Secangkir Kopi, Sepanjang Cerita di Kedai Kopi Melayu Kertak Hanyar
Oleh: Ariyanti Nur Ramadhan
Mahasiswi STIE Pancasetia
Saya bukanlah seorang penikmat kopi sejati. Bahkan, kalau ditanya tentang jenis kopi, cara menyeduhnya, atau bagaimana membedakan karakter rasa dari setiap biji kopi, saya mungkin belum bisa banyak menjelaskan.
Bagi saya selama ini, kopi hanyalah minuman yang sering menemani orang-orang ketika berdiskusi, mengerjakan tugas hingga larut malam, atau sekadar duduk santai bersama teman.
Namun, pengalaman sederhana bersama teman-teman membuat saya melihat kopi dari sudut pandang yang berbeda.
Ternyata secangkir kopi tidak hanya berbicara tentang rasa pahit, aroma yang khas, atau sekadar minuman yang disajikan dalam sebuah cangkir.
Di balik kopi ada cerita, kebiasaan, perjalanan budaya, bahkan filosofi kehidupan yang menarik untuk dipahami.
Cerita itu bermula ketika teman-teman satu kelas saya, Aca, Aulia, dan Dewi mengajak saya berkunjung ke Kedai Kopi Melayu di kawasan Kertak Hanyar. Saat itu kami sedang mendapatkan tugas membuat poster dari dosen kami, Bapak Nico Kosasih.
Sebagai mahasiswa, tugas kuliah tentu menjadi bagian dari keseharian kami. Namun, di sela aktivitas akademik tersebut, kami ingin mencari suasana baru, tempat yang bisa memberikan inspirasi sekaligus menjadi pengalaman bersama.
Awalnya saya berpikir perjalanan kami hanya sekadar mencari tempat untuk duduk santai dan mengerjakan tugas. Tetapi ternyata Kedai Kopi Melayu memberikan pengalaman yang lebih dari itu.
Ada suasana berbeda yang membuat kami seperti diajak mengenal kembali sebuah kebiasaan lama yang tetap bertahan di tengah perubahan zaman.
Lokasinya tidak jauh dari kawasan Pasar Ahad Kertak Hanyar. Dari luar, kedai ini terlihat sederhana. Tidak seperti beberapa kedai kopi modern yang berlomba menghadirkan desain mewah dan tempat yang Instagramable. Namun justru kesederhanaan tersebut menjadi daya tariknya.
Ketika memasuki kedai, saya seperti menemukan suasana yang selama ini hanya saya lihat melalui cerita tentang kopitiam di Malaysia dan Singapura.
Meja sederhana, nuansa klasik, aroma kopi yang perlahan memenuhi ruangan, serta percakapan para pengunjung menghadirkan pengalaman yang berbeda.
Bagi kami, generasi Gen-Z, suasana seperti ini menjadi sesuatu yang menarik.
Di tengah perkembangan tempat nongkrong modern dengan berbagai konsep kekinian, menemukan kedai yang masih mempertahankan nuansa lama memberikan pengalaman tersendiri. Ada rasa ingin tahu tentang bagaimana sebuah budaya tetap hidup dan bisa diterima oleh generasi muda.

Pengalaman menikmati Kedai Kopi Melayu juga mengingatkan saya pada cerita-cerita yang sering disampaikan salah satu dosen kami, Bapak Muhammad Risanta.
Beliau dikenal sebagai dosen yang memiliki ketertarikan terhadap dunia pariwisata, budaya, dan cerita-cerita di balik kehidupan sehari-hari.
Salah satu kebiasaan beliau yang sering kami dengar adalah kecintaannya terhadap kopi.
Bukan sekadar minum kopi untuk menghilangkan rasa kantuk, tetapi menikmati kopi sebagai bagian dari perjalanan berpikir dan menikmati proses kehidupan. Kopi hitam tanpa campuran menjadi salah satu jenis kopi yang sering beliau nikmati.
Setiap kali mengajar di kelas, Pak Risanta sering menyelipkan cerita sederhana yang memiliki makna lebih dalam.
