Api di Darat, Abu di Langit, Pesawat Pun Terhenti

0
RISANTA PESAWAT BATAL TERBANG

Oleh : Muhammad Risanta

Saya baru sehari pulang dari Jakarta, setelah sebelumnya beberapa hari berada di Pontianak, tiba-tiba saja sudah mendapat kabar bahwa Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Tangerang, Banten, yang selama ini lebih akrab disebut Cengkareng, menutup sementara operasional penerbangan.

Kabarnya bukan karena persoalan teknis pesawat, bukan pula karena cuaca buruk seperti hujan lebat atau badai, melainkan karena abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mulai mengganggu ruang udara dan dianggap membahayakan keselamatan penerbangan.

Bagi orang yang setiap hari tidak berurusan dengan bandara, berita seperti itu mungkin hanya lewat di layar ponsel. Sebuah informasi singkat bandara ditutup, penerbangan terganggu, penumpang diminta menunggu.

Tetapi bagi orang yang sedang berada di perjalanan, apalagi yang sudah berpindah dari satu kota ke kota lain, persoalannya tidak sesederhana itu. Satu penerbangan berhenti bisa membuat penerbangan berikutnya ikut berantakan, tiket harus dijadwal ulang, pekerjaan tertunda, pertemuan batal, barang bawaan tertahan, dan yang paling sederhana sekaligus paling menyebalkan adalah seseorang bisa tiba-tiba tidak tahu harus tidur di mana malam itu.

Saya cukup sering berada di bandara. Sebagai penumpang maupun sebagai wartawan, bandara bagi saya bukan sekadar tempat datang dan pergi.

 

Ichal Iloenk dan Deni Susanto,Jurnalis Kalsel yang bertahan di Pontianak karena tak ada penerbangan di Bandara Internasional Supadio Pontianak menuju Jakarta. (Foto – Ichal).

Di sana kita bisa melihat macam-macam wajah Indonesia. Ada orang yang berangkat membawa koper besar karena hendak bekerja berbulan-bulan di kota lain, ada keluarga yang hendak pulang kampung, serta mahasiswa yang mengejar jadwal kuliah.

Bahkan ada pengusaha kecil yang membawa barang dagangan.Demikian pula pula wartawan seperti saya yang kadang harus berpindah kota hanya karena sebuah peristiwa sedang terjadi di tempat lain.

Karena itu saya langsung teringat kepada dua kawan sesama jurnalis dari Banjarmasin, Ical Iloenx dan Deny Susanto, yang saat itu juga mengalami situasi tidak mengenakkan akibat terganggunya penerbangan.

Mereka tertahan di Pontianak dan harus bermalam di Bandara Supadio. Bukan karena mereka sedang ingin menikmati suasana bandara lebih lama, tetapi karena perjalanan menuju Banjarmasin yang mereka tempuh membutuhkan penerbangan lanjutan melalui Jakarta.

Ketika jalur penerbangan terganggu, rencana perjalanan yang semula sederhana berubah menjadi urusan menunggu dan menunggu.

Saya membayangkan bagaimana rasanya tidur di bandara ketika kita sebenarnya sudah ingin segera sampai di rumah. Kursi bandara yang biasanya hanya menjadi tempat menunggu boarding berubah menjadi tempat merebahkan badan seadanya.

Koper menjadi bantal, jaket menjadi selimut, dan pengumuman dari pengeras suara menjadi suara yang terus terdengar di tengah malam.

Saya kemudian berpikir, betapa tipis sebenarnya jarak antara sebuah peristiwa alam dengan kehidupan sehari-hari manusia. Gunung meletus di satu tempat, tetapi dampaknya bisa terasa jauh di kota lain.

Abu yang tidak terlihat dari jendela rumah kita dapat membuat pesawat tidak bisa terbang. Dan ketika pesawat tidak terbang, persoalannya kemudian bergerak ke mana-mana, mengikuti manusia yang seharusnya berada di dalam pesawat itu.

BMKG mencatat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau pada awal September 2026 bergerak di beberapa lapisan atmosfer dan berdampak terhadap keselamatan penerbangan.

Pada 7 September, delapan bandara di Jawa dan Sumatra sempat ditutup sementara sebagai langkah mitigasi, termasuk Soekarno-Hatta. Penutupan itu bukan keputusan yang bisa dianggap berlebihan karena abu vulkanik memang berbahaya bagi mesin pesawat.

Saya tidak melihat persoalan ini sebagai sesuatu yang harus diperdebatkan dengan mengatakan bandara seharusnya tetap buka atau penerbangan seharusnya terus dipaksakan.

Keselamatan penerbangan jelas harus berada di atas kepentingan mengejar jadwal. Pesawat bukan kendaraan yang bisa begitu saja dipaksa berjalan ketika kondisi ruang udara tidak aman. Dalam perkara seperti ini, keputusan menghentikan penerbangan justru merupakan bentuk kehati-hatian yang harus dihargai.

