Vision Board dan Godaan Membayangkan Masa Depan

0
ASPPI CINDY JAKARTA

Estetika Humanisme, Visi, Misi, dan Keberanian Mengubah Gambar Menjadi Kenyataan

Oleh: Cindy Kwanata

Mahasiswa Universitas Siber Asia

Awal tahun selalu membawa satu kebiasaan yang menarik di media sosial.

Orang-orang mulai menata kembali harapan mereka dalam bentuk gambar rumah yang ingin dimiliki, mobil yang diimpikan, perjalanan ke tempat yang belum pernah didatangi, karier yang ingin dicapai, hingga angka tertentu yang ingin tersimpan di rekening.

Semua potongan itu dirangkai menjadi satu kolase yang kemudian dikenal sebagai vision board. Saya pun pernah membuatnya.

Ada perasaan menyenangkan ketika melihat berbagai impian tersusun rapi dalam satu papan.

Rasanya seperti sedang membuka jendela kecil menuju masa depan. Foto rumah, perjalanan, pekerjaan, bahkan gaya hidup tertentu ditempelkan dengan harapan suatu hari nanti semua gambaran itu berubah menjadi kenyataan.

Namun setelah beberapa bulan, saya mulai bertanya kepada diri sendiri apakah semua gambar tersebut benar-benar menggambarkan visi hidup saya?

Atau jangan-jangan saya hanya sedang mengumpulkan gambar-gambar indah yang membuat masa depan terlihat menyenangkan, sementara saya sendiri belum sungguh-sungguh memikirkan jalan untuk mencapainya?

Pertanyaan itu memang lebih terdengar sederhana, tetapi semakin lama justru semakin mengganggu pikiran saya.

Sebab memiliki gambaran mengenai kehidupan yang kita inginkan ternyata belum tentu berarti kita telah memiliki visi.

Visi Tidak Berhenti pada Gambar

Salah satu hal yang menarik dari pembelajaran dalam mata kuliah Estetika Humanisme adalah cara melihat manusia sebagai pribadi yang memiliki kesadaran dan kehendak untuk menentukan arah hidupnya.

Dari pembelajaran tersebut saya mulai memahami bahwa visi tidak cukup hanya berupa gambar mengenai masa depan yang terlihat indah. Visi lahir dari pilihan yang disadari, dari sesuatu yang benar-benar dianggap penting, kemudian diterjemahkan menjadi tujuan yang ingin diperjuangkan.

Pemahaman itu membuat saya melihat vision board dengan cara yang sedikit berbeda.

Papan visi memang dapat membantu seseorang membayangkan tujuan. Gambar rumah dapat mengingatkan seseorang pada keinginannya memiliki tempat tinggal sendiri.

Foto perjalanan dapat menjadi pengingat bahwa ada tempat yang ingin dikunjungi. Bahkan gambar seseorang yang sedang bekerja di bidang tertentu dapat memberikan dorongan ketika kita sedang merasa lelah dengan proses yang sedang dijalani.

Persoalannya muncul ketika gambar tersebut berhenti sebagai gambar.

Kita sering melihat vision board yang sangat indah beredar di media sosial. Rumah dengan interior yang sempurna, mobil impian, perjalanan ke berbagai negara, pekerjaan dengan jabatan tertentu, tubuh ideal, sampai gaya hidup yang terlihat begitu tertata.

Semuanya tampak menyenangkan untuk dilihat. Tetapi ketika gambar-gambar tersebut menjadi tujuan pribadi, pertanyaan yang lebih berat justru muncul lagi, apa yang harus saya kerjakan agar semua itu tidak berhenti sebagai keinginan?

Misalnya, ketika seseorang menempelkan foto rumah impian, sebenarnya ada cerita panjang yang mengikuti gambar tersebut. Ada penghasilan yang harus dikelola dengan disiplin, ada kebutuhan yang mungkin harus dikurangi, ada tabungan yang harus disisihkan secara rutin, dan mungkin ada keterampilan atau pekerjaan yang perlu ditingkatkan agar kemampuan finansialnya ikut tumbuh.

