Deniz Undav, Piala Dunia, dan Spirit Dunia Usaha
Oleh: Bambang Budiansyah
Kolumnis Economic Travelling
Beberapa hari terakhir, telepon saya nyaris tak berhenti berdering. Sejumlah sahabat dari media, bahkan beberapa rekan di GAPKI Kalimantan Selatan, meminta saya memberikan pandangan tentang Piala Dunia 2026 dan fenomena pemain-pemain muda yang tengah bersinar.
Awalnya saya menolak.
Alasannya sederhana. Saya sadar, saya bukan komentator sepak bola sejati. Aktivitas sehari-hari saya lebih banyak berkutat dengan urusan perkebunan kelapa sawit dibanding mengamati taktik sepak bola.
Namun, karena kecintaan terhadap olahraga paling populer di muka bumi ini, ditambah banyaknya sahabat yang berprofesi sebagai wartawan, saya akhirnya memberanikan diri menulis.
Terlebih, selama ini saya banyak mendapat masukan dari seorang sahabat sekaligus mentor menulis, Bang Muhammad Risanta. Sosok yang dikenal sebagai Ahli Pers Dewan Pers, akademisi, sekaligus jurnalis yang tak pernah lelah berbagi ilmu kepenulisan kepada banyak orang, termasuk saya.
Dari berbagai diskusi dan kebiasaan membaca, perhatian saya kemudian tertuju kepada satu nama, Deniz Undav.
Mungkin enam tahun lalu, tak banyak penggemar sepak bola yang mengenal sosok ini. Pada 2020, Undav masih bermain di kasta ketiga Liga Jerman bersama SV Meppen. Jauh dari gemerlap Bundesliga, apalagi Piala Dunia.
Namun sepak bola, seperti juga dunia usaha, selalu menyimpan cerita tentang harapan.
Kini, di Piala Dunia 2026, nama Deniz Undav justru menjadi salah satu bintang paling bersinar bagi Tim Panser Jerman. Dalam dua laga awal Grup E, penyerang VfB Stuttgart itu tampil luar biasa. Satu gol dan dua assist saat Jerman membantai Curaçao, lalu dua gol, termasuk gol kemenangan dramatis pada masa injury time saat menghadapi Pantai Gading.
Total, Undav telah mencetak tiga gol dan dua assist sepanjang turnamen. Statistik itu semakin istimewa jika melihat perjalanan kariernya yang tidak instan.
Ia pernah dipandang sebelah mata. Pernah bermain di kompetisi level bawah. Pernah berada jauh dari sorotan publik. Namun Undav terus bekerja, berkembang, dan memanfaatkan setiap peluang yang datang.
Saya melihat korelasi menarik antara Denis Undav dan dunia usaha.
Dalam bisnis, banyak perusahaan yang hari ini tampak besar sesungguhnya memulai perjalanan dari “divisi tiga”. Mereka tumbuh perlahan, jatuh bangun, bahkan berkali-kali diremehkan pasar.
Lihat saja bagaimana banyak perusahaan rintisan digital lahir dari garasi sederhana sebelum akhirnya menjadi pemain global. Kesuksesan jarang datang dalam semalam. Dibutuhkan konsistensi, kemampuan beradaptasi, serta keberanian untuk terus belajar.
Undav adalah gambaran nyata dari semangat tersebut.
Ia membuktikan bahwa masa lalu tidak menentukan masa depan.
Yang menentukan adalah kemampuan bertransformasi.
Hal serupa juga sedang terjadi dalam dunia usaha saat ini. Era digital telah mengubah hampir seluruh lanskap bisnis. Perusahaan yang dahulu mengandalkan cara-cara konvensional kini dipaksa beradaptasi dengan teknologi.
Menariknya, sepak bola modern ternyata mengalami revolusi yang sama.
Hari ini, sepak bola tidak lagi hanya soal insting pelatih atau bakat alami pemain. Teknologi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari permainan.
Keputusan wasit kini dibantu oleh Video Assistant Referee (VAR) dan Goal-Line Technology (GLT). Menurut FIFA, penggunaan teknologi ini secara signifikan meningkatkan akurasi pengambilan keputusan wasit hingga di atas 95 persen.
Di sisi lain, pemain modern dipantau menggunakan perangkat GPS dan wearable technology. Setiap langkah, kecepatan lari, detak jantung, hingga tingkat kelelahan dianalisis secara real time menggunakan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Klub-klub elite Eropa bahkan telah mengandalkan analisis data untuk merekrut pemain. Fenomena yang dikenal sebagai data-driven scouting ini membuat pencarian bakat menjadi lebih objektif dan efisien.
Bukankah kondisi tersebut sangat mirip dengan dunia usaha saat ini?
Perusahaan modern juga tidak lagi mengambil keputusan berdasarkan intuisi semata. Mereka mengandalkan data.
Laporan McKinsey Global Institute menunjukkan bahwa perusahaan yang mengoptimalkan penggunaan data dan analitik memiliki peluang produktivitas dan profitabilitas yang jauh lebih tinggi dibanding perusahaan yang masih mengandalkan pola konvensional.
Digitalisasi telah menjadi fondasi utama dunia usaha modern.
Melalui e-commerce dan media sosial, pelaku usaha kini dapat menjangkau pasar lintas negara selama 24 jam tanpa batas geografis. Otomatisasi berbasis cloud computing mampu memangkas biaya operasional sekaligus meningkatkan efisiensi.
Kehadiran AI, chatbot, QRIS, dompet digital, hingga analisis perilaku konsumen secara real time juga membuat pelayanan menjadi lebih cepat, akurat, dan personal.
Persis seperti Denis Undav. Di balik ketajamannya di lapangan, terdapat proses panjang, analisis data, latihan yang terukur, dan pemanfaatan teknologi modern.
Lagi-lagi Piala Duniamengajarkan satu hal penting kepada kita. Bahwa perubahan adalah keniscayaan.
Mereka yang menolak berubah akan tertinggal. Sebaliknya, mereka yang mau belajar, beradaptasi, dan memanfaatkan teknologi akan memiliki peluang lebih besar untuk menang.
Deniz Undav mungkin hanyalah seorang striker.
Namun kisah hidupnya sesungguhnya adalah metafora tentang dunia usaha hari ini. Tak masalah jika kita memulai dari kasta bawah.Dan tak masalah jika hari ini usaha kita masih kecil.
Karena seperti Undav, siapa pun berpeluang menjadi bintang, selama tidak berhenti belajar, terus beradaptasi, dan berani memanfaatkan peluang yang datang.
Sebab dalam sepak bola maupun dunia usaha, pertandingan belum selesai sebelum peluit panjang dibunyikan.
Dan sering kali, gol kemenangan justru lahir pada menit-menit terakhir.
