Menemukan Xiangqi di Sudut Kota Singapura
Catatan Perjalanan Melihat Cerita Lama dari Sebuah Papan Catur
Oleh: Muhammad Risanta
Sore itu, saya berjalan kaki bersama beberapa teman menyusuri kawasan kota Singapura. Tidak ada rencana khusus untuk mencari cerita.
Kami hanya ingin menikmati suasana kota dengan cara yang berbeda, berjalan santai-santai saja, melihat sisi kehidupan yang mungkin sering terlewatkan oleh wisatawan yang datang dengan jadwal perjalanan yang sudah tersusun.
Selama ini, Singapura lebih sering dikenal melalui wajah modernnya. Gedung pencakar langit, pusat bisnis, kawasan belanja, serta berbagai ikon wisata menjadi gambaran yang paling mudah ditemukan ketika orang berbicara tentang negeri kecil di Asia Tenggara ini.
Namun, perjalanan dengan berjalan kaki selalu memberikan pengalaman berbeda. Ada banyak sudut kota yang tidak terlihat dari balik kaca kendaraan atau dalam daftar tempat wisata populer.
Ada jalan-jalan kecil, bangunan lama, kedai sederhana, dan aktivitas masyarakat yang tetap berjalan dengan cara mereka sendiri.
Di salah satu kawasan lama itu, perhatian saya tertuju pada dua orang pria peranakan Tionghoa yang duduk berhadapan di sebuah meja kecil.
Di atas meja terdapat sebuah papan permainan dengan susunan bidak berwarna merah dan hitam.
Keduanya tampak serius memperhatikan papan di hadapan mereka. Sesekali salah satu dari mereka menggerakkan tangan mengambil bidak, lalu meletakkannya secara perlahan di posisi baru.
Saya berhenti sejenak memperhatikan. Awalnya saya tidak mengetahui permainan apa yang sedang mereka mainkan.
Bentuk papan dan susunan bidaknya terlihat berbeda dari permainan catur yang selama ini saya kenal. Ada rasa penasaran melihat cara mereka bermain yang begitu tenang. Permainan itu ternyata bernama Xiangqi, atau Catur China.
Saya bukan penggemar catur. Saya tidak pernah menghabiskan banyak waktu mempelajari teori permainan atau mengikuti pertandingan catur seperti para pemain yang benar-benar mendalaminya.
Tetapi pemandangan sore itu menarik perhatian saya karena Xiangqi menghadirkan sesuatu yang berbeda. Permainan tersebut seperti memiliki karakter sendiri.
Tidak seperti catur yang biasa saya lihat, Xiangqi menggunakan papan dengan garis-garis yang menggambarkan medan permainan. Setiap bidaknya memiliki nama dan peran yang berkaitan dengan pasukan kerajaan. Ada Jenderal, Penasehat, Gajah, Kuda, Kereta, Meriam, hingga Prajurit.
Yang menarik bagi saya bukan hanya bentuk permainannya, tetapi bagaimana dua orang itu menikmati prosesnya.
Mereka tidak terlihat terburu-buru mengejar kemenangan. Setiap langkah membutuhkan pertimbangan. Ada waktu untuk berpikir sebelum mengambil keputusan.
Pemandangan itu mengingatkan saya kepada sahabat saya, Sarjono, yang dikenal sebagai penggemar berat catur.
Beberapa kali kami berbincang tentang bagaimana permainan catur melatih seseorang membaca situasi, menyusun strategi, dan memahami bahwa setiap langkah memiliki konsekuensi.
Saya kemudian bercerita kepada Sarjono tentang pengalaman melihat Xiangqi di Singapura. Sebagai seseorang yang lama mengenal dunia catur, ia langsung tertarik ketika mendengar cerita tersebut.
Menurut Sarjono, Xiangqi memiliki daya tarik tersendiri karena permainan ini membawa unsur sejarah dan budaya yang kuat.
“Xiangqi itu menarik karena bukan hanya soal menang atau kalah. Pemain harus mampu membaca permainan, memperhitungkan langkah lawan, dan menentukan strategi dengan sabar. Setiap bidak memiliki fungsi masing-masing, sehingga pemain harus memahami bagaimana mengatur kekuatan yang ada,” ujar Sarjono.
Ia mengatakan, bagi orang yang menyukai catur, Xiangqi memberikan pengalaman yang berbeda karena memiliki pola permainan dan karakter strategi tersendiri.
“Yang membuat saya tertarik, Xiangqi punya cerita budaya. Kita tidak hanya melihat papan dan bidak, tetapi ada sejarah panjang masyarakat yang menjaga permainan ini tetap hidup,” katanya.
Mendengar penjelasan Sarjono, saya semakin memahami mengapa permainan itu tetap bertahan hingga sekarang.
Xiangqi bukan sekadar permainan yang dimainkan untuk mengisi waktu luang. Ia menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di berbagai tempat, permainan ini tetap hadir di taman kota, ruang komunitas, maupun tempat-tempat sederhana tempat orang berkumpul.
Mungkin bagi dua pria yang saya lihat sore itu, Xiangqi hanyalah aktivitas biasa. Mereka mungkin sudah memainkan permainan itu selama bertahun-tahun, sebagai kebiasaan bersama teman atau bagian dari kehidupan sehari-hari.
Namun, bagi seorang jurnalis yang sedang melakukan perjalanan, momen sederhana seperti itu justru memiliki nilai cerita.
Saya sering menemukan bahwa sebuah perjalanan tidak selalu memberikan pengalaman melalui tempat-tempat besar yang terkenal. Kadang cerita datang dari hal kecil yang terjadi di depan mata.
Dua orang yang duduk bermain Xiangqi di sudut kota Singapura mengingatkan saya bahwa budaya tidak selalu hadir dalam bentuk yang megah.
Karena bisa saja hadir melalui kebiasaan sederhana dan permainan lama, serta melalui orang-orang yang tetap melakukannya meskipun dunia terus berubah.
Sore itu, saya datang hanya untuk berjalan kaki menikmati suasana Singapura.
Namun, sebuah papan Xiangqi mempertemukan saya dengan cerita lain tentang kota ini yang human interest.
Cerita tentang tradisi yang masih bertahan, tentang manusia yang menjaga kebiasaan lama, dan tentang sebuah permainan yang ternyata memiliki perjalanan panjang jauh melampaui papan tempat bidaknya bergerak.