Yang menarik bagi saya justru apa yang terjadi setelah pesawat berhenti.

Sebab ketika satu bandara ditutup, masalah tidak berhenti di landasan pacu. Ada penumpang yang harus mencari penerbangan pengganti, bersama maskapai yang harus mengatur ulang pesawat dan awak.

Bisa juga ada bandara lain yang tiba-tiba menerima limpahan penumpang, ada hotel yang mendadak penuh, ada kendaraan darat yang ikut diburu, dan ada keluarga yang terus-menerus menanyakan kepada orang yang mereka tunggu, “Jadi berangkat atau tidak?”

Bukan hanya kemampuan mendeteksi bahaya, tetapi kemampuan menjelaskan bahaya itu kepada masyarakat dan mengelola akibatnya dengan baik.

 

Foto Ilustrasi – General Manager Angkasa Pura, Stephanus Millyas Wardana, saat diwawancarai Reporter SCTV,  Fahmi De Musfa. Terkait penerbangan yang terdampak akibat bandara Soekarno Hatta di Cengkareng menutup penerbangan karena erupsi gunung anak Krakatau (Foto – Olpah Sari).

Kita sering menganggap persoalan penerbangan selesai ketika otoritas mengatakan, “demi keselamatan, penerbangan ditunda.”

Padahal bagi penumpang, kalimat itu justru baru membuka banyak pertanyaan. Sampai kapan? Penerbangan berikutnya kapan? Kalau tiket lanjutan hangus bagaimana? Bagaimana dengan penumpang yang sudah tiga kali transit? Bagaimana dengan orang tua, anak-anak, atau mereka yang sedang mengejar jadwal pengobatan dan pekerjaan?

Saya kira di sinilah ukuran ketahanan sebuah sistem transportasi terlihat. Bukan pada saat semuanya berjalan normal, karena dalam kondisi normal hampir semua sistem terlihat bagus.

Pesawat berangkat tepat waktu, bagasi datang, penumpang tersenyum, petugas bekerja seperti biasa. Ujian sesungguhnya justru datang ketika sesuatu yang berada di luar kendali manusia tiba-tiba mengganggu seluruh rangkaian itu.

Dan Indonesia bukan negara yang asing dengan situasi seperti ini.

Kita hidup di negeri yang secara geografis memang tidak pernah benar-benar jauh dari gangguan alam. Gunung api ada di mana-mana, gempa bumi bukan berita yang aneh, hujan lebat bisa datang tiba-tiba, banjir berulang di banyak daerah, dan pada musim tertentu kebakaran hutan serta lahan menjadi persoalan yang kembali muncul.

Gunung Anak Krakatau adalah fenomena alam. Kita tidak bisa menyalahkan manusia karena gunung memilih untuk erupsi.

Tetapi karhutla memiliki cerita yang berbeda. Ada unsur manusia yang jauh lebih besar di dalamnya, ada persoalan pengelolaan lahan, pengawasan, pembukaan lahan, perilaku membakar, kondisi gambut, penegakan aturan, sampai bagaimana pemerintah daerah dan pusat bekerja sebelum api membesar.

Kita sebenarnya sudah tahu bahwa musim kemarau akan datang, kita tahu kawasan gambut memiliki kerentanan tinggi terhadap kebakaran, kita tahu titik-titik yang setiap tahun menjadi langganan api.

Dan kita juga tahu asap bukan hanya mengganggu kesehatan tetapi bisa menutup jarak pandang dan mengganggu penerbangan, lalu mengapa ketika asap kembali menyelimuti langit kita masih seperti orang yang baru pertama kali menghadapinya?

Padahal pola itu sudah berulang dari tahun ke tahun. Tempatnya bisa berbeda, luasnya bisa berubah, nama kabupatennya bisa berganti, tetapi ceritanya hampir selalu sama.

Api muncul, asap menyebar, masyarakat mulai mengeluh, sekolah terganggu, udara memburuk, penerbangan mulai terkena dampak, petugas turun memadamkan, hujan kemudian datang dan keadaan perlahan membaik.

Setelah itu perhatian publik ikut turun, sampai musim kemarau berikutnya datang dan cerita yang sama dimulai kembali.

Bagi saya, justru inilah pekerjaan rumah kita bersama.

Bukan karena kita tidak tahu apa yang harus dilakukan, melainkan karena pengetahuan itu belum selalu berubah menjadi tindakan pencegahan yang konsisten.

Sebagai wartawan yang sudah cukup lama mengikuti berbagai peristiwa di daerah, saya melihat pola seperti ini berkali-kali. Kita sering lebih sibuk ketika api sudah membesar dibandingkan ketika tanda-tanda awalnya mulai muncul.

Padahal mencegah kebakaran tentu jauh lebih murah daripada memadamkannya setelah menjadi bencana. Yang mahal bukan hanya biaya mengirim personel dan peralatan pemadam, tetapi juga biaya sosial yang muncul kemudian.

