Piala Dunia Serasa Berkebun
Oleh : Bambang Budiansyah
Gegap gempita Piala Dunia 2026 saat ini membuat saya teringat pada kebun. Bukan kebun yang ada di Eropa atau Amerika.
Melainkan kebun sawit, kebun karet, dan kebun buah-buahan yang banyak kita jumpai di Indonesia.
Di televisi, kita melihat para pemain terbaik dunia berlari di stadion yang megah. Mereka dipuja jutaan orang. Nama mereka menjadi perbincangan. Gol-gol mereka diputar berulang kali.
Tetapi sesungguhnya, para pemain itu tidak tumbuh berbeda dengan pohon-pohon di kebun.Sesungguhnya mereka itu berawal dari benih.
Petani sawit tahu bahwa setelah bibit ditanam, hasil tidak akan datang besok pagi. Bahkan tidak bulan depan. Pohon sawit membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum menghasilkan tandan yang bisa dipanen.
Begitu pula pemain sepak bola.
Ketika seorang bocah berusia tujuh tahun mulai berlatih menggiring bola, ia belum menjadi bintang. Bocah itu hanya benih yang baru ditanam. Setiap latihan adalah pupuk. Setiap kegagalan adalah proses penguatan akar.
Orang yang tidak sabar mungkin akan berkata, “Mengapa belum menghasilkan?”
Padahal pertumbuhan terbesar sering terjadi di dalam tanah, saat belum terlihat oleh siapa pun.
Demikian pula kebun karet.
Petani tidak bisa langsung menyadap pohon yang baru ditanam. Ia harus menunggu bertahun-tahun hingga batangnya cukup kuat. Jika dipaksa terlalu cepat, pohon justru bisa rusak.
Sepak bola juga demikian. Bakat muda tidak bisa dipanen sebelum waktunya.
Mereka harus diberi ruang untuk belajar, gagal, bangkit, dan berkembang. Negara-negara besar sepak bola memahami hal itu.
Mereka membangun akademi, membina pemain sejak kecil, lalu bersabar menunggu masa panennya.
Karena itu, ketika seorang pemain mencetak gol di Piala Dunia, yang sesungguhnya sedang kita lihat bukan satu tendangan.
Kita sedang menyaksikan hasil dari proses panjang yang mungkin dimulai lima belas atau dua puluh tahun sebelumnya.
Namun jika ingin memahami Piala Dunia lebih dekat lagi, lihatlah kebun buah-buahan.
Mangga tidak berbuah sepanjang tahun. Durian pun punya musimnya. Rambutan juga demikian. Ada saat pohon hanya dipenuhi daun. Ada masa berbunga. Ada masa berbuah lebat.
Karier pemain sepak bola pun seperti itu. Tidak setiap musim mereka bersinar.Kita melihat juga ada musim masa cedera dan kehilangan performa serta masa diragukan sekali.
Tetapi pemain hebat adalah mereka yang mampu bertahan hingga musim buahnya tiba.
Piala Dunia adalah musim panen terbesar sepak bola dunia.
Di sana kita melihat buah terbaik dari ribuan kebun pembinaan yang tersebar di berbagai negara.
Kita menyaksikan hasil kerja pelatih, orang tua, akademi, dan klub-klub kecil yang selama bertahun-tahun merawat para pemain muda seperti petani merawat tanamannya.
Dan seperti halnya kebun, tidak semua yang berbuah lebat berasal dari lahan yang paling terkenal.
Kadang buah terbaik justru datang dari kebun yang jauh dari keramaian.
Begitu pula sepak bola. Bintang baru bisa muncul dari desa kecil di Afrika.Bahkan dari kota sederhana di Amerika Selatan, kampung nelayan di Asia.Demikian pula tempat-tempat yang sebelumnya tidak pernah diperhitungkan dunia.
Karena alam mengajarkan satu hal yang juga berlaku dalam sepak bola yakni kualitas tidak selalu lahir dari tempat yang mewah.
Namun lahir dari perawatan yang tekun.
Maka ketika kita menyaksikan Piala Dunia 2026, jangan hanya melihat trofi yang diperebutkan.
Lihatlah perjalanan panjang di belakangnya. Lihatlah akar yang tumbuh dalam diam. Lihatlah benih yang dulu nyaris tidak terlihat.
Kata sahabat saya Muhammad Risanta, Jurnalis Senior nasional, sepak bola dan berkebun itu mengajarkan pelajaran yang sama.
Tidak ada panen tanpa penanaman. Tidak ada buah tanpa kesabaran.
Dan tidak ada bintang yang bersinar di Piala Dunia tanpa proses panjang yang telah dirawat selama bertahun-tahun.
*Penulis adalah Penggiat Perkebunan dan Sekretaris GAPKI Kalsel.