Begitu pula dengan keinginan untuk melanjutkan pendidikan, memperoleh pekerjaan tertentu, atau melakukan perjalanan yang selama ini hanya dilihat melalui layar ponsel.

Semuanya membutuhkan proses yang tidak selalu menarik untuk diceritakan, bahkan sering kali justru terasa membosankan ketika sedang dijalani.

Mungkin karena alasan itu kita lebih mudah menyukai gambar hasil akhirnya daripada membicarakan proses yang menyertainya.

Kita Sering Menyukai Hasil, tetapi Tidak Banyak Melihat Prosesnya

Saya merasa persoalan ini cukup dekat dengan kehidupan generasi seusia saya, termasuk kehidupan pribadi sendiri. Kita tumbuh dalam lingkungan yang hampir setiap hari memperlihatkan pencapaian orang lain.

Melalui media sosial, kita dapat melihat seseorang mendapatkan pekerjaan impian, membeli rumah, bepergian ke luar negeri, menyelesaikan pendidikan, membuka usaha, atau mencapai target finansial tertentu hanya melalui beberapa foto dan video.

Yang tampil di layar biasanya adalah hasil yang sudah jadi.

Kita melihat seseorang duduk di dalam mobil yang baru dibelinya, tetapi tidak melihat bagaimana dia mengatur penghasilannya selama bertahun-tahun.

Kita melihat seseorang berlibur ke tempat yang indah, tetapi tidak tahu berapa lama dia menabung sebelum membeli tiket pesawat. Kita melihat seseorang tampil sebagai profesional yang percaya diri, tetapi tidak menyaksikan malam-malam ketika orang tersebut belajar, gagal dalam wawancara, memperbaiki keterampilan, kemudian mencoba lagi.

Media sosial memang memberikan inspirasi, tetapi pada saat yang sama membuat proses panjang di balik sebuah pencapaian menjadi hampir tidak terlihat.

Akibatnya, kita mudah memiliki gambaran tentang kehidupan yang kita inginkan tanpa benar-benar memahami harga yang harus dibayar untuk mendapatkannya.

Vision board kemudian menjadi menarik karena menawarkan sesuatu yang sangat manusiawi kesempatan untuk melihat masa depan dalam bentuk yang lebih konkret.

Kita dapat menatap gambar tersebut setiap pagi dan membayangkan bagaimana rasanya berada dalam kehidupan yang tergambar di hadapan kita.

Namun, semakin sering saya melihat papan visi saya sendiri, semakin saya menyadari bahwa gambar hanya memberi arah imajinasi. Gambar belum memberi tahu saya berapa banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk sampai ke sana.

Persoalan sesungguhnya bukan terletak pada gambar, melainkan pada hubungan kita dengan gambar tersebut.

Apakah gambar itu membuat kita bergerak, atau justru membuat kita merasa sudah melakukan sesuatu hanya karena telah membayangkannya?

Humanisme Mengembalikan Visi kepada Diri Sendiri

Dalam perspektif humanisme, manusia tidak semestinya menjalani hidup hanya dengan mengikuti apa yang sedang populer. Manusia memiliki kemampuan untuk berpikir, memilih, menilai, dan menentukan apa yang benar-benar bermakna bagi dirinya.

Pemikiran itu menjadi penting ketika vision board mulai berubah menjadi bagian dari tren.

Sebuah rumah bergaya minimalis mungkin sedang populer. Perjalanan ke destinasi tertentu mungkin sedang memenuhi linimasa media sosial. Mobil tertentu mungkin sedang menjadi simbol keberhasilan. Gaya hidup tertentu mungkin terlihat begitu menarik karena banyak orang memperlihatkannya sebagai gambaran kehidupan yang ideal.

Namun, apakah semua itu benar-benar merupakan keinginan kita? Pertanyaan tersebut tidak selalu mudah dijawab.

Kadang-kadang kita mengira menginginkan sesuatu karena terlalu sering melihatnya. Sesuatu yang berulang kali muncul di depan mata perlahan terasa seperti sesuatu yang seharusnya kita miliki.

