“Sesi Potret”, Lagu yang Membawa Kita Pulang ke Rumah Kenangan
Oleh: Muhammad Risanta
Jurnalis Senior | Akademisi
Ada lagu yang hanya terdengar beberapa menit, lalu selesai begitu saja.
Namun ada lagu yang setelah musik berhenti, justru meninggalkan ruang hening dalam pikiran kita. Sebuah lagu yang membuat seseorang tiba-tiba teringat rumah, wajah orang tua, kampung halaman, atau seseorang yang dulu selalu menunggu kepulangan.
Bagi saya, “Sesi Potret”, lagu karya Putra Permana atau Eńau yang dinyanyikan bersama vokalis Fourtwnty, Ari Lesmana, berada dalam ruang yang kedua.
Lagu ini tidak datang dengan cerita yang rumit. Justru kekuatannya terletak pada kisah yang sangat sederhana dan dekat dengan kehidupan banyak orang.
Tentang seseorang yang pergi jauh untuk memperjuangkan masa depan, lalu pulang membawa harapan, tetapi harus menerima kenyataan bahwa orang yang paling ingin ditemuinya sudah tidak ada.
Sebuah cerita tentang jarak, waktu, dan kehilangan. Cerita yang mungkin pernah dialami banyak keluarga Indonesia.

Ketika Lagu Membawa Saya Kembali ke Studio Radio
Sebagai seseorang yang pernah lama berada di dunia radio, saya merasakan suasana yang begitu akrab ketika mendengarkan “Sesi Potret”.
Ada kenangan yang tiba-tiba muncul. Saya seperti kembali ke masa ketika studio radio menjadi tempat bertemunya suara penyiar, musik, dan cerita para pendengar.
Era 1980-an hingga 1990-an memiliki romantisme tersendiri bagi dunia radio. Saat itu, radio bukan sekadar alat hiburan. Radio menjadi teman perjalanan, teman bekerja, bahkan teman bagi mereka yang sedang menikmati kesunyian malam.
Sebuah lagu sering kali memiliki cerita di baliknya.
Ada pendengar yang meminta lagu untuk seseorang yang dirindukan. Ada yang mengirim salam untuk keluarga di kampung halaman. Ada pula yang sengaja menunggu sebuah lagu diputar karena liriknya seperti mewakili perasaan yang sulit diucapkan.
Saat mikrofon menyala, yang hadir bukan hanya suara penyiar.Tentu ada cerita yang mengalir, begitu kata senior saya Zulfaisal Putrera. Ada cerita manusia di balik setiap permintaan lagu, seperti rindu yang ingin disampaikan dan kenangan yang ingin dipanggil kembali.
Barangkali ada ada perasaan yang mungkin selama ini disimpan sendiri, ucap pria yang merupakan mentor sekaligus sahabat dekat dan teman sekampung di Kelayan Banjarmasin. Bang Zulfaisal Putera salah satu orang yang mendorong saya menjadi penyiar radio.
Radio pada masa itu menjadi ruang kecil tempat banyak orang berbagi rasa.
Dan ketika mendengarkan “Sesi Potret”, saya seperti kembali duduk di depan mikrofon, membuka lembaran kenangan lama tentang bagaimana sebuah lagu mampu menjadi jembatan antara manusia dengan perasaannya sendiri.

Cerita Tentang Mereka yang Pergi Demi Masa Depan
Banyak orang Indonesia memahami arti sebuah perjalanan.
Pergi meninggalkan kampung halaman bukan perkara mudah. Ada rasa berat ketika harus berpisah dengan keluarga, terutama orang-orang yang selama ini menjadi tempat pulang.
Namun kehidupan sering memaksa seseorang untuk memilih jalan yang tidak selalu nyaman.Tak ada pilihan harus merantau, mencari pekerjaan, untuk mengejar impian. Tentunya berjuang agar keluarga memiliki kehidupan yang lebih baik.
Ada banyak anak muda yang meninggalkan rumah dengan satu janji kecil dalam hati”Suatu hari nanti saya akan pulang membawa kabar bahagia.”
Mereka bekerja keras. Menahan lelah terkadang menahan getir saat berjuang. Lalu menyimpan rindu. Menghitung waktu sampai kesempatan untuk kembali tiba.