Bagi beliau, secangkir kopi bukan hanya minuman yang diminum kemudian selesai, tetapi ada filosofi kehidupan yang bisa dipelajari dari sebuah cangkir kopi.
Beliau pernah menjelaskan bahwa kopi mengajarkan manusia tentang kejujuran rasa. Kopi hitam hadir dengan karakter aslinya, tidak berusaha menyembunyikan rasa pahit yang menjadi cirinya.
Dari sana kita belajar bahwa kehidupan juga memiliki berbagai rasa. Ada kebahagiaan, ada kesulitan, ada perjalanan yang tidak selalu mudah, tetapi semuanya menjadi bagian dari proses yang membentuk seseorang menjadi lebih kuat.
Rasa pahit dalam kopi mengajarkan tentang kesabaran. Tidak semua hal dalam hidup dapat berjalan sesuai keinginan, tetapi setiap pengalaman sulit dapat menjadi pelajaran yang membuat seseorang semakin matang.
Warna hitam kopi juga memiliki makna tersendiri. Kesederhanaan warna tersebut mengingatkan bahwa sesuatu yang berharga tidak selalu harus terlihat mencolok. Ada keteguhan, kekuatan, dan karakter yang muncul dari sesuatu yang sederhana namun memiliki nilai.
Sementara aroma harum kopi mengingatkan tentang pentingnya bersyukur. Di tengah berbagai tantangan kehidupan, selalu ada hal baik yang tetap hadir dan patut dihargai.
Menurut Pak Risanta, proses membuat kopi juga memiliki pesan penting. Sebuah kopi yang nikmat membutuhkan waktu, mulai dari memilih biji, mengolah, hingga menyeduhnya dengan cara yang tepat. Tidak ada rasa terbaik yang hadir secara instan. Semua membutuhkan proses, seperti halnya beliau deskripsikan dalam mata Kuliah Manajemen Operasional.
Cerita tentang kopi dari beliau membuat saya semakin memahami bahwa secangkir kopi sebenarnya menyimpan banyak makna. Kopi bukan hanya tentang minuman yang menemani pagi atau sore hari, tetapi juga tentang bagaimana manusia menghargai perjalanan.
Di Kedai Kopi Melayu Kertak Hanyar, kami mengenal konsep kopitiam, sebuah budaya kedai kopi tradisional yang berkembang dari perpaduan budaya Melayu dan Tionghoa Peranakan. Kata kopitiam berasal dari kata “kopi” dalam bahasa Melayu dan “tiam” dalam bahasa Hokkien yang berarti kedai.
Menu yang kami nikmati pun memiliki cerita tersendiri. Ada Kopi O dengan rasa kopi yang kuat, Teh Tarik dengan ciri khas buih lembutnya, roti bakar srikaya dengan perpaduan rasa manis dan gurih, serta telur setengah matang yang menjadi salah satu menu khas kopitiam.
Bagi saya, perjalanan ke Kedai Kopi Melayu bukan hanya tentang menyelesaikan tugas membuat poster. Kami datang membawa sebuah pekerjaan kuliah, tetapi pulang membawa pengalaman baru tentang budaya, pertemanan, dan filosofi sederhana dari secangkir kopi.
Dari sebuah kedai kecil di Kertak Hanyar, saya belajar bahwa sebuah tempat bisa menyimpan banyak cerita. Kopi bisa mempertemukan manusia, membuka percakapan, dan menghadirkan pemikiran baru.
Mungkin itulah alasan mengapa kopi selalu memiliki tempat istimewa dalam kehidupan banyak orang. Karena dalam secangkir kopi, terkadang bukan hanya rasa yang kita nikmati, tetapi juga perjalanan, kenangan, dan cerita yang tumbuh bersama orang-orang di sekitar kita.
Sebab secangkir kopi tidak pernah benar-benar hanya tentang kopi. Di dalamnya ada proses, ada cerita, dan ada kehidupan yang sedang berjalan.


Kopi menjadi salah satu gaya budaya anak muda jaman sekarang ,berbagai macam kedai kopi sekarang makin berevolusi
Mantap pak risanta 👍👍