HARGANAS, MAHASISWA, DAN GENERASI SANDWICH
Foto Ilustrasi - Dok Economic Travelling.Com.
Oleh: Abd Munir
Setiap tanggal 29 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas). Bagi sebagian orang, peringatan ini mungkin hanya dipandang sebagai seremoni tahunan.
Padahal, di balik peringatan tersebut tersimpan pesan besar bahwa keluarga merupakan fondasi utama pembangunan bangsa.
Hal itu tercermin dalam logo Harganas yang sarat makna. Delapan unsur simbolik yang terdiri atas lingkaran biru, padi dan kapas, delapan bintang, pita emas, figur ayah, ibu dan dua anak, bendera Merah Putih, peta Indonesia, serta latar berwarna biru, menggambarkan pentingnya keluarga sebagai pusat pendidikan, perlindungan, dan pembentukan karakter generasi bangsa.
Dalam rangkaian peringatan Harganas, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN di berbagai daerah secara rutin menyelenggarakan berbagai kegiatan edukatif.
Salah satunya adalah pemilihan Generasi Berencana (GenRe) yang melibatkan kalangan mahasiswa.
Pada suatu kesempatan, penulis berkesempatan menjadi salah satu dewan juri dalam kegiatan tersebut. Tugas penulis adalah menilai kompetensi speaking atau kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris. Seorang kolega bertugas menilai pengetahuan peserta mengenai isu kependudukan, keluarga berencana, dan kesehatan reproduksi remaja.
Sementara seorang rekan lain, mantan Kepala Dinas Pariwisata, Budaya, dan Olahraga Provinsi Kalimantan Selatan, menilai pemahaman peserta terhadap budaya daerah, seni, serta kearifan lokal.
Secara umum, penampilan para mahasiswa sangat menggembirakan. Mereka tampil percaya diri, komunikatif, dan mampu memanfaatkan teknologi presentasi dengan baik.
Satu per satu peserta memaparkan gagasannya secara sistematis, jelas, dan argumentatif. Ketika sesi tanya jawab berlangsung, sebagian besar peserta mampu menjawab pertanyaan dengan lancar, bahkan menggunakan bahasa Inggris dengan baik. Ada pula yang memperkenalkan diri dalam bahasa Jepang.
Pemandangan tersebut tentu memberikan optimisme bahwa generasi muda Indonesia memiliki potensi besar untuk bersaing di tingkat global.
Namun, di balik optimisme itu, para juri juga menemukan sejumlah catatan penting.
Kemampuan berbicara (speaking) yang baik ternyata belum sepenuhnya diikuti oleh penguasaan tiga keterampilan berbahasa lainnya, yakni menyimak (listening), membaca (reading), dan menulis (writing).
Dalam beberapa karya tulis peserta, misalnya, masih ditemukan penggunaan ragam bahasa yang kurang baku, struktur kalimat yang belum efektif, serta lemahnya argumentasi tertulis.
Pengalaman menarik terjadi ketika penulis mencoba menguji kemampuan menyimak salah seorang mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris yang sangat fasih berbicara dalam bahasa Inggris. Penulis mengucapkan kalimat:
“Sister Susie sews silk socks seated serenely on the satin sofa.”
Mahasiswa tersebut tampak terkejut. Ketika kalimat itu diulang untuk kedua kalinya, ia hanya mampu berucap, “Oh my God.” Baru pada pengulangan ketiga, ia dapat menangkap sebagian kecil makna kalimat tersebut.
Pengalaman sederhana ini sesungguhnya memberikan pelajaran penting. Banyak orang lebih suka berbicara daripada mendengarkan. Bahkan, tidak sedikit yang lebih gemar membicarakan orang lain daripada sungguh-sungguh mendengarkan orang lain.
Padahal, kemampuan mendengar merupakan salah satu keterampilan dasar dalam membangun komunikasi yang efektif, baik dalam dunia akademik, profesi, maupun kehidupan sosial.
Fenomena lain yang cukup mengkhawatirkan adalah menurunnya budaya membaca di kalangan generasi muda.
Kemajuan teknologi digital memang menghadirkan banyak kemudahan. Namun, di sisi lain, teknologi juga melahirkan tantangan baru. Kehadiran telepon pintar, media sosial, layanan streaming, hingga permainan daring telah mengubah pola interaksi generasi muda dengan pengetahuan.
Waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk membaca buku, berdiskusi, atau memperluas wawasan sering kali habis untuk menatap layar gawai.
Mereka lebih akrab dengan linimasa media sosial daripada halaman buku. Mereka lebih mengenal selebritas digital daripada tokoh-tokoh pemikir bangsa.