Anak-anak tidak bisa belajar seperti biasa, warga menghirup udara yang tidak sehat, aktivitas ekonomi terganggu, petani dan pelaku usaha menghadapi kerugian, perjalanan masyarakat tersendat, sementara pemerintah harus kembali mengeluarkan energi dan anggaran untuk menangani persoalan yang sebenarnya sudah bisa diperkirakan sebelumnya.

Karena itu, ketika karhutla kembali terjadi, saya kira kita tidak cukup hanya menghitung berapa hektare lahan yang terbakar dan berapa titik panas yang terpantau.

Kita perlu bertanya lebih jauh mengapa api bisa muncul di kawasan yang sudah lama dikenal rawan, bagaimana pengawasan dilakukan sebelum kebakaran, seberapa cepat informasi sampai kepada petugas di lapangan, apakah masyarakat sekitar benar-benar dilibatkan, dan apakah setelah musim kebakaran selesai kita melakukan evaluasi yang sungguh-sungguh atau hanya menunggu hujan datang untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum kita tuntaskan.

Pertanyaan itu menjadi semakin penting ketika kita melihat asap bukan lagi sekadar persoalan lingkungan dan kesehatan, tetapi sudah masuk ke urusan transportasi udara.

Beberapa waktu lalu, misalnya, kabut asap akibat karhutla juga mengganggu penerbangan di sejumlah wilayah. Di Bandara Melalan, Kutai Barat, penerbangan sempat dibatalkan karena jarak pandang turun di bawah batas keselamatan. Artinya, kita sebenarnya sudah memiliki pengalaman bahwa asap di darat dapat berujung menjadi masalah di udara.

Kemudian datang erupsi Anak Krakatau.

Kali ini sumber gangguannya berbeda. Yang satu berasal dari perilaku dan tata kelola manusia terhadap lahan, sementara yang satu lagi berasal dari aktivitas gunung api yang memang tidak bisa kita kendalikan.

Namun keduanya bertemu pada satu ruang yang sama,ruang hidup masyarakat dan ruang udara yang digunakan untuk mobilitas manusia.

Saya kira ini yang sering luput kita lihat.

Bencana tidak selalu datang dalam bentuk rumah roboh atau jalan terputus. Kadang-kadang bencana hadir dalam bentuk jadwal penerbangan yang berubah.

Lalu seorang ibu yang kebingungan mencari penerbangan pengganti, seorang pekerja yang tidak bisa kembali ke kantornya, seorang mahasiswa yang terlambat masuk kuliah, atau dua orang wartawan seperti sahabat saya Ichal Iloenx dan Deni Susanto, yang akhirnya harus tidur di lantai bandara karena perjalanan pulang tidak lagi sesuai rencana.

Kita tidak bisa meminta gunung untuk berhenti meletus. Kita juga tidak mungkin memerintahkan abu vulkanik mengikuti jalur yang kita inginkan. Tetapi kita masih bisa memperbaiki cara kita menghadapi akibatnya.

Begitu pula dengan karhutla. Kita memang tidak bisa mengendalikan kemarau, tetapi kita bisa memperbaiki pengawasan lahan, memperkuat pencegahan, memastikan kawasan gambut dikelola dengan benar, mempercepat respons ketika api mulai muncul, dan yang tidak kalah penting, tidak menjadikan kebakaran sebagai kejadian tahunan yang baru dianggap serius setelah asap sudah masuk ke rumah-rumah warga.

Mungkin kita memang terlalu terbiasa dengan keadaan darurat.

Setiap tahun kita sudah tahu kemarau akan datang. Setiap tahun kita tahu ada kawasan yang rawan terbakar. Setiap tahun kita tahu asap bisa mengganggu kesehatan.

Kita juga tahu bahwa pada titik tertentu asap bisa mengganggu penerbangan. Semua pengetahuan itu sebenarnya sudah tersedia. Yang masih sering kurang adalah keberanian untuk bekerja lebih awal, sebelum keadaan memaksa kita bekerja lebih keras.

Saya teringat lagi kepada Ical dan Deny yang harus bermalam di Supadio. Bagi saya, cerita dua kawan itu mungkin terlihat kecil jika dibandingkan dengan angka ribuan penerbangan yang terdampak. Tetapi justru dari cerita kecil seperti itulah kita bisa melihat wajah sebenarnya dari sebuah gangguan transportasi.

Maka satu simpul yang saya kemukakan adalah yang kita bicarakan bukan hanya tentang api di darat atau abu di langit. Kita sedang bicara tentang seberapa serius kita belajar dari pengalaman sendiri.

Pesawat boleh berhenti ketika langit tidak aman. Tetapi negara, pemerintah, operator penerbangan, dan kita semua tidak boleh ikut berhenti berpikir bagaimana agar kejadian yang sama tidak selalu meninggalkan luka yang sama.

*Penulis adalah Jurnalis CNN Indonesia & Akademisi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!