Dalamnya Lagu “Satu Dalam Ikatan”
Sebuah Lagu Mengajarkan Arti Bertahan
Oleh: Muhammad Risanta
Jurnalis Senior – Akademisi.
“Lihatlah sayang, aku sedang berjuang…
Berjuang untukmu, tak lelah siang malam…
Ku harap doamu takkan pernah putus untukku sayang…”
Saya tidak sedang mencari lagu baru sore itu.
Lagu itu justru datang dengan caranya sendiri. Bukan dari radio, bukan pula dari algoritma media sosial. Lagu itu hadir dari jemari anak bungsu saya, Muhammad Irfani, yang sedang duduk santai memainkan gitar di ruang keluarga.
Petikan demi petikan chord mengalun pelan. Saya yang semula sibuk menyelesaikan naskah berita spontan berhenti mengetik. Ada sesuatu yang berbeda dari melodi itu. Sederhana, tetapi menyentuh. Tidak berlebihan, namun mampu membuat hati ikut larut.
Lalu terdengar suara Maulana Ardiansyah.
“Rasakan bagaimana kasih sayangku…
Agar kau semakin yakin mencintaiku…
Jangan dengar orang berkata apa tentang diriku…”
Entah mengapa, sejak saat itu lagu “Satu Dalam Ikatan” seperti menemukan tempatnya sendiri dalam ruang-ruang sunyi yang menemani saya menulis.
Sejak puluhan tahun menjadi wartawan, saya terbiasa bekerja ditemani musik. Ada lagu yang hanya lewat sebagai hiburan, ada pula yang tinggal lebih lama karena mampu membangun suasana batin ketika merangkai kata. “Satu Dalam Ikatan” termasuk dalam kelompok kedua.
Kini lagu itu hampir selalu hadir ketika saya menyelesaikan artikel, esai, maupun feature jurnalistik.

Maulana Ardiansyah memiliki warna vokal yang unik.
Ada karakter khas anak muda yang terasa segar, tetapi tidak kehilangan kelembutan. Ia bernyanyi tanpa banyak ornamentasi yang berlebihan. Justru kesederhanaan itulah yang membuat lagu-lagunya terasa jujur.
Mungkin karena itu, musiknya tidak hanya disukai generasi muda.
Saya yang telah melewati usia lima puluh tahun pun dapat menikmatinya tanpa merasa sedang mendengarkan lagu yang “bukan zamannya”. Musik memang memiliki bahasa yang melampaui usia.
Makanya kata teman sejawat saya, Anang Fadillah (Jurnalis Senior Banjarmasin), sebuah lagu dibuat dengan kejujuran, pendengarnya tidak lagi dibatasi oleh generasi.
Maulana sendiri bukan nama baru di industri musik Indonesia.
Penyanyi muda kelahiran Lampung, 4 Mei 2002, itu lebih dahulu dikenal lewat berbagai lagu cover, terutama “Dermaga Biru”, yang melambungkan namanya di berbagai platform digital. Setelah itu, ia memilih membangun jalannya sendiri melalui karya-karya orisinal di bawah naungan TA Pro Music.
Pilihan tersebut bukan langkah yang mudah.Membawakan lagu orang lain sering kali lebih cepat mengundang perhatian. Namun, menciptakan identitas melalui karya sendiri membutuhkan keberanian dan konsistensi.
“Satu Dalam Ikatan” memperlihatkan bahwa keberanian itu mulai menemukan bentuknya.
Bahkan sebelum dirilis secara resmi, potongan lagunya telah digunakan dalam lebih dari 140 ribu video di media sosial. Fenomena itu menunjukkan bahwa lagu ini lebih dulu hidup di tengah pendengar sebelum akhirnya hadir di berbagai platform musik digital.
Yang membuat saya tertarik bukan hanya melodinya.
Lagu ini berbicara tentang sesuatu yang semakin jarang dibicarakan secara sederhana adalah sebuah komitmen.
Banyak lagu cinta berbicara tentang kerinduan, perpisahan, atau patah hati. “Satu Dalam Ikatan” memilih jalan yang berbeda. Lagu ini enak karena berbicara tentang bertahan.
Tentang seseorang yang tidak hanya mengatakan, “Aku mencintaimu,” tetapi juga berkata, “Aku sedang berjuang untukmu.”
Kalimat itu terdengar sederhana namun justru di situlah letak kekuatannya.
