Merekam Denyut UMKM Banua, Sensus Ekonomi 2026 dan Cerita Pelaku Usaha
Foto Ilustrasi - Dok Economic Travelling.Com.
Oleh : Olpah Sari
Di lorong Pekapuran A Banjarmasi, aroma Soto Banjar menyapa sejak pagi.
Di warungnya yang sederhana, Ratna, generasi kedua pedagang kuliner asli Banjar, sibuk menata piring untuk pelanggan pertama.
Warung Soto Banjar miliknya bukan sekadar tempat makan, melainkan simbol ketekunan keluarga yang diwariskan dari orang tua, dan bagian dari denyut ekonomi lokal yang kini akan tercatat dalam Sensus Ekonomi 2026 (SE2026).
“Setiap tahun usaha kami makin berkembang. Dengan sensus, pemerintah tahu jumlah usaha seperti kami dan bisa memberikan dukungan, misal akses kredit dan promosi,” kata Ratna sambil menata meja makan warungnya.
Sementara itu, di Banjarbaru, Dhevy Megawati menjalankan usaha Ikan Saluang Crispy dari rumahnya. Ia adalah satu dari ratusan UMKM berbasis home industri yang setia menekuni usaha di tengah dinamika pasar dan tantangan yang berubah setiap bulan.
Dhevy sendiri menyambut baik kehadiran petugas BPS yang akan melakukan pendataan.
“Partisipasi kami dalam sensus membuat usaha lebih terlihat, terutama untuk UMKM yang baru berkembang,” ujarnya.

Bagi Dhevy, sensus bukan sekadar administrasi, ini adalah pengakuan resmi atas usaha yang digelutinya, sekaligus jalan membuka akses pasar dan peluang kerja sama dengan platform digital maupun perusahaan ekspor.
Kisah Ratna dan Dhevy mencerminkan realitas UMKM di Kalimantan Selatan, yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah. Berdasarkan data BPS, lebih dari 120 ribu unit UMKM tersebar di sektor kuliner, kerajinan, perdagangan, dan jasa.
Di Banjarmasin, perdagangan barang dan jasa mendominasi kontribusi terhadap PDRB, dengan sektor grosir, eceran, transportasi, dan pergudangan menjadi penggerak utama.
Aktivitas usaha skala mikro seperti warung makan, home industri, dan toko kecil menyediakan lapangan kerja sekaligus mendukung perputaran ekonomi lokal.
Dr. Apippudin Adnan, pemerhati ekonomi dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Indonesia, menekankan, UMKM adalah fondasi ekonomi Banua (daerah).
“Sensus ekonomi memberikan data konkret untuk menilai potensi dan kebutuhan usaha. Ini penting agar kebijakan pembangunan dan program pendampingan dapat tepat sasaran, termasuk akses permodalan, pelatihan, dan digitalisasi,” terangnya.
Sensus Ekonomi, Mengakui dan Memberdayakan Usaha
SE2026 yang berlangsung 1 Juni hingga 31 Juli 2026 bertujuan memetakan seluruh unit usaha, formal maupun informal, sehingga peta ekonomi lokal hingga nasional dapat terlihat jelas. Kepala BPS Kalsel, Mukhamad Mukhanif, menegaskan pentingnya sensus ini.
“SE2026 adalah agenda nasional yang dilakukan setiap 10 tahun sekali untuk memotret potensi ekonomi secara komprehensif. Data ini akan menjadi dasar perencanaan pembangunan dan kebijakan ekonomi daerah,” ungkapnya kepada awak media di Banjarbaru baru-baru tadi,
Persiapan sensus melibatkan kolaborasi antara BPS, APINDO, dan perusahaan eksportir untuk memastikan seluruh UMKM, termasuk home industri seperti usaha Dhevy, tercatat dengan akurat.
Ratna mengungkapkan bahwa pendataan sebelumnya membantu warungnya mendapatkan izin usaha dan akses kredit mikro.
Dengan data sensus yang akurat, pemerintah dan lembaga keuangan bisa menargetkan program bantuan, pelatihan, hingga promosi produk.
Dhevy menambahkan, sensus memberi pengakuan resmi terhadap usaha kecil yang sering tersembunyi dari sistem.
“Dengan tercatat di sensus, usaha home industri kami lebih mudah dikenal, baik untuk promosi lokal maupun peluang ekspor. Ini penting agar usaha kecil bisa bersaing di pasar yang lebih luas,” katanya.
Kisah UMKM Adalah Cerita dari Lapangan
Kedua perempuan ini merupakan cermin dari semangat dan ketahanan UMKM di Kalsel. Mereka menghadapi tantangan harian, fluktuasi harga bahan baku, permintaan pasar yang berubah, serta kebutuhan mengikuti standar kebersihan dan digitalisasi.
Namun, dengan dukungan dari data sensus dan program pemerintah, peluang pengembangan usaha menjadi lebih nyata.
Dr. Apippudin pemerhati ekonomi dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Indonesia, menegaskan, data sensus bukan sekadar angka.
“Setiap usaha yang tercatat adalah bagian dari ekonomi lokal yang nyata. Informasi ini membantu pemerintah membuat kebijakan fiskal, program pelatihan, dan intervensi pasar yang tepat, sehingga UMKM dapat tumbuh dan berkontribusi maksimal pada pertumbuhan ekonomi daerah.”
Dari warung Soto Banjar di Pekapuran A hingga home industri Ikan Saluang Crispy di Kotabaru, SE2026 menjadi alat untuk memastikan seluruh usaha di Kalsel mendapat pengakuan dan dukungan yang layak.
Sensus ini adalah langkah strategis dalam memetakan, memotret, dan memberdayakan pelaku usaha, dari mikro hingga menengah, demi membangun Indonesia yang maju dan inklusif.
Karena itu Sahabat Statistik, mari bersama kita #MencatatEkonomiIndonesia. Setiap usaha yang tercatat adalah bagian dari cerita besar ekonomi nasional dari Banua hingga seluruh nusantara.
