RISANTA BERLARI

Foto Ilustrasi - Penulis sekedar bernostalgia ikut Fun Run bersama teman-teman seangkatan penggemar olahraga lari. (Foto - Risanta).

Oleh: Muhammad Risanta

Ada satu hal yang belakangan terasa berbeda dari jalanan kota, pemandangan tak biasa orang-orang berlari, tapi tidak sedang terburu-buru.

Saya melihatnya bukan pertama kali. Di beberapa kota besar di Indonesia, pemandangan itu mulai akrab. Tapi ketika ia hadir di Banjarmasin, ada nuansa lain lebih hangat, lebih cair, dan entah kenapa, terasa dekat. Seolah-olah ini bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan yang akhirnya menemukan bentuknya.

Kita menyebutnya Fun Run.Sebutan yang begitu populer dalam dimensi metropolis.

Dulu, lari adalah soal capaian. Waktu terbaik. Jarak terjauh. Napas yang dipaksa untuk bertahan. Ada disiplin, ada target, ada kompetisi. Tidak semua orang nyaman di sana. Tidak semua orang merasa punya tempat.

Setidaknya pengalaman ini pernah saya rasakan ketika masih remaja dan menginjak berumah tangga. Maklum dulu sempat menjadi atlet muda lari dibawah binaan almarhum pelatih terbaik Banua, Pak Oyong dan Pa Kamarul (atlet sekaligus pelatih atletik kenamaan pada zamannya).

Saya pun pernah merasakan atmosfer latihan keras dan perlombaan lari.Meskipun masih kalah dibawah nama besar almarhum M Arsyad (Kai Api), Almarhum Erwansyah dan Tajudin Noor Admy, serta Ali Akbar, Nunung, Razi, Imamis, Khalil serta Junaidi, namun setidaknya saya beruntung pernah satu klub dan latihan serta berlomba bersama.

 

Penulis (kaos merah) bersama pelari sekaligus Bintang Timnas Sepakbola Indonesia era tahun  80-90 an, I Made Pasek Wijaya.Foto tahun 1992. (Dok -Pribadi).

Nah kembali ke Fun Run Lalu fun run datang seperti jeda. Karena berlari disini tidak menuntut siapa yang paling cepat. Ia hanya mengajak  ayo, bergerak saja dulu.

Fun Run tumbuh bukan dari ambisi olahraga, tapi dari kebutuhan sosial. Dunia yang makin cepat, makin individual, dan makin penuh tekanan, perlahan menciptakan ruang kosong dalam diri banyak orang.

Mereka butuh bergerak, ingin sehat, tapi tidak ingin tertekan. Mereka ingin bertemu, tapi tidak tahu harus mulai dari mana.Beruntungnya Fun Run menjawab itu semua, dengan cara yang sederhana

Jadi sederhananya tidak ada standar tinggi. Tidak ada ekspektasi berlebihan. Bahkan, kalau mau jujur, banyak yang ikut bukan untuk lari, tapi untuk hadir.

Di Banjarmasin, fenomena ini terasa hidup.

Bayangkan malam hari. Jalanan yang biasanya dipenuhi kendaraan, tiba-tiba berubah menjadi ruang manusia.

Lampu kota menyala, memantul di aspal, dan di tengahnya ada ratusan orang bergerak bersama. Ada yang berlari serius, ada yang santai, ada yang sambil tertawa.

Tidak ada yang saling mengalahkan. Yang ada, saling menguatkan.

Saya melihat anak muda yang mungkin sehari-hari sibuk dengan gawai, kini berlari sambil bercanda dengan temannya.

Saya melihat keluarga yang menjadikan ini sebagai waktu bersama. Saya melihat orang-orang yang sebelumnya hanya penonton, akhirnya ikut turun ke jalan.

Kenapa peminatnya terus bertambah?

Karena ia tidak eksklusif. Semua orang merasa punya tempat.
Karena ia tidak kaku. Semua orang bebas menjadi dirinya sendiri. Dan karena ia “mengerti zaman”.

Di era di mana pengalaman lebih berharga dari sekadar hasil, Fun Run menawarkan keduanya aktivitas fisik sekaligus cerita yang bisa dibagikan.

Jersey yang menarik, rute yang estetik, medali yang layak dipamerkan semua itu bukan sekadar pemanis. Itu cara fun run berbicara dengan generasi hari ini.

Tapi di balik itu, ada hal yang lebih mendalam.

Saat orang berlari, tubuhnya bekerja, pikirannya mereda. Ada endorfin yang dilepas, ada beban yang pelan-pelan luruh. Mungkin mereka tidak datang dengan niat “mencari ketenangan”, tapi pulang dengan perasaan yang lebih ringan. Dan itu cukup.

Di tengah kehidupan yang sering terasa berat, fun run menawarkan sesuatu yang sederhana  bergerak bersama, tanpa tekanan. Banjarmasin sedang merayakan itu.

Jadi kalau suatu malam Anda melihat jalanan Banjarmasin dipenuhi orang yang berlari dengan wajah bahagia, jangan buru-buru bertanya siapa yang menang.

Karena di fun run, semua orang sudah menang sejak mereka memutuskan untuk mulai.Yok Kita Fun Run bersama !.

*Penulis adalah Jurnalis CNN Indonesia & Akademisi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!