Menulis, Investasi yang Tak Pernah Merugi

0
RISWAN MENULIS JUA

Ketika Sebuah Pertemuan Lama Membangunkan Semangat Baru

Oleh: Riswan Irfani
Praktisi Pendidikan Banua

Entah mengapa, belakangan ini keinginan untuk kembali menulis mulai tumbuh begitu kuat. Barangkali, setiap orang memang memiliki momen ketika sebuah hobi lama kembali mengetuk pintu hati. Begitu pula yang saya rasakan akhir-akhir ini.

Semangat itu muncul bukan karena mengikuti tren media sosial atau sekadar ingin terlihat produktif. Ia lahir dari sebuah pertemuan sederhana dengan sahabat lama, Muhammad Risanta.

Kami pernah bekerja bersama di Radio Smart FM, sebuah tempat yang tidak hanya mengajarkan profesionalisme dalam dunia penyiaran, tetapi juga mempertemukan banyak gagasan yang memperkaya cara berpikir.

Kini, perjalanan hidup kami mengambil jalur yang berbeda. Saya berkecimpung di dunia pendidikan, sementara Risanta terus menapaki dunia jurnalistik hingga menjadi dosen.

Namun ada satu hal yang membuat saya benar-benar kagum kepadanya adalah konsistensinya dalam menulis.

Di tengah kesibukannya sebagai jurnalis, akademisi, pembicara, dan berbagai aktivitas lainnya, ia tetap mampu menghasilkan karya. Artikel demi artikel terus lahir. Buku demi buku diterbitkan. Produktivitas itu membuat saya berpikir, ternyata menulis bukan sekadar bakat, melainkan kebiasaan yang terus dipelihara.

Pertemuan singkat itu seolah menjadi alarm yang membangunkan kembali semangat saya.

Saya pun mulai bertanya kepada diri sendiri, mengapa selama ini saya lebih banyak menjadi pembaca daripada penulis?

Padahal, setiap hari begitu banyak pengalaman, pemikiran, bahkan pelajaran hidup yang sebenarnya layak dibagikan kepada orang lain.

 

Salah satu karya tulisan yang menginspirasi Muhammad Risanta.

Menulis Adalah Investasi

Banyak orang masih menganggap menulis hanya sekadar hobi. Padahal, jika ditekuni dengan serius, menulis adalah salah satu bentuk investasi terbaik.

Berbeda dengan investasi yang nilainya naik turun mengikuti kondisi pasar, investasi dalam bentuk tulisan justru cenderung bertambah nilainya seiring waktu. Tulisan yang baik tidak mengenal masa kedaluwarsa. Ia dapat dibaca hari ini, bulan depan, bahkan puluhan tahun kemudian.

Pramoedya Ananta Toer pernah mengatakan bahwa orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama tidak menulis, ia akan hilang dari masyarakat dan sejarah.

Kalimat itu terasa sederhana, tetapi maknanya sangat dalam.

Tulisan adalah cara manusia memperpanjang umur pikirannya.

Lewat tulisan, gagasan tidak berhenti ketika percakapan selesai. Karya tulisan terus hidup, berpindah dari satu pembaca kepada pembaca lainnya.

Banyak pemula bertanya, apakah menulis bisa menghasilkan uang?

Jawabannya tentu bisa.

Namun, jangan membayangkan hasil yang datang dalam hitungan hari.

Menulis bukan jalan pintas menuju kekayaan. Ia lebih menyerupai menanam pohon. Pada awalnya kita hanya melihat tanah kosong. Tidak ada hasil yang bisa dipetik. Tetapi jika terus dirawat, suatu hari pohon itu akan tumbuh, berbuah, bahkan memberi manfaat kepada banyak orang.

Saat ini peluang memperoleh penghasilan dari menulis semakin terbuka lebar.

Seorang penulis dapat menjadi penulis lepas (freelance writer), membuat blog pribadi, menulis artikel SEO, menjadi copywriter, menerbitkan buku, hingga mempublikasikan novel di berbagai platform digital. Bahkan banyak penulis yang memperoleh pendapatan pasif dari royalti buku maupun monetisasi konten digital.

Semua peluang itu tersedia. Yang tidak tersedia hanyalah jalan instan.

Personal Branding yang Tidak Bisa Dibeli

Menulis juga membangun sesuatu yang sering kali lebih mahal daripada uang, yaitu reputasi.

Seseorang mungkin bisa membeli iklan agar dikenal banyak orang. Namun kredibilitas tidak pernah bisa dibeli. Kredibilitas dibangun melalui konsistensi.

Semakin sering seseorang menulis mengenai bidang yang dikuasainya, semakin kuat pula citra dirinya sebagai orang yang kompeten.

Guru yang rajin menulis akan dikenal sebagai pendidik.

Dosen yang rutin menerbitkan artikel akan dikenal sebagai akademisi.

Pebisnis yang gemar berbagi pengalaman melalui tulisan akan dipercaya sebagai praktisi.

Nama seseorang akhirnya tidak hanya dikenal karena jabatan, tetapi juga karena gagasannya. Itulah kekuatan personal branding yang dibangun melalui tulisan.

Saya semakin percaya bahwa satu tulisan akan melahirkan tulisan berikutnya.

Satu artikel bisa mengantar seseorang menjadi narasumber. Satu buku dapat membuka kesempatan mengajar. Satu opini dapat mempertemukan penulis dengan banyak orang baru.

Bahkan satu unggahan sederhana di media digital bisa menjadi awal lahirnya peluang kerja yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Saya teringat kembali pertemuan dengan Muhammad Risanta.

Yang paling menginspirasi bukan hanya banyaknya buku yang telah ia hasilkan, tetapi konsistensinya menjaga tradisi menulis di tengah kesibukan yang luar biasa.

Pertemuan itu menjadi pengingat bahwa produktivitas tidak lahir karena memiliki waktu luang, melainkan karena mampu menyediakan waktu untuk berkarya. Mungkin inilah saatnya saya kembali memulai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!