Sisi Lain Norwegia di Balik Erling Haaland
Oleh: Olpah Sari
Saya memang bukan perempuan yang begitu tergila-gila pada sepak bola. Saya tidak hafal formasi permainan, tidak terlalu larut dalam perdebatan soal strategi pelatih, apalagi sibuk membandingkan statistik para pemain.
Namun setiap empat tahun sekali, ketika Piala Dunia digelar, saya selalu menikmati atmosfernya.
Bagi saya, Piala Dunia bukan sekadar pertandingan sebelas lawan sebelas. Turnamen ini adalah jendela besar untuk mengenal berbagai bangsa, budaya, karakter masyarakat, hingga wajah sebuah negara yang mungkin selama ini hanya saya lihat di peta dunia.
Piala Dunia FIFA 2026 menjadi panggung yang mempertemukan beragam cerita. Salah satunya datang dari Norwegia, negara yang belakangan semakin akrab di telinga publik dunia berkat seorang penyerang haus gol bernama Erling Braut Haaland.
Nama Haaland memang menjadi magnet. Ketajamannya bersama klub maupun tim nasional membuat banyak orang mulai melirik Norwegia. Namun bagi saya, Haaland hanyalah pintu masuk untuk mengenal sebuah negeri yang jauh lebih menarik dibanding sekadar urusan sepak bola.
Setiap kali mendengar nama Norwegia, imajinasi saya langsung melayang pada negeri Skandinavia yang diselimuti pegunungan bersalju, fjord-fjord yang dramatis, kisah para pelaut Viking, hingga panorama alam yang terasa seperti negeri dongeng.
Tak heran jika banyak film dunia mengambil inspirasi dari lanskap Norwegia. Bahkan film animasi Frozen disebut banyak terinspirasi dari keindahan fjord dan desa-desa tradisional negara tersebut.
Namun di balik keelokan itu, Norwegia ternyata sedang menghadapi persoalan yang menarik untuk dicermati.
Banyak negara berlomba menarik wisatawan sebanyak mungkin. Semakin banyak turis dianggap semakin baik bagi perekonomian.
Namun Norwegia justru memiliki cara pandang berbeda.
Lonjakan wisatawan yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir membuat sebagian masyarakat mulai merasa ruang hidup mereka terganggu. Jalur pendakian menjadi padat, kawasan alam mulai mengalami tekanan, sementara fasilitas publik harus menanggung beban yang semakin besar.
Beberapa wilayah bahkan memilih memangkas promosi pariwisata karena khawatir jumlah pengunjung melampaui daya dukung lingkungan. Fenomena ini menjadi contoh bahwa tidak semua negara memandang pertumbuhan wisata sebagai tujuan tanpa batas.
Pemerintah Norwegia kemudian mengambil langkah yang cukup berani dengan menerapkan pajak turis di sejumlah daerah. Dana yang terkumpul digunakan untuk memperbaiki infrastruktur sekaligus menjaga kualitas lingkungan yang selama ini menjadi daya tarik utama negeri tersebut.
Saya justru melihat kebijakan ini sebagai bentuk keberanian.
Norwegia tidak menjual alamnya tanpa batas. Mereka ingin wisata tetap berkembang, tetapi tidak mengorbankan warisan alam yang telah dijaga selama ratusan tahun.
Negeri Kaya yang Tetap Rendah Hati
Norwegia juga sering disebut sebagai salah satu negara dengan kualitas hidup terbaik di dunia.
Kekayaan minyak dan gas yang dimiliki tidak dihabiskan begitu saja, melainkan dikelola melalui dana kekayaan negara (sovereign wealth fund) yang menjadi salah satu yang terbesar di dunia.
Pendapatan dari minyak digunakan untuk menjamin kesejahteraan masyarakat lintas generasi.
Namun menariknya, Norwegia tidak hanya bergantung pada energi fosil.
Hampir seluruh kebutuhan listrik domestiknya dipenuhi oleh pembangkit listrik tenaga air. Negara ini juga dikenal sebagai salah satu pelopor penggunaan kendaraan listrik dan terus berinvestasi pada energi terbarukan sebagai bagian dari komitmen menuju masa depan rendah karbon.
Di sisi lain, negeri kaya ini ternyata tidak lepas dari tantangan ekonomi.
Nilai tukar Krone Norwegia beberapa tahun terakhir mengalami pelemahan terhadap mata uang utama dunia. Kondisi tersebut ikut memicu kenaikan harga barang dan biaya hidup yang semakin tinggi bagi masyarakatnya.
Artinya, kemakmuran bukan berarti bebas dari persoalan.
Justru negara maju pun tetap harus bekerja keras menjaga stabilitas ekonominya.
Yang paling membuat saya kagum adalah cara masyarakat Norwegia memperlakukan alam. Bagi mereka, gunung bukan sekadar objek wisata.
Danau bukan hanya tempat berfoto. Hutan bukan sekadar lahan ekonomi. Alam adalah bagian dari identitas bangsa.
Tidak mengherankan jika hiking, bermain kayak, bermain ski, hingga menikmati cahaya Aurora Borealis menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat, bukan sekadar aktivitas rekreasi.
Di sana, menjaga lingkungan bukan hanya slogan pemerintah, tetapi sudah menjadi budaya sehari-hari.
Mereka memahami bahwa keindahan alam tidak diwariskan dari generasi sebelumnya, melainkan dipinjam dari generasi yang akan datang.

