“GILA MARKETING” DARI RUANG KELAS KE DUNIA NYATA
Oleh: Muhammad Risanta
Ada sebuah pertanyaan sederhana yang sering muncul ketika berbicara tentang pendidikan bisnis.
Apakah cukup seorang mahasiswa belajar tentang bisnis hanya dari buku teks, teori pemasaran, dan materi kuliah?
Jawabannya tentu tidak.
Sebab bisnis bukan sekadar angka dalam laporan keuangan. Bisnis bukan hanya konsep yang tertulis dalam modul perkuliahan. Bisnis adalah tentang keberanian mengambil keputusan, membaca peluang, memahami perilaku konsumen, menghadapi persaingan, dan yang paling penting, berani memulai.
Seorang mahasiswa manajemen mungkin memahami teori pemasaran. Bahkan ia bisa menjelaskan konsep marketing mix, strategi promosi, perilaku konsumen, hingga perencanaan bisnis. Namun dunia nyata sering memberikan pelajaran yang berbeda.
Ingatlah pasar itu tidak selalu berjalan sesuai teori. Konsumen tidak selalu membeli karena sebuah produk terlihat menarik.Dan sebuah ide bisnis tidak akan berarti apa-apa jika tidak pernah diwujudkan.
Kesadaran inilah yang kemudian melahirkan semangat “Gila Marketing” di STIE Pancasetia Banjarmasin.
Sebuah konsep pembelajaran yang membawa mahasiswa keluar dari batas ruang kelas, menuju pengalaman bisnis yang sesungguhnya.Bagi saya ini konsep menarik dan relevan dalam masa kini.
Kampus Tidak Hanya Mengajarkan Teori
Dunia pendidikan tinggi saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang memiliki ijazah dan kemampuan akademik.
Dunia membutuhkan lulusan yang mampu beradaptasi. Mereka yang kreatif melihat peluang dan berani mengambil inisiatif serta mampu menciptakan solusi.
Dalam konteks pendidikan bisnis, tantangan terbesar bukan hanya bagaimana mahasiswa memahami teori manajemen, tetapi bagaimana mereka mampu mengubah teori tersebut menjadi tindakan nyata.
Karena itu, saya mengapresiasi STIE Pancasetia memilih pendekatan yang berbeda. Mahasiswa tidak hanya diajak berbicara tentang kewirausahaan.
Mereka dilatih untuk merasakan bagaimana menjadi seorang entrepreneur. Mereka belajar bagaimana sebuah produk diperkenalkan.
Tentunya bukan sekadar teori, karena mereka belajar tentang bagaimana menyusun dan menerapkan strategi pemasaran disusun.Kemudian strategi menghadapi konsumen, penolakan tawaran,lalu bagaimana bangkit ketika strategi yang dibuat belum berhasil. Sebab pengalaman sering kali menjadi guru terbaik dalam dunia bisnis.
Makna “Gila” dalam Semangat Kewirausahaan
Istilah “Gila Marketing” mungkin terdengar unik bagi sebagian orang.
Namun kata “gila” dalam konsep ini bukan berarti kehilangan arah.
Justru sebaliknya. Konsep ini menggambarkan keberanian untuk berpikir berbeda, mencoba sesuatu yang baru, dan terus mencari inovasi.
Dalam dunia bisnis, mereka yang hanya mengikuti arus sering kali sulit menjadi pembeda.
Perubahan biasanya lahir dari orang-orang yang memiliki keberanian melihat peluang ketika orang lain melihat keterbatasan.
Spirit inilah yang menjadi DNA kewirausahaan STIE Pancasetia yang dicetuskan oleh pendiri kampus, Prof. Dr. H. Rahmady Radiany.
Sebuah gagasan yang mendorong mahasiswa untuk tidak hanya menjadi pencari pekerjaan, tetapi juga memiliki mental sebagai pencipta peluang.
Salah satu bagian menarik dari program ini adalah mahasiswa tidak ditempatkan hanya sebagai peserta pembelajaran, tetapi menjadi pelaku langsung.
Kerennya mereka turun langsung mengelola proyek bisnis.Menciptakan produk dan menyusun strategi pemasaran, menghitung biaya, menentukan harga, hingga berinteraksi langsung dengan pasar, layaknya pelaku usaha sungguhan.
Bagi sebagian mahasiswa, pengalaman pertama menjual produk mungkin bukan sesuatu yang mudah. Tetapi justru dari proses itulah karakter bisnis mulai terbentuk.Karena Seorang entrepreneur tidak lahir hanya dari teori keberhasilan.
Pebisnis itu juga ditempa dari pengalaman menghadapi kegagalan. Karena dalam bisnis, penolakan bukan akhir perjalanan. Penolakan adalah informasi untuk memperbaiki strategi.
Dari Kampus untuk Ekonomi Daerah
Kalimantan Selatan membutuhkan generasi muda yang tidak hanya siap bekerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja.
Persoalan pengangguran tidak bisa hanya dijawab dengan memperbanyak pencari kerja. Harus ada keberanian melahirkan entrepreneur baru.
Mahasiswa yang memiliki kemampuan membangun usaha berarti ikut berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
Sebuah usaha kecil yang tumbuh dapat membuka peluang bagi orang lain.Makanya sebuah ide bisnis yang berhasil dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Karena spirit kewirausahaan bukan hanya soal keuntungan pribadi, tetapi tentang menciptakan nilai dan memberikan dampak
Itulah semangat “Gila Marketing”.Sebuah filosofi yang mengajarkan mahasiswa STIE Pancasetia untuk tidak hanya bermimpi menjadi bagian dari dunia bisnis, tetapi berani menciptakan warna baru dalam dunia bisnis itu sendiri.
*Penulis adalah Dosen STIE Pancasetia & Jurnalis CNN Indonesia.
