DI DEPAN KAMERA, DI TENGAH PERISTIWA

0
RISANTA GANTENG SEKALI

Oleh : Muhammad Risanta

Selasa malam itu, Pelabuhan Trisakti Bandarmasih Banjarmasin masih ramai.

Lampu-lampu pelabuhan memantul di permukaan air, suara kendaraan sesekali terdengar dari kejauhan, beberapa petugas masih bergerak menjalankan tugasnya, sementara di sudut lain para jurnalis duduk dengan laptop, telepon genggam, kamera dan berbagai peralatan siaran yang sejak pagi menjadi bagian dari pekerjaan mereka.

Saya sendiri memilih duduk sebentar, menikmati kopi setelah seharian berada di lapangan. Tubuh sebenarnya sudah meminta istirahat, tetapi suasana pelabuhan membuat mata masih sulit diajak benar-benar berhenti.

Beberapa hari terakhir tempat ini menjadi ruang kerja saya. Saya tidak sedang menunggu kapal untuk berlayar, melainkan menunggu kabar tentang perkembangan pencarian korban KM Virgo Transport 8 yang mengalami musibah di perairan Laut Jawa.

Tentu kabar dari tim SAR, petugas di lapangan, keluarga korban, sekaligus perkembangan apa yang perlu segera disampaikan kepada masyarakat melalui layar televisi.

Bersama puluhan jurnalis dari berbagai media, saya harus terus standby, karena dalam sebuah peristiwa besar seperti ini informasi dapat berubah dalam hitungan menit dan satu perkembangan kecil sekalipun bisa memiliki arti yang sangat besar bagi keluarga yang sedang menunggu.

Dua bulan terakhir memang terasa seperti tidak memiliki jeda dalam kehidupan sebagai Jurnalis. Sebuah profesi yang saya nikmati dan syukuri hingga usia di atas limapuluh tahu sudah.

 

Penulis saat Live Report Kebakaran Hutan dan Lahan di Banjarbaru. (Foto – Risanta).

Karhutla membawa saya ke berbagai lokasi kebakaran hutan dan lahan, menyaksikan asap yang menggantung di atas permukiman, melihat petugas berjibaku memadamkan api, mengamati dampaknya terhadap masyarakat, transportasi, kesehatan dan aktivitas pendidikan, sekaligus mencoba memahami siapa saja yang berada di balik perjuangan panjang memadamkan api ketika sebagian besar masyarakat mungkin hanya melihat kepulan asap dari kejauhan.

Belum selesai satu rangkaian liputan, perhatian kemudian berpindah kepada tragedi KM Virgo Transport 8, dari panas api dan kepulan asap saya masuk ke suasana pelabuhan, kapal, laut, keluarga korban dan operasi pencarian, dari medan yang panas dan berdebu menuju ruang penantian yang tidak kalah melelahkan secara emosional.

Di antara dua peristiwa besar itu, saya berkali-kali harus berdiri di depan kamera dan melakukan live report untuk CNN Indonesia. Wajah saya kemudian muncul di layar televisi nasional, menyampaikan perkembangan peristiwa langsung dari lokasi kejadian.

Bagi pemirsa, pekerjaan itu mungkin terlihat sederhana seorang reporter berdiri, memegang mikrofon, lalu berbicara selama beberapa menit kepada anchor di studio.

Padahal, sebelum kamera dinyalakan, terdapat rangkaian pekerjaan yang panjang dan sering kali tidak terlihat oleh pemirsa, mulai dari mencari informasi, mengecek data, menghubungi narasumber, memastikan lokasi, membaca perkembangan terbaru, mengamati suasana sekitar, menunggu konfirmasi hingga menyusun kalimat di dalam kepala agar seluruh informasi tersebut dapat dirangkai menjadi laporan yang jelas dan mudah dipahami dalam waktu yang sangat terbatas.

Tidak ada kesempatan membuka kembali naskah seperti ketika menulis berita untuk media cetak. Tidak ada ruang untuk menghapus kalimat yang salah setelah terucap, dan tidak ada tombol undo ketika sebuah informasi sudah keluar dari mulut dan didengar publik.

