ASER 2026 Dari Banjarmasin untuk Dunia
Mendorong Transformasi Keberlanjutan dari Kampus ke Kebijakan Publik
Di tengah meningkatnya tekanan perubahan iklim, krisis sumber daya alam, ketidakpastian ekonomi global, serta perubahan perilaku konsumen yang semakin dinamis, perguruan tinggi dituntut tidak hanya menjadi pusat produksi ilmu pengetahuan, tetapi juga motor penggerak perubahan sosial dan ekonomi.
Pesan itulah yang mengemuka dalam pelaksanaan The 7th Advances in Sustainable Enterprise Research (ASER) International Conference 2026 yang berlangsung di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lambung Mangkurat (FISIP ULM), Banjarmasin, 11 Juni 2026.
Mengusung tema “From Insights to Action, Advancing Sustainability Across Society, Industry and Policy”, konferensi internasional ini mempertemukan akademisi, peneliti, mahasiswa, pelaku usaha, praktisi pembangunan, serta pengambil kebijakan dari berbagai negara Asia untuk mendiskusikan langkah konkret membangun masa depan yang berkelanjutan.
Tema tersebut tidak lahir tanpa alasan. Berbagai laporan internasional menunjukkan bahwa dunia sedang menghadapi tantangan multidimensi yang membutuhkan solusi lintas sektor.
Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) hingga saat ini masih menghadapi berbagai hambatan serius. Perubahan iklim, ketimpangan ekonomi, degradasi lingkungan, dan ancaman ketahanan pangan menjadi isu yang harus segera dijawab melalui kolaborasi antara dunia pendidikan, industri, pemerintah, dan masyarakat sipil.
ASER 2026 hadir sebagai ruang strategis untuk menjembatani kebutuhan tersebut.
Perubahan Dimulai dari Perilaku Konsumen. Salah satu fokus utama konferensi adalah pembahasan mengenai perilaku konsumen dan gaya hidup berkelanjutan.
Para peneliti menyoroti bahwa transformasi menuju ekonomi hijau tidak akan berhasil tanpa perubahan perilaku masyarakat sebagai konsumen.
Berbagai studi menunjukkan bahwa konsumen generasi muda semakin mempertimbangkan aspek lingkungan dalam keputusan pembelian. Namun di sisi lain, masih terdapat kesenjangan antara kesadaran dan tindakan nyata.
“Karena itu, diskusi mengenai segmentasi psikografis, faktor budaya, motivasi kesehatan, serta pola konsumsi masyarakat menjadi penting untuk memahami bagaimana kebijakan dan strategi bisnis dapat mendorong lahirnya gaya hidup yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan,” terang Rektor ULM Banjarmasin, Prof Ahmad Alim Bachri, saat membuka ASER 2026, di Aula Utama, Gedung Fisip Ulm Baru,Banjarmasin.
Studi kasus dari Indonesia, Thailand, Vietnam, Kamboja, dan Filipina turut memberikan gambaran bagaimana karakter budaya lokal memengaruhi keberhasilan program keberlanjutan di masing-masing negara.
Pada sektor produksi, para peserta konferensi membahas berbagai inovasi yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.
Konsep ekonomi sirkular menjadi salah satu topik yang paling banyak mendapat perhatian.
Berbeda dengan model ekonomi konvensional yang berorientasi pada pola “ambil-pakai-buang”, ekonomi sirkular menekankan penggunaan kembali sumber daya, pengurangan limbah, efisiensi energi, serta penciptaan nilai tambah dari produk yang sebelumnya dianggap tidak bernilai.
Dalam berbagai kajian internasional, penerapan ekonomi sirkular diproyeksikan mampu menciptakan jutaan lapangan kerja baru sekaligus mengurangi tekanan terhadap sumber daya alam.
Sektor pertanian, industri kreatif, fesyen berkelanjutan, hingga teknologi pengemasan ramah lingkungan menjadi contoh bidang yang memiliki peluang besar untuk berkembang melalui pendekatan tersebut.
