Pengurus Kuat, Koperasi Hebat

0
RORY KOPDIT DKK

Peserta Diklat berasal dari Pengurus dan Pengawas Puskopdit Kalsel bersama seluruh Pengurus Koperasi Primer dibawah jaringan Credit Union se-Kalimantan Selatan.(Foto - Humas Kopdit Kalsel).

Penguatan Kapasitas Pengurus Jadi Fondasi Transformasi Puskopdit Kalsel

Saat ini perubahan ekonomi yang bergerak cepat.

Dan satu hal semakin disadari gerakan koperasi kredit adalah organisasi yang sehat tidak lahir semata dari pertumbuhan aset, melainkan dari kualitas manusianya.

Sebab sebaik apa pun sistem dibangun, sekuat apa pun modal dihimpun, koperasi akan tetap rapuh bila kapasitas pengurusnya lemah.

Kesadaran inilah yang tampaknya menjadi pijakan awal kepemimpinan baru Pusat Koperasi Kredit Kalimantan Selatan (Puskopdit Kalsel) dibawah Rory Handriano, S.E., M.M.

Sebagai langkah strategis membangun fondasi organisasi yang lebih kokoh, Puskopdit Kalsel menempatkan penguatan kapasitas pengurus sebagai prioritas awal transformasi kelembagaan.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui Diklat Fungsi dan Peran Pengurus dalam Koperasi Kredit, yang digelar dalam rangkaian Rapat Anggota Tahunan (RAT) dan Rapat Anggota Khusus, di Hotel Fave Banjarmasin, Kamis (21/05/2026) menghadirkan pembicara nasional Dr. Ir. Robinson Sitepu, M.App.Sc.

 

Ketua Pusat Koperasi Kredit Kalimantan Selatan (Puskopdit Kalsel) Rory Handriano, S.E., M.M. saat memberikan arahan dalam Diklat Fungsi dan Peran Pengurus dalam Koperasi Kredit, yang digelar dalam rangkaian Rapat Anggota Tahunan (RAT) dan Rapat Anggota Khusus, di Hotel Fave Banjarmasin, Kamis (21/05/2026) menghadirkan pembicara nasional Dr. Ir. Robinson Sitepu, M.App.Sc.(Foto – Humas Kopdit Kalsel).

Langkah ini menjadi pesan penting, kepemimpinan baru tidak ingin berjalan sekadar administratif, tetapi dimulai dengan membangun kualitas sumber daya manusia pengelola koperasi.

Mengapa Penguatan Pengurus Menjadi Penting?

Tantangan koperasi kredit hari ini tidak lagi sederhana.

Digitalisasi layanan keuangan berkembang cepat. Regulasi kelembagaan semakin kompleks. Persaingan dengan lembaga jasa keuangan lain meningkat.

Di saat yang sama, anggota koperasi menuntut pelayanan yang lebih profesional, cepat, transparan, dan berdampak terhadap kesejahteraan mereka.

“Dalam konteks ini, pengurus koperasi tidak cukup hanya memahami administrasi organisasi. Mereka dituntut menjadi pemimpin strategis, mampu membaca perubahan, mengelola risiko, menjaga kesehatan lembaga, sekaligus memastikan koperasi tetap berpihak pada anggota,” ungkap Rory Handriano.

Dia juga menyebutkan dengan fakta  kalau kualitas tata kelola menjadi faktor penentu keberhasilan koperasi.

Data Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia beberapa tahun terakhir menunjukkan masih banyak koperasi menghadapi persoalan tata kelola, lemahnya manajemen organisasi, rendahnya kapasitas SDM, hingga minimnya kepatuhan administrasi.

“Bahkan, sebagian koperasi tidak aktif bukan karena kekurangan anggota, tetapi akibat lemahnya kepemimpinan dan pengelolaan organisasi,” terang pria yang merupakan pengurus Inti Koperasi Kredit Karya Kasih.

Karena itu, pendidikan pengurus menjadi investasi strategis, bukan sekadar agenda pelatihan rutin.

Dalam diklat tersebut, para pengurus dibekali sejumlah materi mendasar yang menjadi tulang punggung keberlangsungan koperasi kredit.

Mulai dari review tentang koperasi, pemahaman nilai dasar dan prinsip gerakan, fungsi dan tanggung jawab pengurus, regulasi kelembagaan, penyusunan Rencana Kerja (RK) dan RAPB, evaluasi kinerja organisasi, hingga penguatan posisi Rapat Anggota Tahunan (RAT) sebagai pemegang kekuasaan tertinggi koperasi.

Namun lebih dari itu, pelatihan diarahkan untuk membangun pola pikir baru pengurus koperasi: dari sekadar menjalankan rutinitas administratif menjadi kepemimpinan yang strategis dan berdampak.

Pengurus koperasi masa kini dituntut memahami bahwa keberhasilan organisasi tidak hanya diukur dari besarnya aset, tetapi dari kualitas pelayanan dan kesejahteraan anggota yang dihasilkan.

Sorotan utama pelatihan hadir melalui materi “Reideologi, Transformasi, dan Resiliensi GKKI Menuju 2070” yang disampaikan Dr. Robinson Sitepu.

Dalam paparannya, Robinson menekankan bahwa koperasi kredit sedang menghadapi momentum besar berubah atau tertinggal.

Namun transformasi, menurutnya, tidak cukup dimulai dari digitalisasi atau pembenahan sistem administrasi.

“Transformasi harus dimulai dari manusianya—yakni pengurus yang memiliki kapasitas berpikir strategis, memahami tata kelola modern, tetapi tetap teguh pada ideologi koperasi,” Robinson Sitepu, yang pernah bertugas di Dinas Koperasi dan Tenaga Kerja Kalsel.

Robinson Sitepu juga menganalogikan  tiga pertanyaan mendasar yang menjadi refleksi gerakan koperasi kredit saat ini:

Apakah koperasi masih setia pada prinsip pendiriannya?
Apakah koperasi tetap relevan di tengah perubahan teknologi?
Apakah pertumbuhan organisasi benar-benar menghadirkan kesejahteraan anggota?

Pertanyaan ini penting. Sebab tidak sedikit lembaga yang tumbuh besar secara angka, tetapi kehilangan makna sosialnya.

Karena itu, konsep reideologi koperasi menjadi penting, menguatkan kembali nilai solidaritas, pendidikan anggota, demokrasi ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat tanpa kehilangan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan zaman.

Paradigma koperasi pun mulai bergeser, dari lembaga simpan pinjam menuju community financial ecosystem, dari pengelolaan administratif menuju manajemen berbasis data dan mitigasi risiko hingga orientasi aset menuju orientasi kesejahteraan anggota.

Langkah Puskopdit Kalsel memulai masa kepemimpinan dengan penguatan kapasitas pengurus mencerminkan satu kesadaran penting, yakni bermuara kepada kualitas organisasi akan selalu ditentukan oleh kualitas manusianya.

Pengurus yang kompeten akan melahirkan tata kelola yang sehat. Tata kelola yang sehat akan membangun kepercayaan anggota. Dan kepercayaan anggota menjadi modal utama pertumbuhan koperasi.

Di bawah kepemimpinan Rory Handriano, langkah awal ini menjadi sinyal optimisme bahwa Puskopdit Kalsel tidak sekadar ingin tumbuh sebagai lembaga keuangan anggota, tetapi hadir sebagai gerakan ekonomi rakyat yang modern, sehat, dan berdampak.(Olpah Sari).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!