Inilah yang menurut saya, salah satu wajah jurnalistik televisi yang paling menarik sekaligus paling menegangkan siaran langsung pandangan mata, atau eye-witness report.

Dalam terminologi penyiaran, eye-witness report merupakan metode ketika reporter melaporkan peristiwa secara langsung dari lokasi kejadian sehingga pemirsa memperoleh informasi melalui pengamatan dan pengalaman reporter yang berada di lapangan.

Reporter dalam kondisi seperti itu sesungguhnya menjadi perpanjangan mata dan telinga publik. Pemirsa yang berada jauh dari lokasi seolah diajak berdiri di tempat yang sama, melihat apa yang dilihat reporter, mendengar suara yang terdengar di lapangan, memahami situasi berdasarkan fakta yang tersedia dan memperoleh gambaran tentang apa yang sedang berlangsung.

Konsep tersebut terdengar sederhana ketika dijelaskan di ruang kelas, tetapi pelaksanaannya menjadi sangat berbeda ketika seorang reporter benar-benar berada di tengah peristiwa.

Ketika berada di lokasi kebakaran, misalnya, saya harus memperhatikan arah asap, aktivitas pemadaman, kondisi masyarakat, akses menuju lokasi, suara kendaraan, gerakan petugas dan berbagai detail lain yang mungkin tidak seluruhnya masuk ke dalam bingkai kamera.

Lalu saat berada di Pelabuhan Trisakti, perhatian berpindah kepada aktivitas operasi SAR, kapal yang terlibat, keluarga korban, perkembangan pencarian, informasi dari otoritas dan dinamika yang terjadi di sekitar pelabuhan.

Semua berlangsung bersamaan, sementara reporter harus mampu memilah mana yang penting, mana yang sudah terverifikasi dan mana yang masih membutuhkan konfirmasi.

 

Penulis ketika memberikan laporan pandangan mata tentang pencarian korban kecelakaan KM Virgo.

Karena itu, live report sesungguhnya bukan sekadar kemampuan berbicara di depan kamera. Ia membutuhkan observasi yang tajam, konsentrasi, pengetahuan lapangan, kemampuan menyusun informasi, penguasaan bahasa, pengendalian emosi serta kecepatan mengambil keputusan ketika keadaan berubah dengan cepat.

Dalam situasi breaking news, kemampuan tersebut menjadi semakin penting karena tekanan waktu bertemu dengan risiko kesalahan informasi.

Dalam perspektif psikologi komunikasi, situasi semacam ini berkaitan dengan beban kognitif yang tinggi, ketika seseorang harus memproses banyak informasi secara bersamaan, menentukan mana yang relevan, mengingat data penting, menyusun respons dan menyampaikannya secara verbal dalam waktu yang sangat singkat.

Reporter televisi mengalami kondisi tersebut hampir setiap kali melakukan live dari lokasi peristiwa besar. Karena itu, reporter yang berdiri di depan kamera sebenarnya sedang melakukan pekerjaan intelektual yang cukup kompleks, meskipun dari layar televisi pekerjaan tersebut terlihat sederhana.

Saya sering mengatakan kepada mahasiswa bahwa kamera televisi tidak boleh membuat seorang jurnalis kehilangan fungsi utamanya sebagai pencari fakta. Wajah boleh berada di layar, tetapi pikiran harus tetap bekerja. Kita tidak sedang menjadi aktor, tetapi kita sedang menjalankan fungsi jurnalistik.

Perbedaan itu penting karena seorang reporter dapat berbicara dengan lancar, memiliki intonasi yang baik dan terlihat percaya diri di depan kamera, tetapi semua kemampuan tersebut tidak banyak berarti apabila informasi yang disampaikan tidak akurat.

Dalam liputan bencana, persoalannya bahkan menjadi jauh lebih serius karena informasi yang keliru dapat memengaruhi keputusan masyarakat, menimbulkan kepanikan atau memberikan harapan yang tidak semestinya kepada keluarga korban.