Kita kemudian memasukkannya ke dalam papan visi, bukan karena telah memikirkannya secara mendalam, melainkan karena bentuk kehidupan tersebut terlihat menarik ketika dijalani orang lain.

Padahal, visi pribadi seharusnya berangkat dari pertanyaan yang lebih jujur mengenai siapa diri kita, nilai apa yang kita anggap penting, dan alasan apa yang membuat sebuah tujuan layak diperjuangkan.

Rumah bukan hanya tentang bangunan.Jadi pekerjaan bukan sekadar jabatan.Demikian pula perjalanan bukan sekadar foto dan pendidikan bukan sekadar gelar. Semua memiliki makna yang berbeda bagi setiap orang.

 

 

 

Bagi seseorang, rumah besar mungkin menjadi simbol keberhasilan karena ingin memberikan kehidupan yang lebih baik kepada keluarga. Bagi orang lain, rumah sederhana yang tenang justru lebih dekat dengan kehidupan yang diinginkan.

Ada seseorang yang merasa bahagia ketika bekerja di perusahaan besar, sementara orang lain justru menemukan kepuasan ketika membangun usaha kecil yang memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Karena itu, visi yang baik tidak harus terlihat mengesankan bagi orang lain. Visi yang baik adalah sesuatu yang memiliki arti bagi orang yang memilihnya dan bersedia menjalani proses untuk mencapainya.

Misi Membuat Visi Berjalan

Kesadaran tersebut kemudian membuat saya mencoba mengubah vision board yang sudah saya buat. Saya tidak membuang gambar-gambar yang ada karena bagi saya gambar tersebut tetap memiliki fungsi sebagai pengingat.

Saya hanya menambahkan bagian lain yang sebelumnya tidak terpikirkan yakni tentang  langkah-langkah kecil yang harus saya lakukan agar gambar tersebut memiliki hubungan dengan kehidupan sehari-hari.

Ketika saya menempelkan gambar sebuah perjalanan, misalnya, saya mulai menghubungkannya dengan kebiasaan menabung setiap bulan.

Selanjutnya saya memasukkan gambaran mengenai pendidikan atau pekerjaan yang saya inginkan, saya mencoba memikirkan keterampilan apa yang harus saya tingkatkan dan waktu yang harus saya sisihkan untuk belajar.

Bahkan untuk tujuan yang terlihat sederhana, saya mulai bertanya apakah kebiasaan saya sekarang benar-benar mendukung tujuan tersebut atau justru membuat saya semakin jauh.

Perubahan itu memang kecil, tetapi cara saya memandang papan visi ikut berubah. Sebelumnya saya lebih sering melihat gambar dan membayangkan kehidupan yang menyenangkan.

Sekarang saya melihat gambar yang sama sambil mengingat pekerjaan yang harus saya lakukan. Ada sesuatu yang berbeda ketika sebuah impian mulai memiliki jadwal, kebiasaan, ukuran kemajuan, dan komitmen yang harus dijalankan.

Saya tidak lagi hanya bertanya, “Apa yang saya inginkan?”

Saya mulai bertanya, “Apa yang sudah saya kerjakan untuk mendekat ke sana?”

Pertanyaan kedua terasa lebih sederhana, tetapi jawabannya jauh lebih menegaskan arti kata jujur.

Sebab visi memberikan arah, sedangkan misi membuat seseorang berhadapan dengan kenyataan sehari-hari. Visi mungkin dapat dirumuskan dalam satu kalimat, tetapi misi menuntut kita mengulang tindakan yang sama ketika motivasi sedang turun, ketika hasil belum terlihat, atau ketika tujuan yang sebelumnya terasa menarik mulai terasa berat.

Jangan Sampai Masa Depan Hanya Menjadi Wallpaper

Saya tidak menganggap vision board sebagai sesuatu yang buruk. Justru sebaliknya, saya melihatnya sebagai alat visual yang cukup membantu, terutama bagi orang yang lebih mudah memahami sesuatu melalui gambar. Melihat sebuah tujuan secara terus-menerus dapat membantu seseorang mengingat apa yang sedang diperjuangkan.