Cinta yang matang bukan sekadar ungkapan romantis. Cinta adalah kesediaan untuk terus berjalan ketika keadaan tidak selalu mudah. Ada kerja keras, ada doa yang terus dipanjatkan, ada kesabaran, dan ada keyakinan bahwa hubungan tidak dibangun oleh satu orang saja.
“Ku harap doamu takkan pernah putus untukku…”
Lirik itu mengingatkan bahwa dalam hubungan yang sehat, dukungan emosional sering kali lebih berharga daripada janji-janji besar.
Ada kerendahan hati di sana dan pengakuan bahwa perjuangan tidak bisa dijalani sendirian.
Lagu ini juga menyampaikan pesan yang menarik. “Jangan dengar orang berkata apa tentang diriku.”
Sepintas kalimat tersebut terdengar seperti ungkapan cemburu. Namun jika direnungkan lebih jauh, ia mengandung makna yang lebih luas. Hubungan yang kuat tidak dibangun di atas penilaian orang lain.Karena mungkim saja ia tumbuh dari kepercayaan.
Di zaman ketika opini publik begitu mudah dibentuk oleh media sosial, ketika seseorang dapat dihakimi hanya melalui potongan informasi, pesan seperti ini terasa sangat nyata banget/
Kepercayaan menjadi sesuatu yang mahal. Bukan hanya dalam hubungan pasangan, tetapi juga dalam persahabatan, keluarga, bahkan kehidupan bermasyarakat.
Sebagai penulis, saya menikmati lagu ini bukan semata-mata karena melodinya. Saya menikmati ruang hening yang diciptakannya.
Irama Pop Melayu yang diusung Maulana tidak memaksa pendengarnya larut dalam kesedihan. Sebaliknya, ia memberi ruang bagi pikiran untuk bekerja.
Barangkali itulah sebabnya lagu ini begitu nyaman menemani saya menulis di ruang kerja sederhana, kala sore dan malam hari.
Di tengah kesibukan menyusun data, menyunting naskah berita, atau merangkai esai, alunan “Satu Dalam Ikatan” menghadirkan ritme yang membuat kata-kata mengalir lebih tenang.Beruntungnya saya mendapatkan lagu bagus dan teman perjalanan kreatif.
Setiap generasi memiliki lagu yang kemudian melekat pada fase tertentu dalam hidupnya.
Bagi saya, “Satu Dalam Ikatan” kini bergabung dalam deretan lagu yang sering menemani proses menulis, bersama “Jangan Paksa Rindu”, “Sesi Potret”, “Bunga Abadi”, “Mangu”, “Cinta Sampai Mati”, hingga “Sandiwara Cinta”.
Masing-masing memiliki warna. Namun “Satu Dalam Ikatan” menawarkan sesuatu yang berbeda.Karena lagu yang satu ini tidak hanya bercerita tentang cinta.
Ia mengingatkan bahwa setiap ikatan membutuhkan kesetiaan, keberanian untuk bertahan, dan kemauan untuk terus berjuang, bahkan ketika jalan tidak selalu mudah.
Mungkin itulah alasan mengapa lagu ini terasa begitu dekat.
Jadi menurut saya wajar dan sah-sah saja hampir semua orang sedang memperjuangkan sesuatu dalam hidupnya.Seperti orang yang memperjuangkan keluarga dan mimpinya serta memperjuangkan kepercayaan.
Dan ada pula yang diam-diam memperjuangkan cinta agar tetap hidup di tengah berbagai ujian.Barangkali inilah kedalaman sebuah lagu”Satu Dalam Ikatan”.
Bukan pada tingginya nada atau rumitnya aransemen musik, melainkan pada kesederhanaan pesannya: bahwa cinta yang sejati tidak cukup diucapkan. Ia harus dibuktikan melalui perjuangan, doa, dan kesetiaan yang terus dipelihara dari waktu ke waktu.
Mungkin karena itulah, setiap kali jemari Muhammad Irfani kembali memetik gitar dan memainkan lagu itu, saya selalu menghentikan sejenak pekerjaan, mendengarkan hingga selesai, lalu kembali menulis dengan hati yang terasa lebih tenang.
Sebab terkadang, inspirasi terbaik datang bukan dari ruang kerja yang sunyi, melainkan dari sebuah lagu yang sederhana, dimainkan oleh anak sendiri, dan mengingatkan bahwa setiap ikatan yang bernilai selalu layak diperjuangkan.