Lebih mengkhawatirkan lagi, ruang digital juga membuka peluang masuknya berbagai pengaruh negatif, mulai dari pornografi, perundungan siber, hingga penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang.
Dalam konteks inilah peran keluarga menjadi sangat krusial.
Keluarga adalah sekolah pertama dan utama bagi seorang anak. Ketahanan keluarga tidak dapat digantikan oleh sekolah, kampus, maupun teknologi secanggih apa pun.
Keterlibatan orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang remaja mutlak diperlukan. Orang tua perlu mengetahui lingkungan pergaulan anak, aktivitas kesehariannya, hingga pola penggunaan teknologi digital di rumah. Pengawasan tersebut tentu bukan dalam bentuk kontrol yang mengekang, melainkan pendampingan yang humanis, dialogis, dan penuh kasih sayang.
Program-program unggulan BKKBN seperti Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) dan Lansia Berdaya (SIDAYA) menjadi sangat relevan dalam memperkuat ketahanan keluarga Indonesia.
Pembangunan keluarga sesungguhnya tidak hanya diukur dari jumlah anggota keluarga yang kecil dan ideal. Lebih dari itu, kualitas keluarga menjadi faktor penentu keberhasilan pembangunan bangsa.
Pendidikan agama, pembentukan karakter, penguatan akhlak, literasi digital, serta pendidikan kependudukan harus berjalan beriringan. Sebab, keluarga merupakan embrio lahirnya masyarakat yang berkualitas dan bangsa yang tangguh.
Oleh karena itu, sinergi antara keluarga, masyarakat, lingkungan, lembaga pendidikan, dan pemerintah menjadi sebuah keniscayaan.
Program keluarga berencana selama ini lebih banyak dipahami dari aspek kuantitatif, yakni pengendalian jumlah penduduk. Padahal, dimensi kualitatif jauh lebih penting, yaitu menciptakan sumber daya manusia yang sehat, produktif, berkarakter, dan berdaya saing.
Generasi Berencana (GenRe) dipersiapkan untuk menggantikan generasi tua dalam menjalankan roda pembangunan bangsa. Tentu, karakter generasi muda saat ini berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka tumbuh di era digital yang serba cepat, terbuka, dan tanpa batas.
Karena itu, kebebasan berekspresi dan berinovasi perlu tetap dibingkai oleh nilai-nilai moral, etika, dan agama. Di sisi lain, kreativitas, inovasi, serta pemanfaatan teknologi, termasuk kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI), harus terus didorong agar generasi muda mampu menjadi aktor utama Indonesia Emas 2045.
Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, penguatan ketahanan keluarga menjadi agenda strategis. Setidaknya terdapat empat pilar yang harus diperkuat, yakni keluarga berkumpul, keluarga berinteraksi, keluarga berdaya, serta keluarga peduli dan berbagi.
Berbagai kegiatan yang dilaksanakan BKKBN patut diapresiasi karena tidak hanya menjadi media sosialisasi dan diseminasi informasi kependudukan, tetapi juga sarana internalisasi nilai-nilai kehidupan berkeluarga kepada generasi muda.
Harapannya, kegiatan tersebut tidak hanya meningkatkan aspek knowledge (pengetahuan), tetapi juga membentuk attitude (sikap) dan practice (perilaku) generasi muda, khususnya dalam menghadapi berbagai persoalan sosial dan kesehatan reproduksi remaja.
Di tengah optimisme menyongsong bonus demografi, terdapat satu tantangan besar yang mulai nyata di hadapan kita, yakni fenomena Generasi Sandwich.
Generasi ini berada dalam posisi yang tidak mudah. Mereka harus menopang kebutuhan ekonomi anak-anak sekaligus menanggung orang tua yang telah memasuki usia lanjut. Beban ganda tersebut tidak jarang menimbulkan tekanan ekonomi, psikologis, bahkan sosial.
Karena itu, perencanaan keluarga yang matang, penguatan literasi keuangan, peningkatan produktivitas ekonomi keluarga, serta jaminan perlindungan sosial menjadi langkah strategis yang harus dipersiapkan sejak sekarang.
Bonus demografi hanya akan menjadi berkah apabila dikelola dengan baik. Sebaliknya, tanpa ketahanan keluarga yang kuat, bonus demografi justru dapat berubah menjadi beban demografi.
Jadi menurut kami sejatinya pembangunan bangsa selalu bermula dari rumah. Ketika keluarga kuat, bangsa pun akan kuat. Dan ketika generasi mudanya berkualitas, Indonesia Emas 2045 bukan sekadar mimpi, melainkan sebuah keniscayaan.

