Rimba, Kebaya, dan Revolusi Sunyi Kartini

0
ABBY DAN PENDAKI

Penulis saat bersama pendaki perempuan di Gunung Tambora Nusa Tenggara Barat. (Foto - Risanta).

Oleh: Abby
(Traveler & Founder Yayasan Elang Khatulistiwa Indonesia)

Setiap tanggal 21 April, kita kerap terjebak dalam romantisme simbolis: sanggul yang rapi dan kebaya yang anggun.

Namun, sebagai seorang traveler yang lebih banyak menghabiskan waktu di jantung rimba ketimbang di ruang seremonial, saya melihat manifestasi roh Kartini yang jauh lebih gahar.

Di pelosok Nusantara, Kartini masa kini tidak sedang bersolek di depan cermin mereka sedang mengenakan sepatu bot, menggenggam GPS, dan menjadi benteng terakhir bagi ekosistem kita yang kian rapuh.

Melalui Yayasan Elang Khatulistiwa Indonesia, saya menyaksikan sendiri bagaimana perempuan bertransformasi dari sekadar saksi bisu menjadi arsitek kelestarian alam.

Emansipasi kini bukan lagi sekadar retorika kesetaraan di atas kertas, melainkan aksi nyata di lapangan yang memicu efek domino ekonomi dan ekologi.

Garda Depan di Jalur Patroli
Lihatlah apa yang terjadi di pedalaman Rejang Lebong atau di tanah Aceh. Kelompok Perempuan Peduli Lingkungan (KPPL) di sana telah mendobrak stigma.

Mereka melakukan patroli hutan secara mandiri,sebuah domain yang dulunya dianggap “milik laki-laki”. Mereka tidak hanya mengawasi perambahan, tetapi juga memastikan kedaulatan air bersih tetap terjaga.

Data dari Global Forest Watch (GFW) kini tak lagi asing di jemari mereka. Penggunaan teknologi ini menjadi bukti bahwa literasi digital telah merasuk hingga ke akar rumput, memungkinkan perempuan memantau deforestasi secara real-time.

Inilah pergeseran paradigma, perempuan kini memegang kendali atas data untuk melindungi tanah ulayat dan hutan adat mereka.

 

Penulis bersama dua aktivis lingkungan dan penggiat kompetensi Pemandu wisata minat khusus. (Foto – Dok Pribadi).

Pemandu Wisata, Diplomasi Konservasi dan Ekonomi

Beralih ke sektor pariwisata minat khusus, peran perempuan kian tak terbendung. Di desa-desa wisata seperti Bilebante, perempuan adalah pemimpin lokal sekaligus pemandu yang mengantongi sertifikasi kompetensi dari Direktorat Jenderal KSDAE.

Mereka bukan sekadar pengantar tamu mereka adalah interpreter alam yang mampu memadukan keramah-tamahan (hospitality) dengan edukasi lingkungan yang mendalam.

Bagi saya, ini adalah bentuk kedaulatan ekonomi. Ketika seorang perempuan di pelosok mampu memimpin pengelolaan sampah di Karimunjawa atau mengelola unit usaha perhutanan sosial, ia sedang memutus rantai kemiskinan sekaligus menjaga daya dukung lingkungan.

Inklusi ekonomi yang mereka gerakkan bersifat sirkular dan berkelanjutan,sesuatu yang seringkali luput dari skema pembangunan perkotaan yang eksploitatif.

Refleksi, Kartini sebagai Pembawa Peradaban

Esensi perjuangan R.A. Kartini adalah pembukaan akses. Hari ini, akses itu telah terbuka lebar ke arah hutan, laut, dan puncak-puncak gunung. Perempuan tidak lagi menjadi objek dalam narasi pelestarian, melainkan subjek aktif yang mengintegrasikan aspek lingkungan dengan kemandirian finansial.

Maka, memaknai Hari Kartini hari ini berarti merayakan keberanian perempuan yang berpeluh keringat di jalur rimba demi memastikan generasi mendatang masih memiliki oksigen untuk dihirup. Mereka adalah pembawa peradaban dan mitra sejajar dalam pembangunan bangsa.

Bagi saya, Kartini yang paling sejati adalah dia yang berani melangkah melampaui zona nyaman, melawan diskriminasi dengan prestasi, dan menjadikan alam sebagai panggung pengabdiannya.

Selamat Hari Kartini untuk para pejuang lingkungan di seluruh pelosok Banua dan Nusantara. Teruslah mengepakkan sayap, karena di tangan kalian, masa depan bumi ini dititipkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!