Asap Karhutla Menyelimuti Banua, Bank Kalsel Hadir Mengingatkan
Foto Ilustrasi - Dok Economic Travelling.Com.
Musim kemarau di Kalimantan Selatan tidak selalu datang hanya dengan panas yang menyengat.
Pada saat tertentu, langit Banua berubah keruh, jarak pandang menurun dan udara yang seharusnya menjadi ruang kehidupan justru membawa asap dari kebakaran hutan dan lahan.
Karhutla bukan sekadar persoalan titik api.
Di balik kepulan asap terdapat aktivitas masyarakat yang terganggu, anak-anak yang harus lebih berhati-hati ketika bermain di luar rumah, pekerja yang tetap harus menjalankan aktivitas di tengah udara yang kurang bersahabat, serta kelompok rentan yang menghadapi risiko kesehatan lebih besar.
Dalam situasi seperti itu, pesan sederhana dapat memiliki arti penting.
Bank Kalsel melalui komunikasi kepada masyarakat mengingatkan “Jaga kesehatan, gunakan masker” kepada Sobat AKSEL.
Pesan tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi memperlihatkan bahwa perhatian sebuah institusi keuangan tidak selalu harus berbicara mengenai kredit, tabungan, transaksi digital atau pertumbuhan bisnis.
Ada ruang lain yang juga penting: kepedulian terhadap masyarakat Banua.
Bagi kami, komunikasi seperti ini layak ditempatkan dalam perspektif yang lebih luas. Bank Kalsel merupakan bagian dari kehidupan ekonomi daerah. Nasabahnya adalah masyarakat yang sama-sama menghirup udara Banua, bekerja di ruang yang sama, bepergian di jalan yang sama dan menghadapi persoalan lingkungan yang sama.
Karena itu, ketika karhutla muncul, perhatian terhadap kesehatan masyarakat merupakan bagian dari kepedulian sosial yang relevan.
Namun, kepedulian tidak seharusnya berhenti pada imbauan.
Pesan untuk menggunakan masker memang penting, terutama bagi masyarakat yang harus tetap beraktivitas di luar ruangan. Tetapi karhutla merupakan persoalan yang kompleks. Dampaknya menyentuh kesehatan, pendidikan, transportasi, produktivitas pekerja hingga aktivitas ekonomi masyarakat.
Perusahaan daerah dengan jaringan luas seperti Bank Kalsel memiliki ruang untuk mengambil peran lebih jauh.
Bank dapat memperkuat edukasi mengenai perlindungan kesehatan ketika kualitas udara memburuk, membangun kampanye lingkungan secara konsisten, mendukung komunitas dan relawan yang bergerak di lapangan, hingga mengembangkan program tanggung jawab sosial yang berkaitan dengan pemulihan lingkungan.
Bank Kalsel tidak perlu mengambil alih tugas pemerintah atau lembaga penanggulangan bencana. Perannya tetap berada dalam kapasitas sebagai institusi perbankan. Tetapi sebagai bank pembangunan daerah, ada nilai sosial yang dapat dibangun melalui kepedulian terhadap persoalan yang secara langsung dirasakan masyarakat.
Karhutla juga memberikan pelajaran bahwa pembangunan ekonomi tidak dapat dipisahkan dari kualitas lingkungan.
Aktivitas ekonomi membutuhkan manusia yang sehat. Dunia usaha membutuhkan mobilitas masyarakat. Perbankan membutuhkan nasabah yang dapat beraktivitas secara normal. Ketika asap mengganggu kesehatan dan ruang gerak masyarakat, dampaknya pada akhirnya dapat merembet ke berbagai sektor ekonomi.
Karena itu, menjaga lingkungan bukan semata agenda ekologis.Ia juga merupakan bagian dari menjaga fondasi ekonomi daerah.
Pesan Bank Kalsel kepada masyarakat agar menjaga kesehatan dan menggunakan masker menjadi salah satu bentuk komunikasi publik yang sederhana. Tetapi pesan tersebut akan memiliki dampak lebih besar apabila diteruskan dengan gerakan yang konsisten dan terukur.
Misalnya, kampanye kesehatan dan keselamatan selama musim karhutla, dukungan terhadap kelompok masyarakat terdampak, edukasi bagi komunitas, maupun program penghijauan dan pemulihan lingkungan yang dilakukan secara berkelanjutan.
Masyarakat Banua tentu tidak hanya membutuhkan bank yang hadir ketika membutuhkan layanan keuangan.
Masyarakat juga membutuhkan institusi yang memahami persoalan di sekelilingnya.
Ketika asap memenuhi udara Banua, kepedulian menjadi bagian dari pelayanan sosial. Dan ketika kepedulian itu diterjemahkan menjadi tindakan yang nyata, kehadiran Bank Kalsel akan memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar sebuah pesan di media sosial.
Karhutla mungkin merupakan persoalan yang tidak bisa diselesaikan oleh satu institusi. Pemerintah, dunia usaha, masyarakat, komunitas, aparat dan seluruh pemangku kepentingan harus bergerak bersama.
Tetapi setiap institusi tetap memiliki ruang untuk berbuat.
Bank Kalsel telah memulai dari sebuah pesan sederhana jaga kesehatan, gunakan masker.
Pesan itu patut diteruskan menjadi kepedulian yang lebih luas: jaga masyarakat, jaga lingkungan, dan jaga Banua.
Sebab bank pembangunan daerah pada hakikatnya tidak hanya tumbuh bersama angka-angka ekonomi, tetapi juga bersama masyarakat yang menjadi bagian dari perjalanan pertumbuhan tersebut.(M.Irfani).
