Viral Bukan Berarti Benar, Krisis Literasi di Era Algoritma

1
DOSEN ADNAN VIRAL

Oleh: Apippudin Adnan

Kita hidup di masa ketika informasi datang lebih cepat daripada kemampuan kita untuk memahaminya. Setiap detik, layar gawai kita dipenuhi berita, opini, video pendek, hingga potongan narasi yang sering kali tidak utuh.

Dalam sekejap, sesuatu bisa menjadi viral, selanjutnya dibicarakan banyak orang, dibagikan ribuan kali, bahkan tanpa sempat diuji kebenarannya.

Tak heran jika muncul persoalan sederhana tapi serius “viral tidak sama dengan benar”.

Media sosial telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi. Jika dahulu redaksi media menjadi gerbang utama penyaringan berita, kini algoritma mengambil peran tersebut.

Algoritma bekerja berdasarkan interaksi pengguna. Konten yang memancing emosi, kontroversi, kemarahan, atau rasa penasaran akan lebih sering ditampilkan karena dianggap mampu meningkatkan keterlibatan pengguna.

Akibatnya, ukuran keberhasilan sebuah informasi bergeser dari tingkat akurasi menjadi tingkat viralitas. Perubahan ini membawa konsekuensi serius. Masyarakat semakin sulit membedakan antara fakta, opini, dan manipulasi informasi.

Dulu, redaksi media menjadi pintu utama penyaring informasi. Sekarang, peran itu banyak digantikan oleh algoritma media sosial. Algoritma tidak menilai benar atau salah. Ia hanya membaca satu hal apa yang membuat orang bertahan lebih lama di layar.

Konten yang memancing emosi marah, takut, kagum, atau penasaran akan lebih mudah naik ke permukaan. Akibatnya, yang paling banyak dilihat bukan selalu yang paling akurat, tetapi yang paling “menggugah”.

Inilah perubahan besar yang sering tidak kita sadari ukuran nilai informasi bergeser dari kebenaran menjadi keterlibatan (engagement).

Saat Semua Orang Jadi Konsumen Sekaligus Penyebar

Masalahnya tidak berhenti di sana. Kini, setiap orang bukan hanya pembaca, tetapi juga penyebar informasi. Dengan satu tombol “bagikan”, sebuah kabar bisa menyebar ke ratusan bahkan ribuan orang dalam hitungan menit.

Sayangnya, tidak semua informasi sempat diverifikasi. Banyak yang langsung dibagikan hanya karena terasa meyakinkan, sesuai emosi, atau sedang ramai dibicarakan. Dari sinilah hoaks sering berjalan dan singgah kepada mereka yang rendah literasinya.

Kita ini sebenarnya tidak kekurangan informasi. Justru kita sedang kelebihan informasi tapi kekurangan filter berpikir kritis.

Yang sedang kita hadapi bukan sekadar banjir informasi, tetapi krisis literasi digital.

Literasi digital bukan hanya soal bisa menggunakan gawai atau media sosial. Lebih dari itu, literasi digital adalah kemampuan untuk

berpikir kritis terhadap informasi, memeriksa sumber, memahami konteks, mengenali bias, dan menyebarkan informasi secara bertanggung jawab.

Tanpa itu, kita mudah terseret arus informasi yang belum tentu benar, hanya karena terlihat meyakinkan atau sedang viral.

Tanggung Jawab Tidak Hanya di Pengguna

Namun, beban ini tidak bisa hanya diletakkan di pundak pengguna.

Perusahaan teknologi juga memiliki peran besar. Algoritma yang terlalu menekankan viralitas tanpa mempertimbangkan kredibilitas berpotensi menciptakan ruang digital yang penuh sensasi dan miskin verifikasi.

Karena itu, transparansi algoritma, peningkatan moderasi konten, dan upaya melawan disinformasi menjadi hal yang semakin penting.

Di sisi lain, media massa profesional tetap menjadi salah satu benteng utama. Di tengah banjir informasi instan, jurnalisme berbasis verifikasi tetap dibutuhkan sebagai rujukan yang dapat dipercaya.

Tidak kalah penting, dunia pendidikan harus ikut masuk ke dalam medan ini.

Literasi digital seharusnya tidak hanya menjadi materi tambahan, tetapi bagian dari cara berpikir. Siswa dan mahasiswa perlu dibiasakan untuk tidak langsung percaya, tetapi bertanya, ini dari mana? datanya apa? siapa yang mengatakan?

Dengan begitu, kita tidak hanya mencetak pengguna teknologi, tetapi juga warga digital yang matang secara intelektual.

Catatan baiknya adalah di era algoritma ini, satu hal sederhana menjadi sangat penting jugamenahan diri sejenak sebelum membagikan informasi.

Beberapa menit untuk memverifikasi bisa mencegah kesalahan besar dari penyebaran hoaks, kesalahpahaman publik, hingga rusaknya reputasi seseorang.

Viral mungkin terlihat menarik, tetapi tidak selalu benar. Dan di tengah derasnya arus informasi hari ini, kemampuan paling berharga bukanlah seberapa cepat kita menerima berita, tetapi seberapa bijak kita menyikapinya.

Sebab di era ini, berpikir kritis bukan lagi pilihan melainkan kebutuhan dasar setiap warga digital.

*Penulis adalah Dosen STIE Pancasetia Banjarmasin.

1 thought on “Viral Bukan Berarti Benar, Krisis Literasi di Era Algoritma”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!