Adaro dan Mitra Salurkan 18 Motor Perkuat Produktivitas Pertanian Tabalong
Kendaraan operasional diharapkan memudahkan penyuluh mendatangi sawah, ladang, dan perkebunan, termasuk wilayah yang memiliki akses cukup sulit seperti Tabalong, Kalsel. (Foto - Humas Adaro Indonesia).
Kolaborasi pemerintah daerah dan dunia usaha dalam memperkuat sektor pertanian di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, diwujudkan melalui penyerahan 18 unit sepeda motor operasional bagi Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL).
Dukungan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) PT Adaro Indonesia bersama mitra kerjanya, PT BUMA dan PT PPA, ini diharapkan meningkatkan mobilitas penyuluh sekaligus mendorong produktivitas dan kesejahteraan petani.
Penyerahan kendaraan operasional tersebut berlangsung di Aula Pendopo Bersinar Tabalong, Jumat (16/10/2026), dan dihadiri Bupati Tabalong Muhammad Noor Rifani, CSR Section Head PT Adaro Indonesia Yuri Budhi Sujalmi, serta jajaran pemerintah daerah dan perwakilan pihak terkait.
Bupati Tabalong Muhammad Noor Rifani mengatakan, penguatan sektor pertanian memiliki arti strategis bagi perekonomian daerah.
Menurut dia, sekitar 60 persen penduduk Tabalong menggantungkan hidup pada sektor pertanian dalam arti luas. Karena itu, peningkatan kesejahteraan petani menjadi salah satu kunci untuk menekan kemiskinan.
“Kami berasumsi, kalau kesejahteraan petani ini bisa kita tingkatkan, maka insyaallah kemiskinan di Tabalong akan menurun. Kuncinya di situ,” ujar Rifani.
Pemerintah Kabupaten Tabalong, lanjutnya, menjalankan berbagai upaya untuk mendukung kegiatan pertanian dari hulu hingga hilir.
Dukungan di sektor hulu mencakup penyediaan alat dan mesin pertanian (alsintan), bibit, normalisasi sungai menggunakan ekskavator amfibi, serta akses permodalan melalui program Kredit Tabalong Semarak (KTS) dengan bunga nol persen.
Sementara di sektor hilir, pemerintah daerah mendorong penyerapan hasil panen petani melalui perusahaan daerah (Perusda) dan program zakat tani bagi aparatur sipil negara (ASN).
Rangkaian kebijakan tersebut diarahkan untuk memperkuat kegiatan produksi sekaligus memperluas akses pasar bagi hasil pertanian masyarakat.
Dalam ekosistem tersebut, keberadaan penyuluh pertanian menjadi bagian penting untuk memastikan program pemerintah dapat menjangkau petani hingga ke lahan usaha mereka.
Kendaraan operasional diharapkan memudahkan penyuluh mendatangi sawah, ladang, dan perkebunan, termasuk wilayah yang memiliki akses cukup sulit.

CSR Section Head PT Adaro Indonesia Yuri Budhi Sujalmi menjelaskan, bantuan kendaraan tersebut berawal dari usulan Bupati Tabalong ketika pemerintah daerah dan perusahaan membahas kebutuhan program CSR.
Salah satu persoalan yang mengemuka adalah keterbatasan mobilitas penyuluh dalam menjalankan pendampingan langsung kepada petani.
“Tempat PPL itu bukan di gedung ber-AC, tapi di sawah, ladang, dan kebun karet dengan medan yang berat, apalagi saat turun hujan. Bantuan ini sangat menjawab kebutuhan Bapak, Ibu sekalian,” kata Yuri.
Ia menilai dukungan sarana operasional tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi kerja penyuluh di lapangan.
Dengan mobilitas yang lebih baik, pendampingan kepada petani diharapkan berjalan lebih efektif sehingga program peningkatan produksi pertanian dapat dilaksanakan secara optimal.
Bantuan 18 unit sepeda motor itu merupakan hasil kolaborasi PT Adaro Indonesia bersama mitra kerjanya, PT BUMA dan PT PPA.
Dalam penyerahan tahap pertama, sebanyak 15 unit motor diserahkan, sedangkan tiga unit lainnya dijadwalkan menyusul.
Kolaborasi ini juga memiliki relevansi dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan. Lebih dari 80 persen masyarakat di wilayah Ring 1 yang disebut dalam program tersebut bekerja di sektor pertanian.
Penguatan produktivitas pertanian karena itu menjadi salah satu bidang yang berkaitan langsung dengan penghidupan masyarakat setempat.
Mewakili para penerima manfaat, Ketua Tim Kerja Penyuluh Pertanian Kabupaten Tabalong, Khotim, mengingatkan agar kendaraan operasional dirawat dan digunakan untuk mendukung peningkatan kinerja penyuluh.
Menurut dia, bantuan sarana harus diikuti hasil kerja yang dapat diukur melalui perkembangan produksi pertanian.
“Peningkatan kinerja bukan omong kosong, harus dibuktikan dengan data dan realita. Peningkatan produksi untuk pertanaman reguler harus di angka 7,0. Selanjutnya untuk program PMAS seluas 500 hektar, target produksinya harus 10,0 agar Tabalong tetap swasembada pangan,” tegas Khotim.
Angka target produksi yang disampaikan tersebut menjadi bagian dari sasaran kerja penyuluh. Satuan dan indikator produksi perlu dipastikan dalam pelaporan teknis agar pencapaian program dapat dievaluasi secara terukur.
Dukungan kendaraan operasional ini diharapkan memperkuat hubungan antara kebijakan pertanian pemerintah daerah dan pelaksanaan pendampingan di lapangan.
Dengan mobilitas yang lebih memadai, penyuluh diharapkan dapat membantu petani menerapkan praktik budidaya, mengatasi persoalan produksi, serta meningkatkan hasil usaha tani.
Bagi dunia usaha, kolaborasi tersebut menunjukkan peran CSR dalam mendukung kebutuhan pembangunan daerah yang berkaitan langsung dengan mata pencaharian masyarakat.
Dampaknya akan semakin nyata apabila dukungan sarana diikuti pemanfaatan yang optimal, peningkatan produktivitas, dan perbaikan kesejahteraan petani secara berkelanjutan.
Sinergi Pemerintah Kabupaten Tabalong, PT Adaro Indonesia, PT BUMA, dan PT PPA diharapkan menjadi bagian dari upaya memperkuat ekonomi berbasis pertanian.
Keberhasilan program ini selanjutnya dapat dilihat dari efektivitas pendampingan penyuluh, perkembangan produksi, dan manfaat ekonomi yang dirasakan petani di Kabupaten Tabalong.(Olpah Sari).
