Menulis, Jalan Panjang Dosen Merawat Ilmu

0
DOSEN RIFKY MENULIS

Bukan Sekadar Kewajiban, Tapi Cara Pengetahuan Tetap Hidup

Oleh : Muhammad Risanta

Di banyak kampus, seorang dosen kerap dipandang selesai tugasnya ketika kuliah berakhir. Materi dipresentasikan, diskusi berlangsung, lalu kelas bubar.

Padahal, ada pekerjaan yang jauh lebih sunyi dan sering kali lebih panjang umurnya yakni menulis.

Bagi seorang dosen, menulis sejatinya bukan pekerjaan sambilan. Tetapi adalah bagian dari denyut profesi akademik. Bahkan, negara menaruhnya sebagai kewajiban.

Dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, dosen mengemban tanggung jawab menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Dan di antara ketiganya, menulis menjadi simpul yang menghubungkan semuanya.

Karena itu kami sependapat dengan anggapan bahwa lewat tulisan, ilmu tidak berhenti di ruang kelas.

Mahasiswa menjadi pihak pertama yang merasakan manfaatnya. Buku ajar, modul kuliah, atau diktat yang ditulis dosen membuat pembelajaran lebih terarah.

Materi tidak lagi tercecer dari satu presentasi ke presentasi lain, tetapi tersusun rapi dan mudah dipahami. Dosen bukan hanya mengajar dengan suara, melainkan juga meninggalkan jejak pikir lewat halaman-halaman yang bisa dibaca ulang.

Namun tulisan dosen tak berhenti di meja kuliah. Di lingkungan akademik, publikasi ilmiah menjadi semacam “bahasa bersama” antarilmuwan.

Di jurnal, buku referensi, atau prosiding konferensi, para dosen bertukar gagasan, menguji teori, hingga memperdebatkan temuan baru. Dari sanalah ilmu berkembang kadang pelan, kadang melompat jauh.

Karena itu, reputasi akademik hari ini sering kali diukur dari karya tulisnya. Seberapa aktif meneliti, mempublikasikan gagasan, dan berkontribusi pada perkembangan ilmu pengetahuan.

Karena itu sah-sah saja jika menulis, pada titik tertentu, menjadi rekam jejak intelektual seseorang.

 

Tina Lestari SE MM, salah satu Dosen di Banjarbaru  saat presentasi Kampus Berdampak di kampus STIE Pancasetia Banjarmasin. (Foto – Risanta).

Tetapi ada alasan lain yang lebih praktis. Bagi dosen, tulisan juga berkaitan dengan karier. Publikasi ilmiah memberi angka kredit untuk kenaikan jabatan akademikmulai dari asisten ahli, lektor, lektor kepala, hingga profesor.

“Semakin produktif menghasilkan karya yang berkualitas, semakin terbuka ruang pengembangan profesi,” begitu kata Rifki, Dosen STIE Pancasetia Banjarmasin saat berdiskusi ringan dengan penulis.

Menurut pria menjadi salah satu tenaga struktural ini, kampus pun ikut diuntungkan. Di era persaingan perguruan tinggi, publikasi ilmiah berkontribusi pada reputasi institusi.

Nama universitas atau perguruan tinggu lebih mudah dikenal ketika dosen-dosennya aktif menulis, meneliti, dan menghasilkan karya yang terindeks secara nasional maupun internasional.

Namun sesungguhnya, manfaat terbesar menulis mungkin justru dirasakan masyarakat luas. Ketika ilmu pengetahuan diterjemahkan ke bahasa yang lebih sederhana melalui artikel populer, opini media, atau buku ringan pengetahuan tak lagi tinggal di menara gading kampus.

Maka secara implisit ia turun ke jalan, menyapa publik, memberi solusi, atau sekadar membantu orang memahami persoalan di sekitarnya.

Itulah mengapa aktivitas menulis bagi dosen tak bisa dipandang sekadar urusan administratif atau mengejar angka kredit.Namun dalam pandangan sederhana kami adalah proses transfer ilmu yang terus bergerak.

Pandangan serupa disampaikan oleh Muhammad Fadly Suhendra, Editor Penerbit Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dalam Workshop Penyusunan Buku bagi Dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta beberapa waktu lalu, seperti dilansir uny.ac.id.

Menurutnya, menulis buku memberi nilai tambah yang panjang bagi dosen dikenal luas, diakui keahliannya, hingga mendapatkan penghargaan profesional yang layak.

Ada istilah menarik yang ia sebut  completeness of life,perpaduan antara reputasi, remunerasi, dan akses pasar gagasan.

 

Ketua LPPM STIE Pancasetia, Dr.Firda Nosita, dalam sebuah acara. (Foto – Risanta).

Menulis, dalam konteks ini, bukan hanya soal royalti. Tetapi tentang warisan pengetahuan yang bisa melampaui umur pengajarnya sendiri.

Seorang dosen boleh pensiun. Tetapi bukunya tetap dibaca.

Fadly juga mengingatkan, menulis akademik tidak hanya bicara soal isi. Ada tiga nilai yang mesti dijaga yaiti kebenaran, kebaikan, dan keindahan.

Kebenaran berarti data valid, fakta akurat, dan gagasan orisinal. Kebaikan berarti tulisan memberi manfaat nyata. Sedangkan keindahan hadir melalui cara bertutur, desain visual, judul yang memikat, hingga tata letak yang nyaman dibaca.

Karena faktanya, buku bagus tidak hanya cerdas. Namun sesungguhnya juga harus mengundang orang membuka halaman pertama.

Kini, standar buku akademik juga makin ketat. Penulis harus kompeten di bidangnya. Penerbit berasal dari lembaga ilmiah, organisasi, atau perguruan tinggi. A

da proses editorial yang memeriksa keilmuan dan kebahasaan. Buku juga mesti dapat diakses publik, baik cetak maupun digital, serta memiliki identitas unik seperti ISBN atau DOI.

Di tengah banjir informasi digital, menulis menjadi cara dosen menjaga agar ilmu tidak cepat tenggelam.

Kami pribadi pun menilai ini makna paling sederhana dari profesi akademik, bukan hanya mengajar hari ini, tetapi memastikan pengetahuan tetap hidup untuk hari esok.

Sebab ilmu yang tak ditulis, sering kali hanya tinggal ingatan. Dan ingatan, kita tahu, mudah sekali hilang ditelan waktu.

*Penulis adalah Jurnalis Senior CNN Indonesia & Akademisi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!