Krisis Listrik Kalsel dan Pekerjaan Rumah Energi Banua

0
MAHASISWA KRISIS LISTRIK 2

Foto Ilustrasi - Dampak luas yang dirasakan masyarakat dari pemadaman listrik bergiliran. (Foto - Dok Redaksi Economic Travelling.Com).

Pemadaman listrik bergilir yang melanda Kalimantan Selatan dalam beberapa waktu terakhir menjadi pengingat bahwa energi bukan sekadar persoalan teknis antara pembangkit, jaringan transmisi, dan distribusi.

Listrik telah menjadi fondasi utama kehidupan modern. Ketika aliran listrik terganggu, hampir seluruh aktivitas masyarakat ikut terdampak.

Rumah tangga kehilangan kenyamanan, pelaku usaha menghadapi penurunan produktivitas, layanan publik terganggu, dan aktivitas ekonomi digital ikut tersendat.

Di tengah ekonomi yang semakin bergantung pada teknologi, listrik bukan lagi hanya kebutuhan dasar, tetapi telah menjadi infrastruktur strategis yang menentukan daya saing daerah.

Langkah Pemerintah Kota Banjarmasin yang membawa langsung aspirasi masyarakat ke Kantor Pusat PT PLN (Persero) di Jakarta patut diapresiasi.

Atas arahan Wali Kota Banjarmasin H. M. Yamin HR, Wakil Wali Kota Banjarmasin Hj. Ananda bersama Sekretaris Daerah Kota Banjarmasin Ichrom Muftezar menyampaikan berbagai keluhan masyarakat terkait dampak pemadaman listrik kepada jajaran PLN Pusat.

Pertemuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan listrik tidak dapat hanya dilihat sebagai gangguan operasional biasa. Ada kepentingan publik yang lebih besar yang harus dijawab dengan solusi sistemik.

 

Foto Ilustrasi – Kondisi sejumlah kawasan terdampak pemadaman listrik bergilir. (Foto – Dok Redaksi Economic Travelling.Com).

PLN menjelaskan bahwa gangguan pasokan listrik terjadi akibat kerusakan pada tiga pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), yaitu PLTU Asam-Asam, PLTU Stagen, dan PLTU Tabalong.

Gangguan tiga pembangkit tersebut menyebabkan defisit daya sekitar 250 megawatt (MW) pada sistem kelistrikan Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.

Angka tersebut memberikan gambaran bahwa sistem kelistrikan daerah masih memiliki tingkat kerentanan ketika terjadi gangguan pada sejumlah sumber pembangkit utama secara bersamaan.

Persoalan yang perlu menjadi perhatian bukan hanya bagaimana memperbaiki pembangkit yang mengalami gangguan, tetapi bagaimana membangun sistem energi yang lebih memiliki daya tahan menghadapi risiko.

Sebuah daerah yang ingin tumbuh secara ekonomi membutuhkan kepastian energi. Investasi, industri, UMKM, hingga layanan pemerintahan membutuhkan pasokan listrik yang stabil dan dapat diandalkan.

Krisis listrik hari ini seharusnya menjadi momentum evaluasi bersama bahwa pertumbuhan ekonomi membutuhkan fondasi energi yang kuat.

Dampak Ekonomi yang Tidak Boleh Diabaikan

Pemadaman listrik sering kali hanya dihitung dari sisi teknis, berapa lama listrik padam dan kapan kembali menyala.

Padahal, terdapat biaya ekonomi yang jauh lebih besar di balik gangguan tersebut.

Bagi pelaku UMKM, listrik mati dapat berarti kehilangan waktu produksi, kerusakan bahan baku, hingga hilangnya pendapatan harian.

Bagi sektor perdagangan dan jasa, gangguan listrik dapat menghambat transaksi, pelayanan pelanggan, dan aktivitas usaha.

Bagi rumah tangga, dampaknya juga nyata seali . Pemerintah Kota Banjarmasin menyampaikan adanya laporan masyarakat mengenai kerusakan peralatan elektronik, kematian ternak, hingga rusaknya stok Air Susu Ibu (ASI) yang disimpan dalam lemari pendingin.

