Duta Tiwi-Wanadri, Bangun Ekosistem Pemandu Wisata Kelas Dunia
Sinergisitas luar biasa penggiat pariwisata alam membangun ekosistem pemandu wisata berbasis kompetensi global.(Foto-Humas Duta TIWI).
Industri pariwisata minat khusus Indonesia memasuki babak baru dalam standarisasi sumber daya manusia.
Asosiasi Pemandu Wisata Bhakti Pertiwi (Duta Tiwi) bersama Yayasan Elang Khatulistiwa Indonesia resmi menggandeng Pusat Sertifikasi Alam Terbuka Wanadri untuk membangun ekosistem pemandu wisata berbasis kompetensi global.
Kolaborasi strategis ini dikukuhkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) pada Minggu (19/04/2026) di Ekuator Hub, Bandung.
Langkah ini diambil sebagai respons atas meningkatnya anomali antara lonjakan kunjungan wisata alam dengan ketersediaan pemandu yang tersertifikasi secara profesional.
Ketua Duta Tiwi, Andi Sukandi, menegaskan bahwa tanpa standar yang jelas, potensi wisata alam Indonesia hanya akan menjadi bom waktu. “Kita tidak bisa lagi mengandalkan cara-cara konvensional. Ekosistem yang kami bangun bersama Wanadri bertujuan melahirkan pemandu yang tidak hanya fasih bercerita tentang alam, tetapi juga ahli dalam manajemen risiko dan penyelamatan nyawa,” tegas Andi.

Sinergi ini memfokuskan pada tiga pilar utama penyusunan kurikulum pelatihan yang adaptif, pelaksanaan sertifikasi kompetensi yang ketat, dan pengembangan lokakarya berkelanjutan.
Inisiatif ini bertujuan memastikan setiap pemandu di lapangan memiliki kualifikasi yang setara dengan standar internasional.
Dr. Sri Handajani, M.Pd., Ketua Pusat Sertifikasi Alam Terbuka Wanadri, menyatakan bahwa sertifikasi adalah instrumen krusial untuk membangun kepercayaan pasar global terhadap pariwisata Indonesia.
“Dunia melihat Indonesia sebagai surga petualangan. Tugas kami adalah memastikan ‘surga’ ini dikelola oleh tangan-tangan profesional yang menempatkan keselamatan sebagai fondasi tertinggi. Sertifikasi ini adalah jaminan kualitas bagi wisatawan domestik maupun mancanegara,” jelasnya.
Kolaborasi ini diharapkan menjadi katalisator bagi transformasi industri pariwisata nasional.
Dengan standarisasi yang solid, pemandu wisata lokal tidak lagi hanya menjadi penunjuk jalan, melainkan menjadi pilar profesional yang mampu meningkatkan nilai jual destinasi wisata Indonesia di kancah dunia.
Ekuator Hub di Bandung dipilih sebagai saksi dimulainya revolusi ini, menandai komitmen bersama untuk mencetak tenaga ahli yang siap menjaga reputasi dan keselamatan di setiap jengkal alam Nusantara.(Fikri Husaini).