Karena itu, semakin cepat sebuah peristiwa bergerak, semakin kuat pula kebutuhan seorang jurnalis untuk berhenti sejenak, memeriksa kembali informasi dan memastikan fakta sebelum menyampaikannya kepada publik.

Cepat tidak sama dengan tergesa-gesa. Aktual tidak berarti boleh mengabaikan verifikasi, dan live report bukan ruang untuk berbicara berdasarkan dugaan.

Saya merasakan sendiri tantangan tersebut dalam dua bulan terakhir. Karhutla, misalnya, bukan sekadar persoalan api yang terlihat menyala. Di baliknya terdapat data mengenai luasan terbakar, titik panas, lokasi kejadian, kondisi cuaca, arah angin, vegetasi, akses pemadaman, dampak terhadap penerbangan, kesehatan masyarakat, aktivitas pendidikan dan kehidupan warga.

 

Para Jurnalis lintas media santai sejenak menunggu info terbariu identifikasi jenazah korban kecelakaan KM Virgo Transport 8.

Sementara dalam tragedi kapal, informasi jauh lebih sensitif karena menyangkut manifest penumpang, korban ditemukan, korban selamat, korban meninggal, proses evakuasi, identifikasi, operasi penyelaman, kondisi kapal, cuaca serta keputusan tim SAR. Setiap informasi memiliki konsekuensi sehingga seluruhnya membutuhkan verifikasi.

Di depan kamera, kita mungkin hanya memiliki waktu satu atau dua menit untuk menjelaskan sebuah perkembangan, tetapi sebelum satu menit itu dimulai, seorang reporter bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengumpulkan, membandingkan dan memastikan informasi.

Ada pekerjaan panjang di balik kalimat pendek yang terdengar sederhana di televisi, dan justru bagian pekerjaan yang tidak terlihat itulah yang sampai sekarang masih saya nikmati.

Saya menikmati proses menunggu narasumber, mengamati suasana, berbicara dengan petugas, bertanya kepada warga, membandingkan keterangan, mencari dokumen, mengecek kembali angka dan mencoba memahami sebuah peristiwa secara utuh sebelum menyampaikannya kepada publik.

Ada kepuasan tersendiri ketika fakta yang semula samar perlahan menjadi jelas, ketika berhasil menemukan narasumber yang tepat atau ketika percakapan sederhana dengan petugas, relawan, pedagang kopi maupun keluarga korban justru membuka sudut pandang yang tidak terlihat dari meja redaksi.

Dua bulan terakhir kembali mengingatkan saya bahwa jurnalisme lapangan adalah sekolah kehidupan yang tidak pernah benar-benar selesai.

Dari api saya belajar tentang ketahanan manusia menghadapi bencana, dari asap saya belajar bahwa dampak sebuah peristiwa bisa jauh lebih luas daripada apa yang terlihat kamera, dari laut saya belajar tentang ketidakpastian dan penantian, dari keluarga korban saya belajar tentang bagaimana sebuah berita tidak pernah sekadar angka atau data, sementara dari petugas, relawan dan sesama jurnalis saya belajar bahwa di balik setiap operasi besar selalu ada manusia yang bekerja dalam keterbatasan tenaga, waktu dan keadaan.

Menjadi mata dan telinga publik bukan sebuah ungkapan yang ringan. Ada tanggung jawab besar di baliknya.

Ketika reporter mengatakan, “Saat ini saya berada di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin,” pemirsa sebenarnya sedang mempercayakan sebagian persepsinya tentang peristiwa kepada reporter tersebut.

Apa yang kita pilih untuk terlihat, apa yang kita pilih untuk dikatakan dan apa yang kita pilih untuk tidak dikatakan akan ikut membentuk pemahaman publik.

Karena itu, eye-witness reporting menuntut kejujuran terhadap apa yang benar-benar dilihat dan diketahui. Kalau yang terlihat adalah asap, katakan asap. Kalau yang terlihat petugas melakukan penyisiran, sampaikan penyisiran.