Kasus-kasus tersebut memperlihatkan bahwa kualitas layanan listrik memiliki hubungan langsung dengan kesejahteraan masyarakat.

Dalam ekonomi modern, keandalan listrik menjadi bagian dari kualitas hidup.

Persoalan lain yang muncul adalah terganggunya jaringan komunikasi.

Wakil Wali Kota Banjarmasin Hj. Ananda menyampaikan bahwa saat ini pemadaman listrik juga berdampak terhadap jaringan telekomunikasi karena sejumlah Base Transceiver Station (BTS) kehilangan pasokan energi.

Fenomena tersebut memperlihatkan perubahan besar dalam kehidupan masyarakat.

Dulu, listrik padam mungkin hanya berarti rumah menjadi gelap. Kini, listrik padam dapat berarti komunikasi terputus, transaksi digital berhenti, layanan berbasis internet terganggu, dan aktivitas ekonomi mengalami hambatan.

Ketergantungan masyarakat terhadap teknologi membuat energi dan konektivitas menjadi dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

Karena itu, pembangunan infrastruktur energi harus berjalan seiring dengan perkembangan ekonomi digital.

Pekerjaan Rumah Energi Banua

PLN menyampaikan bahwa mulai 29 Juli 2026 durasi pemadaman bergilir akan dikurangi menjadi sekitar tiga jam. Perbaikan tiga PLTU ditargetkan selesai pada 3 Agustus 2026, sehingga sistem kelistrikan diharapkan kembali normal mulai 4 Agustus 2026.

Komitmen tersebut tentu menjadi harapan masyarakat.

Namun, pekerjaan rumah terbesar bukan hanya mengembalikan listrik seperti semula. Tantangan yang lebih penting adalah memastikan persoalan serupa tidak kembali terjadi.

Ada beberapa agenda strategis yang perlu menjadi perhatian.

Pertama, memperkuat cadangan daya listrik daerah. Sistem energi yang sehat harus memiliki ruang cadangan ketika terjadi gangguan pada pembangkit utama.

Kedua, mempercepat diversifikasi sumber energi. Ketergantungan pada beberapa pembangkit besar perlu dikurangi dengan mengembangkan berbagai sumber energi yang lebih beragam dan berkelanjutan.

Ketiga, meningkatkan kualitas pemeliharaan dan manajemen risiko pembangkit. Gangguan teknis pada pembangkit utama harus menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat sistem ke depan.

Keempat, memperbaiki pola komunikasi publik. Dalam situasi krisis, masyarakat membutuhkan informasi yang cepat, jelas, dan transparan agar tidak terjadi ketidakpastian.

Kalimantan Selatan memiliki potensi ekonomi besar. Daerah ini memiliki sektor pertambangan, perkebunan, perdagangan, pariwisata, UMKM, hingga ekonomi kreatif yang terus berkembang.

Namun seluruh potensi tersebut membutuhkan satu fondasi utama yang kita sebut energi yang andal.

Tidak ada ekonomi digital tanpa listrik. Tidak ada industri yang kompetitif tanpa energi yang stabil. Tidak ada pelayanan publik modern tanpa dukungan infrastruktur energi.

Karena itu, persoalan listrik harus ditempatkan sebagai bagian dari strategi pembangunan daerah.

PLN memiliki tanggung jawab memastikan kualitas layanan energi. Pemerintah daerah memiliki peran mendorong kebijakan dan investasi yang memperkuat ketahanan energi. Masyarakat juga perlu mendapatkan ruang informasi yang terbuka mengenai kondisi sistem kelistrikan.

Krisis listrik kali ini memang harus segera diselesaikan. Tetapi pelajaran terbesarnya adalah bahwa Banua membutuhkan sistem energi yang lebih siap menghadapi masa depan.

Lampu yang kembali menyala adalah kabar baik.

Namun pekerjaan yang lebih besar adalah memastikan bahwa ekonomi Banua tidak lagi mudah terganggu ketika energi menghadapi masalah.

Sebab daerah yang ingin maju tidak cukup hanya membutuhkan listrik yang menyala. Kalimantan Selatan membutuhkan energi yang kuat, stabil, dan mampu menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi jangka panjang.(Tim Redaksi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!