Bagi negara berkembang seperti Indonesia, ekonomi sirkular bukan hanya agenda lingkungan, melainkan juga strategi pembangunan ekonomi masa depan.

Kampus Harus Melahirkan Generasi Masa Depan
ASER 2026 juga menyoroti pentingnya reformasi pendidikan tinggi.
Perubahan dunia yang berlangsung sangat cepat menuntut kampus untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada keberlanjutan.
Melalui berbagai sesi diskusi, para akademisi membahas integrasi konsep Sustainable Consumption and Production (SCP) ke dalam kurikulum, pengembangan metode pembelajaran inovatif, pemanfaatan sumber daya pendidikan terbuka, serta strategi menciptakan pengalaman belajar yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja masa depan.
Pendidikan dipandang sebagai investasi jangka panjang yang akan menentukan kualitas pembangunan suatu bangsa.
“Karena itu, keberlanjutan tidak boleh hanya menjadi mata kuliah tambahan, melainkan harus menjadi paradigma dalam proses pembelajaran,” terang Dr. Anthonius Junianto K, SE, MM, Salah satu Dosen STIE Pancasetia Banjarmasin.
Salah satu capaian penting dalam ASER 2026 adalah penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara FISIP ULM, STIE Pancasetia Banjarmasin, Mahardhika Institute, sejumlah perguruan tinggi dari Jepang dan Tiongkok, serta University of the East Filipina.
Secara garis besar, kerja sama tersebut mencakup pengembangan penelitian bersama, pelaksanaan program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), publikasi ilmiah internasional, pertukaran akademik, penguatan kapasitas dosen dan mahasiswa, serta pengembangan jejaring riset lintas negara.
Kerja sama ini menunjukkan bahwa tantangan keberlanjutan tidak dapat diselesaikan oleh satu institusi ataupun satu negara.
Dibutuhkan kolaborasi global yang memungkinkan pertukaran pengetahuan, pengalaman, teknologi, dan sumber daya untuk menghasilkan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.
Memberikan Ruang bagi Peneliti Muda
Yang menarik, ASER 2026 juga membuka kategori presentasi penelitian yang masih berada pada tahap pengembangan atau work in progress.
Kebijakan ini mencerminkan semangat inklusif dalam dunia akademik modern.
Penelitian tidak lagi dipandang sebagai produk akhir semata, tetapi sebagai proses kolaboratif yang dapat diperkaya melalui diskusi dan masukan dari berbagai disiplin ilmu.
Bagi mahasiswa dan peneliti muda, kesempatan tersebut menjadi ruang belajar yang sangat berharga untuk memperluas jaringan akademik internasional sekaligus meningkatkan kualitas penelitian yang sedang mereka kerjakan.
Dari Insight Menjadi Action
Konferensi ASER 2026 mengirimkan pesan penting bahwa pembangunan berkelanjutan tidak cukup hanya dibicarakan dalam ruang seminar atau dituliskan dalam jurnal ilmiah.
Keberlanjutan harus diwujudkan dalam kebijakan yang berpihak pada lingkungan, model bisnis yang bertanggung jawab, sistem pendidikan yang progresif, serta perilaku masyarakat yang lebih sadar akan masa depan.
Sah-sah aja kalau peran perguruan tinggi menjadi sangat strategis.
Kampus tidak lagi sekadar menara gading yang menghasilkan teori, melainkan pusat inovasi yang mampu menerjemahkan pengetahuan menjadi tindakan nyata.
Melalui ASER 2026, Banjarmasin menunjukkan bahwa dari sebuah kota di tepian Sungai Barito, gagasan-gagasan besar tentang masa depan dunia dapat lahir, tumbuh, dan menginspirasi perubahan.
Maka keberlanjutan bukan hanya tentang menjaga bumi, tetapi juga tentang memastikan bahwa generasi mendatang tetap memiliki kesempatan yang sama untuk hidup, berkembang, dan sejahtera.(Olpah Sari).