Perjalanan itu sering kali bukan tentang mencari kemewahan.Tak bisa dipungkir jika banyak orang hanya ingin membuat orang tuanya tersenyum. Ingin menunjukkan bahwa perjuangan selama ini tidak sia-sia.
Namun manusia hanya bisa merencanakan, karena menurut cerita waktu itu memiliki jalannya sendiri.
Bagian paling menyentuh dari “Sesi Potret” ada pada kisah kepulangan yang terlambat. Bayangkan seseorang yang selama bertahun-tahun membangun harapan untuk kembali ke rumah.
Dalam pikirannya mungkin sudah tergambar sebuah pertemuan sederhana. Ada seseorang yang membuka pintu dan suara yang memanggil namanya.Itu semakin indah karena ada pelukan yang selama ini dirindukan.
Tetapi ketika kaki akhirnya sampai di halaman rumah, suasana yang ditemui berbeda. Orang yang paling ingin ditemui sudah tidak ada.
Tidak ada lagi percakapan kecil di ruang keluarga. Tidak ada lagi suara yang menyambut ketika pulang. Tidak ada lagi kesempatan untuk menceritakan perjalanan panjang yang sudah dilalui.
Yang tersisa hanya kenangan. Dan terkadang, kehilangan paling berat bukan ketika seseorang pergi.
Melainkan ketika kita menyadari masih ada banyak hal yang ingin dikatakan, tetapi kesempatan itu sudah tertutup.
Judul “Sesi Potret” sendiri memiliki makna yang dalam. Sebuah potret keluarga biasanya menggambarkan kebersamaan. Semua orang berdiri atau duduk dalam satu bingkai, tersenyum, dan berharap momen tersebut bisa dikenang selamanya.
Namun kehidupan terus berjalan dan kalau mau jujur waktu bisa mengubah segala banyak hal dalam kehidupan. Makanya seseorang yang dulu berdiri dalam foto mungkin suatu hari hanya tinggal kenangan.Dan fotonya tetap tersimpan dan wajahnya masih terlihat.
Tetapi kehadiran seseorang tidak pernah bisa digantikan oleh gambar.Tak heran jika lagu ini begitu manusiawi. Karena menarik perhatian banyak pendengar. Potongan lagu tersebut ramai digunakan warganet di media sosial.
Namun daya tariknya bukan semata karena melodinya yang mudah diingat, melainkan karena cerita yang dibawanya begitu dekat dengan pengalaman banyak manusia: tentang keluarga, perjuangan hidup, kerinduan, dan penyesalan karena terlambat pulang.
Lagu ini mengajak kita melihat kembali orang-orang yang selama ini ada dalam hidup kita. Apakah kita sudah cukup memberikan waktu? Apakah kita sudah cukup hadir? Apakah kita masih sering menunda pulang karena merasa masih ada hari esok?
“Sesi Potret” mungkin bercerita tentang seseorang yang kehilangan.
Namun bagi pendengar lain, lagu ini bisa memiliki makna berbeda.Bisa jadi mereka teringat ayahnya bahkan mengenang ibunya.Mungkin kita semua merindukan kampung halaman, seperti ingin segera pulang menemui keluarga.
Setiap orang membawa pengalaman masing-masing ketika mendengarkan sebuah lagu. Musik memiliki cara unik untuk membuka kembali pintu kenangan yang lama tertutup.
Bagi saya, “Sesi Potret” bukan sekadar lagu tentang kehilangan. Lagu ini adalah pengingat.
Bahwa hidup terlalu berharga jika hanya dihabiskan untuk mengejar sesuatu tanpa memberi waktu kepada orang-orang yang kita cintai.
Pulanglah ketika masih ada yang menunggu. Hubungilah mereka ketika masih ada kesempatan dan ungkapkan rasa sayang ketika orang tersebut masih bisa mendengarnya. Sebab ada banyak hal yang bisa kita cari kembali dalam hidup.
Dan mungkin, lagu ini hadir untuk mengingatkan kita,
Jangan sampai kesibukan membawa kita terlalu jauh, hingga ketika akhirnya pulang, orang yang paling ingin kita temui sudah tidak lagi berada di sana.
