LPK Elang Khatulistiwa Indonesia Jajaki Kolaborasi dengan Papua Explorer
Founder LPK Elang Khatulistiwa Indonesia, Abby, dengan Dr. Werner F. Weiglein dari Papua Explorer serta Patricia Sekar Manager Marketing LPK Elang Khatulistiwa Indonesia. (Foto - Humas LPK Elang Khatulistiwa Indonesia).
Upaya memperkuat dunia kepemanduan wisata alam terbuka terus dikembangkan melalui jejaring kerja sama lintas daerah dan internasional.
Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Elang Khatulistiwa Indonesia menjajaki kolaborasi strategis dengan Papua Explorer, salah satu penyelenggara ekspedisi dan tracking organizer yang memiliki pengalaman panjang dalam pengelolaan perjalanan wisata alam di Papua.
Pertemuan yang berlangsung antara Founder LPK Elang Khatulistiwa Indonesia, Abby, dengan Dr. Werner F. Weiglein dari Papua Explorer menjadi langkah awal membangun kerja sama berkelanjutan dalam pengembangan sumber daya manusia, asosiasi kepemanduan, serta peningkatan standar profesional wisata petualangan (adventure tourism) di Indonesia.
Abby mengatakan, Papua memiliki potensi wisata alam yang luar biasa dengan karakter destinasi yang membutuhkan kemampuan khusus dalam pengelolaan perjalanan. Menurutnya, keberadaan pemandu wisata alam profesional menjadi faktor penting agar kekayaan alam Indonesia dapat dikembangkan secara aman, berkualitas, dan tetap menjaga prinsip konservasi.
“Kerja sama ini bukan sekadar memperkenalkan destinasi, tetapi bagaimana membangun kompetensi para pemandu wisata alam Indonesia agar memiliki standar profesional, memahami keselamatan perjalanan, budaya lokal, serta memiliki wawasan konservasi,” ujar Abby di Jakarta, Senin (03/08/2026).
Menurut Abby, pengalaman Papua Explorer dalam mengelola ekspedisi di berbagai kawasan Papua menjadi referensi penting bagi pengembangan program kepemanduan yang sedang dibangun oleh LPK Elang Khatulistiwa Indonesia.
Papua, dengan bentang alam pegunungan, hutan tropis, lembah, hingga jalur ekspedisi kelas dunia seperti kawasan Carstensz, memiliki tantangan tersendiri yang membutuhkan pemandu dengan kemampuan teknis dan mentalitas pelayanan yang kuat.
Sementara itu, Dr. Werner F. Weiglein menyambut positif rencana kolaborasi tersebut. Ia menilai pengembangan wisata alam harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia yang terlibat di dalamnya.
Menurut Dr. Weiglein, seorang pemandu wisata alam tidak hanya bertugas menunjukkan jalur perjalanan kepada wisatawan, tetapi juga menjadi penghubung antara manusia, alam, dan budaya masyarakat setempat.
“Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah ekspedisi sangat bergantung pada kemampuan tim, pemahaman terhadap kondisi alam, serta kerja sama dengan masyarakat lokal,” ujar Dr. Werner
Melalui penjajakan kerja sama ini, kedua pihak membuka peluang pengembangan berbagai program, mulai dari pelatihan kepemanduan wisata alam, pertukaran pengalaman ekspedisi, penguatan asosiasi profesi, hingga promosi destinasi wisata petualangan Indonesia ke tingkat global.
LPK Elang Khatulistiwa Indonesia berharap kolaborasi dengan Papua Explorer dapat menjadi bagian dari langkah panjang menciptakan ekosistem wisata alam Indonesia yang lebih profesional. Tidak hanya menghadirkan perjalanan wisata, tetapi juga melahirkan tenaga pemandu yang memiliki kompetensi, integritas, dan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.
Dengan potensi alam Indonesia yang sangat besar, penguatan kapasitas sumber daya manusia menjadi kunci agar wisata petualangan mampu berkembang sebagai salah satu sektor unggulan pariwisata nasional. (Olpah Sari).
