Bekantan Pun Bernyanyi Kembali di Sini
Catatan Olpah Sari Jurnalis Economic Travelling.Com
Pagi itu, embun belum sepenuhnya luruh dari pucuk daun di hamparan hijau bekas tambang Paringin.
Matahari baru saja menembus sela-sela kanopi pohon sengon, alaban, hingga sungkai yang tumbuh menjulang di tanah yang dahulu pernah dikeruk alat berat. Udara terasa lembab. Dari kejauhan, suara burung memecah kesunyian.
Lalu, di antara ranting-ranting yang mulai rapat membentuk koridor hijau, seekor bekantan jantan tampak melompat perlahan. Hidung panjangnya bergoyang mengikuti gerakan tubuh.
Ia berhenti sejenak di pucuk pohon, menatap permukaan air danau reklamasi yang tenang, sebelum kembali bergerak bersama kelompoknya.
Di tempat yang dulu dianggap kehilangan masa depan ekologis, kehidupan ternyata sedang menyusun lagu barunya.
Bekantan satwa endemik Kalimantan yang selama ini identik dengan hutan rawa, tepian sungai, dan mangrove perlahan mulai menjadikan kawasan pasca tambang yang telah direklamasi sebagai habitat alternatif.
Barangkali bukan rumah utama, tetapi cukup layak untuk kembali bernapas, mencari makan, dan membesarkan kelompoknya.
Mereka seperti sedang menyampaikan pesan sederhana kepada manusia, alam punya cara untuk pulih, bila diberi kesempatan.

Pada umumnya, bekantan hidup di kawasan lahan basah seperti hutan rawa gambut dan mangrove. Satwa yang hidup berkelompok ini biasanya membentuk komunitas antara lima hingga dua puluh dua individu, bergantung pada ketersediaan pakan di habitatnya.
Kehadiran mereka di wilayah pasca tambang menjadi penanda penting bahwa sebuah ekosistem sedang bekerja kembali.
Dan di hamparan eks tambang milik PT Adaro Indonesia di Paringin, proses itu tengah berlangsung.
Sekitar 1.500 hektare lahan eks tambang pertama di kawasan tersebut kini tidak lagi menyisakan wajah tanah yang gersang. Sebagian dimanfaatkan sebagai kolam budidaya ikan, sementara area lainnya dikembangkan menjadi model hutan konservasi keanekaragaman hayati.
“Space kuncinya adalah bekantan dan berbagai macam burung,” ungkap Rusdi Husin, Health Safety Environment Division Head PT Adaro Indonesia, kepada awak media yang ikut dalam Visite Pasca Tambang, Kamis (21/05/2026) barusan.
Bagi Rusdi, reklamasi bukan sekadar kewajiban administratif setelah aktivitas tambang berakhir. Ini adalah ikhtiar panjang untuk mengembalikan fungsi ekologis tanah yang pernah dipinjam manusia.
Sebab pertambangan, seberapa besar pun manfaat ekonominya, selalu meninggalkan jejak. Ada cekungan tanah, ada bentang alam yang berubah, ada ekosistem yang harus dipulihkan.
Karena itulah pemerintah menerbitkan berbagai regulasi, mulai dari Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2010 tentang Reklamasi dan Pascatambang hingga Peraturan Menteri ESDM Nomor 26 Tahun 2018 mengenai pelaksanaan kaidah pertambangan yang baik. Tujuannya jelas memastikan dampak negatif pertambangan dapat dikurangi, bahkan dipulihkan.

Di lapangan, reklamasi dilakukan dengan pendekatan bertahap. Tanah yang semula keras dan terbuka ditanami tiga jenis vegetasi utama, cover crops atau rerumputan penutup tanah, tanaman fast growing, serta tanaman sisipan.
Jenis fast growing dipilih untuk mempercepat terbentuknya tutupan hijau. Di antaranya sengon, eucalyptus, pinus, Acacia crassicarpa, pulai, alaban, sungkai, ketapang, lamtoro, trembesi, hingga kaliandra merah dan putih.
Namun yang menarik, rehabilitasi lahan ini tak berhenti pada pohon cepat tumbuh.
