Remaja Tidak Kekurangan Nasihat, Mereka Membutuhkan Kesempatan
Buku “Kai Mo..” diserahkan Buyung Amrullah kepada Emmy Ariani, ST, Kepala Bidang Pengelolaan Koleksi Bahan Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Selatan, dalam momentum Hari Remaja Internasional, 12 Agustus 2026.(Foto-Buyung).
Remaja sering menjadi sasaran berbagai nasihat mulai harus rajin belajar, disiplin, memiliki keterampilan, menjauhi pergaulan buruk dan mampu bersaing menghadapi perubahan zaman.
Namun, yang sering luput dari kita, sudahkah lingkungan menyediakan ruang yang cukup bagi mereka untuk belajar, mencoba dan mengembangkan kemampuan?
Pertanyaan itu menjadi relevan dalam peringatan Hari Remaja Internasional 12 Agustus 2026 yang tahun ini mengangkat tema “Different Contexts, Common Aspirations” atau “Konteks yang Berbeda, Aspirasi yang Sama.”
Tema tersebut menggambarkan kenyataan bahwa remaja di berbagai negara tumbuh dalam situasi yang berbeda. Ada yang hidup di tengah kemajuan teknologi dan persaingan pendidikan yang ketat.
Ada pula yang masih bergulat dengan kemiskinan, keterbatasan akses pendidikan, perubahan iklim, konflik dan minimnya infrastruktur digital.
Kondisinya berbeda, tetapi harapannya memiliki banyak persamaan. Mereka ingin mendapatkan pendidikan bermutu, pekerjaan yang layak, kehidupan yang aman, kesempatan mengembangkan potensi dan ruang untuk menyampaikan gagasan.
Rendahnya minat baca, keterampilan dan produktivitas masih menjadi tantangan dalam menyiapkan generasi muda menghadapi dunia kerja. Kesenjangan antara kompetensi pencari kerja dengan kebutuhan perusahaan pun masih ditemukan.
Ada anak muda yang berhasil melewati proses seleksi pekerjaan, tetapi kemudian mengalami kesulitan ketika mulai menjalankan tugas. Keluhan mengenai kemampuan berkomunikasi, bekerja dalam tim, menyelesaikan persoalan dan beradaptasi dengan lingkungan kerja masih sering terdengar.

Namun, menyebut generasi muda sebagai “tidak kompeten” tanpa melihat proses yang membentuk mereka juga bukan cara yang cukup adil.
Pemerhati sosial sekaligus Direktur Linkub Indonesia, Buyung Amrullah, mengatakan pembentukan karakter dan kemampuan remaja berlangsung melalui proses panjang.
Keluarga, sekolah dan lingkungan sosial memiliki pengaruh besar terhadap cara seorang anak tumbuh sebelum memasuki usia remaja dan dunia kerja.
“Tidak elok jika kita hanya menyalahkan generasi muda. Akan lebih bijak apabila kita melihat lingkungan tempat mereka tumbuh dan berkembang,” kata Buyung.
Menurut dia, pola perilaku yang terbentuk sejak masa kanak-kanak dapat terbawa ketika seseorang memasuki usia remaja.
Jika lingkungan lebih banyak memberikan larangan daripada kesempatan untuk mencoba, perkembangan keberanian, kreativitas dan kemandirian bisa ikut terhambat.
Kondisi tersebut juga menjadi tantangan bagi remaja di Banjarmasin dan Kalimantan Selatan.
Persoalan literasi masih perlu mendapat perhatian. Begitu pula kesempatan bagi remaja untuk mengembangkan keterampilan, mengikuti organisasi, berkomunikasi dengan lingkungan yang lebih luas dan menghasilkan karya.
Belajar dari Sejarah Perjuangan
Linkub Indonesia mencoba menjawab persoalan itu melalui pendekatan literasi dan pembentukan karakter. Salah satunya lewat buku “Kai Mo..”, serial motivasi remaja yang mengangkat kisah perjuangan pada masa Revolusi Fisik setelah Kemerdekaan Republik Indonesia.
Buku tersebut mengambil kisah HM Badri, tokoh yang disebut sebagai pimpinan TKR/BKR yang memimpin pasukan dalam pertempuran bersejarah pada 7 Februari 1946 di Pagatan, Kabupaten Tanah Bumbu.
Kisah sejarah tersebut kemudian dikemas menjadi bahan bacaan yang dekat dengan dunia remaja. Pesan mengenai keberanian, perjuangan dan produktivitas disisipkan dalam cerita agar sejarah tidak berhenti sebagai catatan masa lalu.
Buku “Kai Mo..” diserahkan Buyung Amrullah kepada Emmy Ariani, ST, Kepala Bidang Pengelolaan Koleksi Bahan Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Selatan, dalam momentum Hari Remaja Internasional, 12 Agustus 2026.
Penyerahan buku tersebut turut disaksikan perwakilan mahasiswa Kabupaten Tanah Bumbu yang berada di Banjarmasin.
Menurut Buyung, “Kai Mo..” merupakan bagian dari program Buku Pandu Bujang Gesit sekaligus bahan pendamping edukasi bagi remaja.
Gagasan Bujang Gesit diarahkan untuk membangun tiga kebiasaan yaitu Pembelajar, Produktif dan Pemberdaya.
“Cerita sejarah Kai Mo kami gunakan sebagai motivasi agar remaja kembali mengenali nilai-nilai yang layak diperjuangkan. Kami ingin minat literasi tumbuh dan membaca menjadi bagian dari proses mereka membangun diri,” ujarnya.(M.Irfani).
