Sahrujani-Hero, Revolusi Ekonomi Hijau HSU
Foto Ilustrasi - Dok Risanta.
Oleh: Muhammad Risanta
Pemandangan di Amuntai Expo 2026 bukan sekadar panggung pameran rutin yang terjebak dalam jebakan seremonial.
Kehadiran Bupati H. Sahrujani dan Wakil Bupati Hero Setiawan yang memilih “melebur” dalam aktivitas perajin muda di stan APINDO, memberikan sinyalemen kuat tentang arah baru pembangunan ekonomi di Hulu Sungai Utara (HSU).
Dari perspektif jurnalisme ekonomi dan akademisi, momentum ini adalah manifestasi nyata dari integrasi teori manajemen modern ke dalam praktik birokrasi yang lincah (agile governance).
Ini bukan sekadar kunjungan kerja; ini adalah pernyataan visi tentang bagaimana sebuah daerah mendefinisikan ulang masa depannya.

Transformasi Kepemimpinan Melampaui Batas Transaksional
Dalam diskursus leadership, gaya kepemimpinan duet Sahrujani-Hero merepresentasikan pergeseran radikal dari model Transactional Leadership menuju Transformational Leadership.
Kepemimpinan transaksional cenderung kaku, hanya terpaku pada relasi “perintah dan kepatuhan” serta imbalan birokratis yang bersifat jangka pendek.
Sebaliknya, apa yang ditunjukkan di HSU adalah kepemimpinan transformasional yang mampu mengubah nilai, motivasi, dan cara pandang pengikutnya.
Mereka memutus sekat protokoler untuk membangun shared vision langsung di akar rumput. Dengan menaruh atensi khusus pada regenerasi perajin usia sekolah (SD dan SMP), pimpinan HSU sejatinya sedang melakukan investasi pada “simpul emosional” masyarakat.
Secara teoritis, ini adalah upaya membangun Intellectual Stimulation, sebuah kondisi di mana pemimpin mendorong pelaku UMKM untuk berinovasi dan berani mendobrak zona nyaman tradisional demi daya saing yang lebih kompetitif di pasar global.

Anatomi Perilaku Organisasi dan Budaya Empati
Dalam kajian Organizational Behavior (OB), pendekatan Sahrujani-Hero menyentuh esensi Organizational Citizenship Behavior (OCB). Kehadiran fisik tanpa jarak menciptakan preseden budaya kerja baru di lingkungan Pemkab HSU sebuah ekosistem yang lebih empatik dan suportif terhadap sektor informal. Kepemimpinan ini memahami bahwa perilaku organisasi yang sehat dimulai dari keteladanan di puncak (tone at the top).
Langkah strategis ini efektif untuk meruntuhkan “tembok raksasa” birokrasi dan inefisiensi yang selama ini menjadi penghambat utama akselerasi pelaku UMKM.
Jika kita membedah kebijakan Pemkab HSU melalui kacamata manajemen fungsional, terdapat empat pilar krusial yang saling mengunci secara strategis:
Manajemen SDM (Regenerasi Talenta): Melibatkan pelajar dalam ekosistem anyaman adalah strategi Talent Management jangka panjang. HSU sedang memitigasi risiko kelangkaan tenaga kerja terampil (skilled labor) melalui transfer pengetahuan antar-generasi. Ini bukan sekadar melestarikan budaya, melainkan memastikan keberlanjutan unit produksi ekonomi daerah.
Manajemen Operasional (Hilirisasi & Rantai Pasok): Fokus pada penggunaan bahan baku lokal seperti purun, eceng gondok, dan bamban adalah bentuk optimalisasi Supply Chain Management (SCM) berbasis keunggulan komparatif. Transformasi material mentah menjadi produk bernilai tambah tinggi (high-value products) menunjukkan kedalaman pemahaman pada efisiensi operasional dan standar kualitas internasional.
Manajemen Pemasaran (Place Branding & Positioning): Melalui Amuntai Expo, Pemkab HSU sedang melakukan rebranding identitas daerah. Mereka mereposisi HSU dari sekadar pasar regional menjadi hub Green Economy. Ini adalah strategi Marketing Mix yang cerdas untuk menarik atensi investor dan konsumen global yang kini sangat sensitif terhadap isu-isu keberlanjutan (sustainability).
Perilaku Ekonomi (Insentif & Multiplier Effect): Secara makro, keberpihakan total pada UMKM bertujuan mempercepat perputaran uang di tingkat lokal (velocity of money). Dengan memperkuat basis ekonomi mikro, HSU sedang membangun bantalan ekonomi yang resilien (tangguh) terhadap fluktuasi ekonomi nasional maupun global.

Menenun Kedaulatan Ekonomi Baru
Apa yang diikhtiarkan Sahrujani dan Hero adalah sebuah pesan ideologis yang kuat, bahwa pembangunan ekonomi tidak boleh tercerabut dari akar budayanya.
Mereka sedang membangun ekosistem di mana tradisi diakomodasi oleh teknologi, dan kebijakan publik dipandu oleh empati.
Bagi Hulu Sungai Utara, anyaman kini bukan lagi sekadar kerajinan tangan kelas dua. Di bawah nakhoda kepemimpinan yang menguasai seni manajemen operasional hingga pemasaran strategis, serat-serat purun itu kini tengah ditenun menjadi pilar “Revolusi Hijau” yang modern, berkelas, dan berkelanjutan.
Tantangan terbesarnya kini tinggal satu, konsistensi birokrasi untuk menjaga agar denyut nadi revolusi ekonomi ini tetap kencang melampaui periodisasi jabatan politik.
HSU hari ini adalah laboratorium nyata bagaimana kepemimpinan yang tepat mampu mengubah keterbatasan menjadi kekuatan ekonomi yang memartabatkan rakyatnya.