Kalau data korban masih menunggu proses identifikasi, katakan bahwa data tersebut masih menunggu proses identifikasi. Dan apabila sebuah informasi belum terkonfirmasi, jangan dipoles seolah-olah sudah menjadi fakta.

Kemampuan mengatakan “belum diketahui” terkadang jauh lebih profesional daripada memaksakan jawaban yang memang belum tersedia.

Bagi saya, itu merupakan salah satu ukuran kematangan seorang jurnalis. Semakin lama berada dalam profesi ini, saya justru semakin berhati-hati terhadap informasi yang terdengar terlalu cepat, terlalu dramatis atau terlalu sempurna, karena pengalaman mengajarkan bahwa kenyataan di lapangan hampir selalu lebih rumit daripada judul berita.

Di tengah kesibukan tersebut, saya sering menemukan momen-momen kecil yang membuat pekerjaan jurnalistik tetap terasa manusiawi, salah satunya seperti malam di Pelabuhan Trisakti ketika saya duduk minum kopi bersama Om Alek Tagana, Ustadz Arifin dari Rumah Zakat, Bang Amrizuna dari Basarnas yang juga kawan kuliah S2 saya, Maulana dari Radar Banjarmasin dan beberapa kawan lainnya. Di tengah meja ada wadai pais pisang dan kentang goreng panas.

Percakapan mengalir begitu saja, kadang membicarakan perkembangan pencarian korban, kadang masuk kepada persoalan pekerjaan, lalu berbelok menjadi cerita lama yang membuat kami tertawa.

Mungkin beginilah cara orang-orang lapangan bertahan menghadapi pekerjaan yang berat. Setelah berjam-jam berhadapan dengan tragedi, mereka membutuhkan sedikit ruang untuk bernapas. Kopi menjadi semacam jeda, bukan untuk melupakan musibah yang sedang terjadi, melainkan untuk mengembalikan tenaga agar esok hari dapat kembali bekerja dengan kepala yang lebih jernih.

Saya memandang teman-teman yang duduk di sekitar meja itu dan merasa bahwa profesi jurnalistik sesungguhnya memiliki keluarga yang cukup luas.

Kami berasal dari media yang berbeda, memiliki tugas berbeda dan mungkin memiliki cara pandang yang tidak selalu sama, tetapi ketika berada di lokasi bencana, kami memiliki kebutuhan yang sama yakni mendapatkan informasi yang benar dan menyampaikannya kepada publik dengan cara yang bertanggung jawab.

Di luar sana mungkin orang hanya melihat reporter ketika wajahnya muncul di televisi.

Yang tidak terlihat adalah ketika seorang reporter menunggu berjam-jam di bawah terik matahari, berdiri di tengah asap, duduk di lantai pelabuhan, mencari colokan listrik, mengejar sinyal, menahan lapar, memeriksa telepon berkali-kali atau tertidur sebentar di dalam kendaraan sebelum kembali bekerja. Begitulah sebagian wajah jurnalistik yang jarang masuk layar.

Saya tidak sedang mengeluh. Justru sebaliknya, saya bersyukur masih mendapatkan kesempatan untuk mengalami semua itu.

Begitulah pekerjaan ini berjalan. Seorang jurnalis melihat peristiwa dengan matanya, mendengarnya dengan telinganya, memprosesnya dengan pikirannya, memverifikasi informasi sebelum menyampaikannya, lalu berusaha memahami manusia yang berada di balik setiap berita.

Mata melihat dan telinga mendengar. Pikiran memverifikasi, lalu hati memahami. Demikianlah seorang jurnalis berbicara kepada publik.

Selama empat hal itu masih berjalan bersama, saya kira saya masih punya alasan untuk berdiri di lapangan. Dan selama masih ada spirit untuk mencari, memahami dan menyampaikan kebenaran, usia tidak perlu menjadi alasan untuk berhenti.

Penulis adalah Jurnalis CNN Indonesia & Akademisi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!