Namun, papan visi seharusnya menjadi pemicu, bukan pengganti proses menyusun visi dan misi.

Setelah gambar dipasang, pertanyaan berikutnya harus muncul dalam kehidupan sehari-hari. Jika seseorang ingin memiliki kemampuan baru, apakah minggu ini ada waktu yang benar-benar digunakan untuk belajar?

Jika seseorang ingin memperbaiki kondisi keuangan, apakah sudah ada perubahan dalam cara mengelola penghasilan? Jika seseorang ingin mencapai tujuan pendidikan atau pekerjaan tertentu, apakah ada langkah yang benar-benar dilakukan untuk mendekati tujuan tersebut?

Generasi Milenial dan Gen Z hidup dalam budaya visual yang sangat kuat. Kita terbiasa menerima informasi melalui gambar, video, infografik, dan berbagai bentuk konten yang membuat sesuatu terlihat cepat, menarik, dan mudah dipahami. Karena itu, vision board menjadi bagian yang cukup masuk akal dari budaya tersebut.

Yang perlu dijaga adalah jangan sampai kita lebih sibuk mengatur tampilan masa depan daripada mempersiapkan diri untuk menjalaninya.

Sebuah foto perjalanan seharusnya mengingatkan kita untuk mulai mengatur keuangan. Foto pekerjaan impian seharusnya mendorong kita memperbaiki kemampuan.

Gambar rumah seharusnya mengajak kita memahami kondisi finansial dan membuat perencanaan yang realistis. Dengan begitu, gambar tidak lagi hanya menjadi sesuatu yang kita lihat setiap hari, melainkan pengingat bahwa ada pekerjaan nyata yang menunggu untuk dilakukan.

Visi yang Benar-Benar Milik Kita

Mungkin pertanyaan paling penting sebelum membuat vision board bukanlah “Apa yang ingin saya miliki?” melainkan “Kehidupan seperti apa yang sebenarnya ingin saya jalani?”

Jawabannya mungkin tidak selalu terlihat mewah.

Ada orang yang memang ingin memiliki rumah besar. Ada yang ingin membangun bisnis. Ada yang ingin melanjutkan pendidikan setinggi mungkin.

Bisa jadi ada pula yang hanya ingin memiliki pekerjaan yang cukup untuk hidup tenang bersama keluarga. Semua pilihan tersebut sah selama lahir dari kesadaran, bukan sekadar dari keinginan untuk terlihat berhasil di hadapan orang lain.

Menurut hemat saya inilah makna humanisme menjadi penting dalam pembicaraan mengenai visi dan misi.

Manusia memiliki kebebasan untuk menentukan arah hidup, tetapi kebebasan tersebut sekaligus membawa tanggung jawab. Makanya saat kita memilih sebuah tujuan, kita juga memilih proses yang menyertainya. Tidak mungkin kita hanya mengambil bagian yang indah dari sebuah impian dan mengabaikan bagian yang melelahkan.

Mungkin vision board memang membuat masa depan terlihat lebih dekat. Namun gambar tetaplah gambar sampai seseorang memutuskan untuk mengubahnya menjadi tindakan.

Bagi saya, humanisme dalam merancang masa depan bukan tentang seberapa indah seseorang membayangkan kehidupan yang ingin dimiliki. Yang lebih penting adalah keberanian untuk mengenali diri sendiri, menentukan tujuan berdasarkan nilai yang diyakini, kemudian bersedia menjalani proses yang mungkin tidak selalu terlihat menarik.

Sebuah gambar dapat menunjukkan ke mana kita ingin pergi. Sebuah visi memberi alasan mengapa kita memilih tujuan itu. Misi mengingatkan kita pada pekerjaan yang harus dilakukan.

Selebihnya, kehidupan nyata meminta kita untuk berjalan dengan kaki sendiri.

Dan mungkin pertanyaan yang paling jujur setiap kali kita melihat vision board bukan lagi, “Apakah saya akan mendapatkan semua yang ada di papan ini?”

Melainkan, “Hari ini, apa yang sudah saya lakukan untuk membuat salah satu gambar itu semakin dekat dengan kenyataan?”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!