wisata Alam
Keselamatan wisatawan menjadi aspek penting dalam pengembangan wisata minat khusus, terutama di kawasan pegunungan dan alam terbuka yang memiliki risiko medan dan cuaca.
Menjawab kebutuhan tersebut, LPK Elang Khatulistiwa Indonesia menjajaki sinergi dengan Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Semarang untuk mendukung peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) pariwisata, khususnya pemandu wisata alam.
Penjajakan kerja sama ini diarahkan untuk mempertemukan kebutuhan industri pariwisata dengan pengetahuan dan keterampilan pencarian serta pertolongan dalam situasi darurat.
Penguatan kapasitas pemandu diharapkan tidak hanya meningkatkan profesionalisme pelayanan, tetapi juga memperkuat pemahaman mengenai mitigasi risiko dan keselamatan wisatawan.
Founder LPK Elang Khatulistiwa Indonesia, Abby, didampingi Sekar selaku Marketing Manager, melakukan silaturahmi dan komunikasi dengan jajaran Kantor SAR Semarang, Selasa (20/10/2026).
Pertemuan tersebut dihadiri Asnawi Suroso, S.Ikom., M.M., Kasi Sumber Daya Kantor SAR Semarang, Hardi Amanurizal, S.I.P., Rescue Penyelia Kantor SAR Semarang; serta Budi Purnomo Sari, S.E., M.Si., instruktur SAR.
Abby mengatakan, komunikasi dengan Basarnas merupakan bagian dari upaya membangun kolaborasi lintas lembaga untuk mendukung industri pariwisata yang lebih aman, terutama pada segmen wisata minat khusus dan kegiatan alam terbuka.
“Ini salah satu upaya kami membangun sinergisitas dengan lintas lembaga, salah satunya adalah Basarnas. Dalam industri wisata, kerja sama dengan mereka sangat penting, terutama dari segi pelatihan dan penanganan insiden wisata alam terbuka,” ujar Abby.

Menurutnya, ada sejumlah hal yang dikomunikasikan dalam pertemuan tersebut, termasuk peluang membangun komitmen bersama untuk meningkatkan standar keselamatan dalam penyelenggaraan wisata.
Upaya ini perlu melibatkan berbagai pihak, mulai dari lembaga pelatihan, pemandu wisata, pengelola destinasi, hingga unsur pencarian dan pertolongan.
Abby berharap penjajakan tersebut dapat berkembang menjadi program nyata yang mendukung peningkatan kompetensi pemandu.
Dengan bekal pengetahuan yang memadai, pemandu diharapkan mampu mengenali potensi bahaya, memahami prosedur keselamatan, serta melakukan tindakan awal sesuai kompetensinya ketika menghadapi keadaan darurat.
“Harapannya, wisata minat khusus dapat berjalan lebih aman dan nyaman bagi pemandu, wisatawan maupun pengelola. Karena itu, penguatan kapasitas dan pemahaman tentang keselamatan perlu menjadi perhatian bersama,” katanya.
Kasi Sumber Daya Kantor SAR Semarang, Asnawi Suroso, mengapresiasi langkah LPK Elang Khatulistiwa Indonesia dalam mendukung pengembangan SDM pariwisata, khususnya pada sektor wisata minat khusus seperti wisata alam pegunungan.
Asnawi menyampaikan bahwa Kantor SAR Semarang menyambut baik penjajakan kerja sama tersebut.
“Kolaborasi ke depan diharapkan dapat mendukung pengembangan kapasitas pemandu wisata yang tersertifikasi, sehingga mereka memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pekerjaan dan karakteristik destinasi yang ditangan,” katanya.
Penguatan kompetensi pemandu dinilai penting karena mereka berinteraksi langsung dengan wisatawan dan memahami kondisi lapangan selama perjalanan.
Di kawasan pegunungan, misalnya, perubahan cuaca, karakter jalur, kondisi fisik peserta, hingga risiko tersesat atau mengalami cedera perlu diperhitungkan sejak tahap perencanaan perjalanan.
Kompetensi pemandu karena itu tidak cukup hanya mencakup penguasaan rute, kemampuan komunikasi, dan pengetahuan tentang destinasi.
Pemahaman pertolongan pertama, prosedur pelaporan insiden, komunikasi darurat, serta koordinasi dengan petugas SAR juga menjadi bagian penting dalam mendukung keselamatan perjalanan.
Dalam situasi darurat, pemandu perlu mampu memberikan pertolongan awal sesuai pelatihan dan batas kompetensinya, sekaligus menyampaikan informasi yang akurat kepada pihak berwenang.
Penanganan selanjutnya harus mengikuti prosedur keselamatan dan melibatkan personel yang memiliki keahlian serta kewenangan sesuai kebutuhan operasi.
Melalui penjajakan dengan Kantor SAR Semarang, LPK Elang Khatulistiwa Indonesia berharap terbuka peluang untuk mengembangkan pelatihan yang relevan dengan kebutuhan pemandu wisata alam terbuka.
Bentuk kegiatan yang dapat dibahas lebih lanjut antara lain peningkatan pengetahuan keselamatan, pertolongan pertama, pengenalan prosedur evakuasi, dan simulasi penanganan keadaan darurat.
Kerja sama tersebut masih berada pada tahap penjajakan. Namun, komunikasi lintas lembaga ini menjadi langkah awal untuk mendorong pengembangan SDM pariwisata yang lebih siap menghadapi risiko di lapangan.
Bagi industri wisata minat khusus, pemandu yang kompeten dan memahami aspek keselamatan merupakan bagian penting dari pelayanan profesional.
Pengalaman wisata yang baik tidak hanya ditentukan oleh keindahan destinasi, tetapi juga oleh kesiapan penyelenggara dalam mengelola risiko dan melindungi wisatawan.
Dengan membuka komunikasi bersama unsur SAR, LPK Elang Khatulistiwa Indonesia mendorong agar pengembangan kompetensi pemandu berjalan seiring dengan peningkatan standar keselamatan.
Ke depan, tindak lanjut dan bentuk kerja sama yang disepakati kedua pihak akan menentukan bagaimana penjajakan ini dapat diwujudkan menjadi program yang bermanfaat bagi SDM pariwisata.(Olpah Sari).
