Siapa Juara Lomba Kampung Merah Putih, Ini Datanya !

0
JUARA KAMPUNG MERAH PUTIH 2026

Setelah melalui proses penilaian secara komprehensif oleh tim juri profesional, para pemenang Lomba Kampung Merah Putih Kota Banjarmasin akhirnya diumumkan.

Panitia yang merupakan kolaborasi Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Banjarmasin bersama Pusat Pendidikan Wawasan Kebangsaan (PPWK) menetapkan sejumlah RT sebagai pemenang dalam dua kategori lomba, yakni Kampung Lawas dan Kampung Hanyar.

Pengumuman para pemenang dilakukan pada 24 September 2026 oleh Kepala Badan Kesbangpol Kota Banjarmasin, Ahmad Muzaiyin.

Penetapan tersebut disaksikan langsung Ketua Panitia Lomba, Bambang Budiyanto, yang juga merupakan salah satu pengurus utama PPWK.

Lomba ini tidak sekadar mempertemukan kawasan permukiman untuk beradu tampilan lingkungan.

Penilaian dilakukan untuk melihat sejauh mana masyarakat mampu membangun lingkungan yang bersih, tertata dan nyaman, sekaligus menjaga kehidupan sosial serta semangat kebersamaan di tengah masyarakat.

Dari hasil penilaian tersebut, sejumlah RT berhasil mencatatkan diri sebagai yang terbaik di masing-masing kategori.

 

Untuk kategori Kampung Lawas, Juara I diraih Teluk Dalam RT 50, Kecamatan Banjarmasin Tengah.

Juara II diraih Sungai Jingah RT 17, Kecamatan Banjarmasin Utara, sedangkan Juara III diraih Belitung Utara RT 01, Kecamatan Banjarmasin Barat.

Sementara untuk kategori juara harapan, Teluk Tiram RT 29, Kecamatan Banjarmasin Barat, meraih Harapan I dan Melayu RT 06, Kecamatan Banjarmasin Tengah, meraih Harapan II.

Pada kategori Kampung Hanyar, Juara I diraih Sungai Andai RT 31, Kecamatan Banjarmasin Utara.

Juara II ditempati Banua Anyar RT 18, Kecamatan Banjarmasin Timur, sedangkan Juara III diraih Pemurus Luar RT 18, Kecamatan Banjarmasin Timur.

Untuk kategori harapan, Basirih Selatan RT 11, Kecamatan Banjarmasin Selatan, meraih Harapan I dan Mantuil RT 19, Kecamatan Banjarmasin Selatan, meraih Harapan II.

Penilaian Tidak Sekadar Melihat Fisik Kampung

Ketua Panitia Lomba Kampung Merah Putih, Bambang Budiyanto, mengatakan proses penilaian dilakukan dengan melihat berbagai aspek yang menggambarkan kondisi sebuah lingkungan.

Menurut Bambang, lomba tersebut sejak awal tidak dirancang semata-mata untuk mencari kawasan yang paling bersih atau paling menarik secara visual.

Ada aspek kebersamaan warga, kepedulian terhadap lingkungan, semangat gotong royong serta kemampuan masyarakat menjaga dan mengembangkan lingkungan tempat mereka tinggal.

“Lomba Kamaratih ini bukan semata-mata mencari juara, tetapi bagaimana membangun kesadaran masyarakat bahwa lingkungan yang bersih, tertata dan nyaman itu dimulai dari warga sendiri,” kata Bambang.

Ia mengatakan, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting karena lingkungan pada akhirnya tidak mungkin dirawat hanya melalui program pemerintah.

Warga merupakan pihak yang setiap hari tinggal, beraktivitas dan berinteraksi di lingkungan tersebut. Karena itu, keberhasilan menjaga lingkungan sangat bergantung pada kesadaran dan partisipasi masyarakat.

Antusiasme warga dari berbagai kawasan, menurut Bambang, menunjukkan bahwa semangat untuk memperbaiki lingkungan masih tumbuh di tingkat masyarakat.

 

Karakter setiap kawasan memang berbeda.

Kepala Badan Kesbangpol Kota Banjarmasin, Ahmad Muzaiyin menjelaskan Kampung Lawas tumbuh dari sejarah panjang permukiman Banjarmasin. Sementara Kampung Hanyar hadir bersama perkembangan kawasan perumahan dan pertumbuhan kota.

Namun keduanya memiliki kebutuhan yang sama: lingkungan yang sehat, bersih, tertata dan memiliki masyarakat yang peduli.

“Kami ingin semangat gotong royong itu terus tumbuh, baik di kampung-kampung tradisional maupun di kawasan perumahan,” ujarnya.

Pembagian kategori Kampung Lawas dan Kampung Hanyar memberikan gambaran bahwa wajah permukiman Banjarmasin terus bergerak.

Kampung Lawas menyimpan karakter permukiman tradisional yang tumbuh bersama perjalanan kota. Di dalamnya terdapat hubungan sosial antarwarga, aktivitas ekonomi masyarakat dan berbagai tradisi kehidupan kampung yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Sementara Kampung Hanyar menggambarkan perkembangan permukiman baru yang tumbuh mengikuti kebutuhan masyarakat perkotaan.

Keduanya memang berbeda dari sisi bentuk maupun karakter.

Namun ketika berbicara mengenai lingkungan, persoalannya kembali kepada hal yang sama  bagaimana warga merawat ruang hidupnya.

Sebab lingkungan yang bersih tidak lahir hanya dari pembangunan fisik. Ia membutuhkan kebiasaan. Membutuhkan kepedulian. Dan yang paling penting, membutuhkan kesediaan warga untuk melakukan sesuatu secara bersama-sama.

Gang yang bersih, halaman yang tertata, fasilitas lingkungan yang terawat hingga ruang tempat warga berinteraksi merupakan bagian kecil dari wajah sebuah kota.

“Sering kali wajah kota justru tidak terlihat dari gedung-gedung tinggi atau jalan utama. Wajah kota terlihat dari gang-gang kampung. Terlihat dari halaman rumah. Terlihat dari warga yang bergotong royong membersihkan lingkungan. Dan terlihat dari bagaimana masyarakat menjaga tempat tinggal mereka sebagai ruang hidup bersama,” pungkasnya.

Karena itu, pengumuman pemenang Lomba Kampung Merah Putih bukan sekadar mencatat siapa yang meraih Juara I, Juara II atau Juara III.

Di balik daftar pemenang itu ada cerita tentang warga yang mau bergerak, lingkungan yang terus dibenahi dan semangat kebersamaan yang berusaha dipertahankan.

Sebab kota yang baik tidak hanya dibangun melalui kebijakan dan proyek besar. Kota juga tumbuh dari kampung-kampungnya. Dan kampung yang hidup adalah kampung yang warganya masih peduli.(Ridzky Husna).

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!