PT Adaro Indonesia juga menanam berbagai tanaman MPTS (multi purposes tree species) berupa buah-buahan lokal Kalimantan sebuah keputusan ekologis sekaligus kultural. Ada kalangkala, kasturi, kuini, rambai, kapul, pampakin, taraf, langsat, manggis, hingga durian.
Pohon-pohon inilah yang perlahan menjadi dapur alami baru bagi satwa liar.
“Vegetasi yang tumbuh di area reklamasi menyediakan sumber pakan bagi bekantan berupa daun muda, pucuk, hingga buah-buahan,” jelas Riza Novian, Mine Closure Program Management Section Head PT Adaro Indonesia.
Bekantan memang dikenal sangat bergantung pada vegetasi tertentu. Mereka memakan daun muda dan pucuk tanaman yang kaya nutrisi. Maka ketika pohon-pohon lokal mulai tumbuh rapat, habitat alternatif pun terbentuk secara perlahan.
Lebih dari itu, struktur vegetasi yang mulai tinggi juga menciptakan kanopi alami.
Bagi bekantan, pohon bukan sekadar tempat mencari makan. Ia adalah jalur hidup koridor aman untuk bergerak, beristirahat, dan melindungi diri dari ancaman di tanah.
“Kawasan reklamasi yang memiliki vegetasi tinggi memungkinkan satwa melakukan pergerakan lebih aman,” tambah Randy Saputra, Mine Closure Monitoring & Evaluation Supervisor PT Adaro Indonesia.
Ada satu unsur lain yang membuat kawasan ini semakin bersahabat adalah air.
Bekas tambang terbuka (open pit) sering menyisakan cekungan yang kemudian berubah menjadi danau reklamasi. Bagi bekantan, keberadaan air bukan persoalan kecil. Mereka adalah perenang ulung, satwa yang akrab dengan sungai sejak lahir.
Di sela vegetasi yang menghijau, air menjadi penyangga kehidupan.
Mungkin, di sinilah letak paradoks yang paling indah sebuah ruang yang dahulu lahir dari pengerukan bumi justru mulai menumbuhkan kembali denyut kehidupan.
PT Adaro Indonesia sendiri menjalankan metode tambang terbuka (open pit) dengan kombinasi alat gali, muat, dan angkut di wilayah Tabalong dan Balangan, Kalimantan Selatan, meliputi Tambang Tutupan, Tambang Paringin, dan Tambang Wara.
Tetapi di ujung cerita pertambangan, selalu ada pertanyaan yang lebih penting apa yang tersisa setelah batu bara diambil?
Jika jawabannya adalah tanah yang kembali hijau, burung yang kembali berkicau, dan bekantan yang kembali melompat dari satu dahan ke dahan lain maka setidaknya ada secercah harapan bahwa manusia masih bisa berdamai dengan alam.
Apresiasi terhadap langkah reklamasi ini juga datang dari kalangan jurnalis.
Agus Diannor, Pemimpin Media BBS News, menilai upaya pascatambang yang dilakukan Adaro Indonesia patut diapresiasi karena menunjukkan keseriusan perusahaan dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.
“Yang paling penting bukan hanya menambang, tetapi bagaimana memulihkan kembali lingkungan setelahnya. Kehadiran bekantan menjadi indikator penting bahwa proses ekologis mulai berjalan,” ujar pria yang sedang studi S3 di Malaysia.
Nada serupa disampaikan Devi Farah dari Garuda TV. Menurutnya, reklamasi akan selalu diuji bukan oleh laporan di atas meja, tetapi oleh kehadiran satwa liar yang memilih datang kembali.
“Kalau bekantan sudah kembali, itu pertanda lingkungan mulai memberi ruang hidup lagi,” katanya.
Di Kalimantan, bekantan bukan hanya satwa.
Mereka adalah simbol, sebagai penjaga tepian sungai. Penanda keseimbangan ekologi. Wajah yang diam-diam menyimpan cerita panjang tentang hubungan manusia dengan hutan.
Maka ketika seekor bekantan kembali menggantung di cabang pohon reklamasi, itu bukan sekadar peristiwa biologis.Namun memberikan isyarat happy ending, rumah yang benar-benar bisa untuk kembali. Bekantan pun perlahan mulai bernyanyi kembali.
