Kekuatan Media, Etika dan Algoritma

0
RISANTA KEKUATAN MEDIA

Mengapa Sebuah Media Tidak Bisa Hanya Diukur dari Angka Viewer

Oleh: Muhammad Risanta SE MM
Jurnalis Senior | Akademisi | Pemerhati Media dan Ekonomi Digital

Sabtu barusan siang saya menerima beberapa masukan dari seorang sahabat jurnalis di Balikpapan, Mbak Rizkia (Koresponden Radio Elshinta Jakarta).

Awalnya pembicaraan kami hanya berkaitan dengan persiapan sebuah kegiatan nasional yang akan berlangsung pada September mendatang.

Sebuah diskusi ringan antarpekerja media yang sudah terbiasa membicarakan banyak hal, mulai dari dinamika lapangan, perkembangan industri pers, hingga perubahan perilaku masyarakat dalam mengonsumsi informasi.

Namun seperti banyak percakapan antarjurnalis yang sudah lama berada di dunia pemberitaan, pembicaraan sering kali bergerak lebih jauh dari agenda awal.

Kami kemudian membahas sesuatu yang sekarang menjadi perhatian besar dalam industri media bagaimana mengukur kekuatan sebuah media di tengah perubahan teknologi digital yang begitu cepat.

Algoritma, data analitik, jumlah pembaca, hingga angka viewer menjadi bagian dari percakapan yang tidak bisa dihindari.

Banyak perusahaan saat ini ketika memilih bekerja sama dengan media mulai melihat angka-angka digital sebagai salah satu pertimbangan utama.

Berapa jumlah pengunjung website, berapa banyak tayangan video, seberapa besar interaksi pembaca, hingga seberapa luas jangkauan sebuah konten.

Saya pun memahami dan memaklumi saja cara berpikir tersebut.

 

Foto Ilustrasi -Kepala Kantor Perwakilan BEI Kalimantan Selatan, Yuniar, bersama peserta Workshop Wartawan Daerah 2026. (Foto – Humas BEI).

Dalam dunia digital, data memang memiliki peran penting. Sebuah perusahaan tentu membutuhkan ukuran yang jelas ketika menentukan strategi komunikasi dan publikasi. Media juga harus mampu membaca perubahan zaman agar tidak tertinggal.

Namun dari sudut pandang seorang wartawan yang telah lebih dari tiga dekade berada di dunia jurnalistik, saya melihat ada satu hal yang perlu diluruskan.

Sebuah media tidak pernah bisa dinilai hanya dari satu angka.

Sebab media bukan sekadar mesin distribusi informasi yang mengejar jumlah klik. Media adalah institusi yang dibangun melalui proses panjang, melalui kerja wartawan di lapangan, ketelitian redaksi, keberanian mengangkat persoalan publik, serta kemampuan menjaga kepercayaan masyarakat.

Angka dapat menjelaskan berapa banyak orang membaca sebuah berita.

Namun angka tidak selalu mampu menjelaskan mengapa orang percaya kepada sebuah media.

Perubahan teknologi telah membawa industri media memasuki fase yang berbeda.

Dua puluh atau tiga puluh tahun lalu, kekuatan media sangat bergantung pada jaringan distribusi, reputasi koran atau stasiun televisi, serta kemampuan redaksi menghasilkan liputan yang dipercaya masyarakat.

Kini, perjalanan sebuah berita banyak dipengaruhi oleh sistem digital.

Algoritma menjadi salah satu faktor penting yang menentukan bagaimana sebuah konten ditemukan, disebarkan, dan dikonsumsi oleh publik.

Secara sederhana, algoritma bekerja melalui serangkaian proses membaca data perilaku pengguna.

Sistem melihat apa yang sering dibaca seseorang, berapa lama mereka melihat sebuah konten, topik apa yang mereka sukai, hingga bagaimana mereka berinteraksi terhadap sebuah informasi.

Dari proses tersebut, platform digital kemudian menyajikan konten yang dianggap paling relevan bagi pengguna.

Bagi media, perkembangan ini membuka peluang besar.

Media kecil memiliki kesempatan menjangkau pembaca lebih luas tanpa harus memiliki jaringan distribusi sebesar media nasional. Sebuah laporan dari daerah dapat dibaca oleh masyarakat di berbagai wilayah dalam waktu singkat.

Namun perubahan tersebut juga menghadirkan tantangan baru. Sebab algoritma tidak selalu memahami nilai jurnalistik.

Sesungguhnya Algoritma membaca perilaku pengguna saja. Sementara jurnalistik bekerja berdasarkan nilai kepentingan publik.Kalau mau jujur dua indikator ini tidak selalu berjalan searah.

Sebuah berita yang kontroversial, emosional, atau mengundang perdebatan sering kali mendapatkan perhatian besar. Sebaliknya, tulisan analisis mendalam yang membutuhkan waktu membaca lebih panjang belum tentu menghasilkan angka yang sama.

Jadi media benar-benar diuji dan dianalisa lebih dalam lagi. Apakah media hanya mengikuti apa yang disukai algoritma? Atau tetap menjaga kualitas jurnalistik meskipun tidak selalu menghasilkan angka tertinggi?

Sederhananya adala viewer Penting, tetapi Kepercayaan lebih panjang Umurnya.

