Menulis Itu Sulit? Padahal Sesungguhnya Sangat Mengasyikkan

0
MENULIS

Foto Ilustrasi - Dok Risanta.

Oleh: Muhammad Risanta

Banyak orang menganggap menulis adalah pekerjaan yang berat. Bahkan ada yang langsung merasa lelah hanya karena diminta membuat satu halaman tulisan. Ada yang bingung memulai, ada yang takut salah, ada pula yang merasa dirinya tidak berbakat menjadi penulis.

Padahal sesungguhnya, menulis adalah pekerjaan yang sangat mengasyikkan.

Saya sering menemukan orang yang sangat pandai berbicara, aktif berdiskusi, penuh gagasan, tetapi mendadak kehilangan arah ketika diminta menuangkannya dalam tulisan. Seolah-olah otaknya mendadak macet. Padahal ide di kepalanya sangat banyak.

Mengapa itu bisa terjadi?

Karena menulis memang bukan pekerjaan sederhana. Menulis adalah proses kognitif yang kompleks. Pikiran harus bekerja bersamaan dengan emosi, logika, ingatan, pilihan kata, hingga kemampuan menyusun alur berpikir secara runtut.

Dalam dunia pers, saya melihat menulis bukan hanya soal merangkai kata. Menulis adalah kemampuan mengelola pikiran agar bisa dipahami orang lain. Di situlah letak sulitnya.

Seseorang bisa saja memiliki ide brilian, tetapi gagal menuliskannya karena bingung menentukan dari mana harus memulai. Ada pula yang terlalu banyak berpikir sehingga justru tidak pernah jadi menulis.

Ketakutan juga menjadi faktor terbesar.

Takut tulisan dianggap jelek. Takut salah. Takut dikritik. Takut di-bully. Bahkan takut dianggap bodoh. Akibatnya, banyak orang lebih memilih diam daripada menulis.

Di era media sosial sekarang, hambatan psikologis ini semakin besar. Banyak orang ingin tulisannya langsung sempurna, langsung viral, langsung dipuji. Padahal hampir semua penulis besar memulai dari tulisan-tulisan yang biasa saja.

Dalam perspektif akademik, kondisi ini sebenarnya wajar. Menurut Mulyati dalam kajian yang dikutip Supriyadi (2023:142), menulis merupakan keterampilan berbahasa paling sulit dibanding keterampilan lainnya. Sebab menulis bukan sekadar menyalin kata atau kalimat, tetapi mengembangkan ide, gagasan, dan pikiran dalam bentuk tulisan yang utuh.

Artinya, kesulitan menulis bukan karena seseorang bodoh. Tetapi karena otak memang sedang bekerja sangat kompleks.

Namun menariknya, semakin sering menulis, proses itu justru berubah menjadi menyenangkan.

Saya pribadi merasakan menulis seperti berbicara dengan diri sendiri. Kadang menulis menjadi ruang paling jujur untuk menuangkan kegelisahan, kemarahan, kebahagiaan, bahkan mimpi-mimpi yang sulit diucapkan secara langsung.

Menulis juga membuat seseorang lebih teratur berpikir. Orang yang terbiasa menulis biasanya lebih mudah menyusun argumentasi, lebih tajam membaca persoalan, dan lebih tenang mengambil keputusan.

Dalam dunia jurnalistik, ritme menulis bahkan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Wartawan tidak punya kemewahan untuk terlalu lama menunggu inspirasi. Deadline memaksa otak untuk terus hidup.

Dari situlah saya belajar bahwa mood menulis sebenarnya tidak selalu datang dengan sendirinya. Mood justru dibangun melalui kebiasaan.

Banyak orang menunggu semangat dulu baru menulis. Padahal yang benar justru sebaliknya menulislah terlebih dahulu, maka semangat akan mengikuti.

Ada beberapa cara sederhana yang menurut saya efektif untuk membangunkan mood menulis dan menjaga ritmenya.

Pertama, jangan berpikir harus langsung bagus. Tulis saja dulu. Jangan terlalu sibuk mengedit di awal. Biarkan ide keluar tanpa rem. Tulisan buruk masih bisa diperbaiki, tetapi halaman kosong tidak akan pernah menjadi apa-apa.

Kedua, mulailah dari hal yang paling dekat dengan diri sendiri. Pengalaman sehari-hari, keresahan kecil, percakapan sederhana, atau peristiwa yang baru dilihat sering kali justru menjadi tulisan paling hidup.

Ketiga, biasakan membaca. Penulis yang jarang membaca biasanya cepat kehabisan bahan bakar. Membaca membantu memperkaya kosakata, sudut pandang, dan irama berpikir.

Keempat, jangan terlalu perfeksionis. Banyak orang gagal menulis karena ingin hasil sempurna pada percobaan pertama. Padahal menulis adalah proses revisi tanpa akhir.

Kelima, ciptakan ritme kecil tetapi konsisten. Tidak perlu langsung menulis lima halaman sehari. Satu paragraf setiap hari jauh lebih baik daripada menunggu inspirasi besar yang tidak kunjung datang.

Dan yang paling penting, nikmati prosesnya.

Karena sesungguhnya menulis bukan hanya soal menghasilkan teks. Menulis adalah cara manusia meninggalkan jejak pikirannya. Ada gagasan yang hidup lebih lama melalui tulisan dibanding usia penulisnya sendiri.

Itulah sebabnya saya selalu percaya, menulis bukan bakat segelintir orang. Menulis adalah keterampilan yang bisa dilatih siapa saja.

Mungkin awalnya terasa sulit. Tetapi ketika seseorang mulai menemukan ritmenya, menulis justru berubah menjadi candu intelektual yang mengasyikkan.

Penulis adalah Ahli Pers Dewan Pers & Jurnalis Senior CNN Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!