Saya tidak menolak penggunaan data dalam industri media.

Justru media yang ingin bertahan harus memahami data. Media harus mengetahui siapa pembacanya dan memahami konten seperti apa yang dibutuhkan masyarakat.

 

Foto Ilustrasi – Wartawan Kalsel saat mewawancarai salah satu tokoh nasional, Ganjar Pranowo di Banjarbaru.

Saat ini kita tak mengelak, kalau media juga harus mampu menggunakan teknologi untuk memperluas jangkauan informasi.

Namun persoalannya muncul ketika angka viewer dianggap sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.

Pengalaman panjang di dunia jurnalistik menunjukkan bahwa popularitas dan kredibilitas adalah dua hal yang berbeda.

Popularitas dapat diperoleh dengan cepat dan sebuah berita bisa viral dalam hitungan jam.

Namun membangun kepercayaan membutuhkan waktu bertahun-tahun. Pembaca percaya kepada media bukan hanya karena berita tersebut muncul di layar mereka.

Pembaca percaya karena mereka mengetahui bahwa media tersebut memiliki standar kerja, memiliki tanggung jawab, dan memiliki komitmen terhadap kebenaran informasi.

Sebuah media yang serius membangun reputasi tidak hanya berpikir tentang berapa banyak orang yang membaca berita hari ini.

Media tersebut juga berpikir apakah pembaca masih mencari mereka ketika membutuhkan informasi penting di masa depan.

Ingat Jurnalisme Tidak Bisa Digantikan Angka Semata !

Dalam beberapa tahun terakhir, industri media menghadapi perubahan besar. Yang diikuti pula dengan berubahnya model bisnis dan perilaku pembaca yang ikut-ikutan berubah.

Nah perubahan ini muncul juga dengan cara berita diproduksi dan disebarkan juga berubah.Tetapi saya berpandangan lain, satu hal yang tetap sama adalah jurnalisme membutuhkan manusia.

Teknologi dapat membantu mengolah data sedang algoritma membantu distribusi.Disisi lainnya kecerdasan buatan (AI) dapat membantu proses produksi.

Tetapi kemampuan memahami persoalan manusia, membaca konteks sosial, menggali fakta, dan mengambil keputusan editorial tetap membutuhkan pertimbangan seorang jurnalis.

Seorang wartawan tidak hanya bertugas mencari informasi.Sosok ini harus memahami mengapa sebuah peristiwa penting bagi masyarakat.Jadi inilah yang membedakan antara berita sebagai produk digital dengan jurnalistik sebagai pekerjaan intelektual.

Di sebuah diskusi bersama Perhimpunan Jurnalis Ekonomi Banua- Bank Indonesia, tercetus satu fenomena bahwa persaingan digital membuat banyak media berlomba mendapatkan perhatian publik.

Namun perhatian tidak boleh diperoleh dengan mengorbankan etika. Karena itu meskipun sering ditentang, saya mengedepankan kecepatan tidak boleh mengalahkan ketelitian.

Judul tidak boleh dibuat sedemikian rupa sehingga menyesatkan pembaca. Informasi tidak boleh diproduksi hanya karena mengejar tren.

Sebab media memiliki tanggung jawab yang berbeda dengan platform hiburan biasa.

Satu pemberitaan dapat memengaruhi persepsi masyarakat terhadap seseorang, sebuah lembaga, bahkan kebijakan publik.

Karena itu, semakin besar kekuatan media, semakin besar pula tanggung jawab yang melekat di dalamnya.

Media yang kuat bukan hanya media yang memiliki pembaca banyak.

Media yang kuat adalah media yang mampu mempertahankan kepercayaan ketika informasi semakin sulit dibedakan antara fakta, opini, dan manipulasi digital.

Masa Depan Media Ada pada Keseimbangan

Apakah teknologi dan jurnalistik sebuah pilihan masa depan media ? Saya melihat masa depan media bukan berada pada pilihan antara teknologi atau jurnalistik.Menurut pandangan saya keduanya harus berjalan

Media yang menolak teknologi akan tertinggal. Namun media yang hanya mengejar algoritma tanpa menjaga nilai jurnalistik akan kehilangan identitasnya.

Perusahaan media sangat memerlukan data untuk memahami pembaca.Nah persoalannya juga pengalaman jurnalistik diperlukan untuk memahami manusia.

Algoritma dapat membantu sebuah berita sampai kepada jutaan orang. Namun hanya kualitas jurnalistik yang membuat pembaca tetap percaya.

Dalam perjalanan panjang sebagai wartawan, saya belajar bahwa reputasi media tidak dibangun oleh satu berita besar.

Reputasi dibangun melalui ribuan keputusan kecil yang dilakukan setiap hari kawan-kawan wartawan dalam ekosistem pers. Tentunya mereka memilih fakta yang benar, menjaga keseimbangan informasi, menghormati etika, dan tetap menempatkan kepentingan publik sebagai dasar pekerjaan.

Maka kekuatan media bukan hanya tentang seberapa banyak mata yang melihat sebuah berita.Melainkan seberapa dalam masyarakat mempercayai suara yang disampaikan.

Dan kepercayaan adalah aset paling mahal yang tidak bisa dibeli hanya dengan angka viewer.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!