Bukan Haji Gratis, Ini Beban Mandat!
Foto Ilustrasi - Irjen Kemenag Khairunas.menggendong seorang jemaah haji lansia yang kepanasan dan kebingungan karena diturunkan bus bukan pada hotelnya pada musim haji tahun lalu.. (Foto-MCH Indonesia).
Oleh: Muhammad Risanta
Di ruang aula Asrama Haji Banjarmasin, Kamis (16/4/2026) siang itu, udara seolah memadat saat nama-nama petugas diumumkan untuk dikukuhkan secara resmi.
Di depan panggung, 99 personel berdiri tegak, merapikan barisan di bawah sorotan lampu dan harapan ribuan calon jemaah.
Namun, bagi seorang jurnalis yang terbiasa melihat di balik tirai seremonial, ini bukan sekadar prosesi pelantikan. Ini adalah penyerahan “beban langit” yang bernama Mandat Suci.
Satu hal yang harus ditegaskan sejak awal menjadi petugas haji, baik PPIH maupun PHD, bukanlah tiket emas fasilitas negara untuk berangkat ke Tanah Suci secara gratis.
Jika ada yang berpikir demikian, maka ia telah gagal sejak dalam pikiran. Menjadi petugas adalah tentang menanggalkan kenyamanan pribadi demi memastikan setiap “Tamu Allah” mendapatkan haknya tanpa cacat.
Menjadi petugas haji sering kali disalahartikan sebagai “rezeki” berupa perjalanan ibadah gratis ke Tanah Suci.
Namun, bagi 99 personel yang dikukuhkan di Asrama Haji Banjarmasin, Kamis (16/4/2026) siang, seragam yang mereka kenakan bukanlah tiket wisata religi.
Itu adalah jubah tanggung jawab yang berat, sebuah mandat suci yang menuntut dedikasi total di atas kepentingan pribadi.

Gubernur Kalimantan Selatan, melalui Sekdaprov H. Muhammad Syarifuddin, telah mematok standar tinggi. Tiga pilar utama Melayani, Melindungi, dan Memuliakan, ini bukan sekadar jargon di spanduk.
Pernyataan ini tentu harus menjadi kompas moral yang berdetak di setiap langkah petugas.
Melayani berarti hadir saat jemaah bingung, melindungi berarti pasang badan saat jemaah dalam bahaya, dan memuliakan berarti menempatkan martabat jemaah di atas ego pribadi.
Ketajaman komitmen ini juga diuji secara nyata justru di meja makan melalui Meal Test. Mengapa urusan makanan menjadi begitu sentral?
Karena di dalam butiran nasi dan potongan lauk yang diperiksa oleh Sekdaprov bersama Anggota Komisi VIII DPR RI, H. Sudian Noor, dan Kakanwil Kemenhaj Kalsel, Dr. H. Eddy Khairani, terletak nyawa dari pelayanan itu sendiri.
Sehat dan amannya makanan adalah harga mati. Jemaah yang akan menempuh perjalanan fisik ribuan kilometer butuh asupan yang tak hanya mengenyangkan, tapi juga bebas dari zat berbahaya dan terjaga gizinya.

Memastikan makanan jemaah aman adalah bentuk konkret dari memuliakan tamu. Bagaimana mungkin seorang jemaah bisa beribadah dengan khusyuk jika raga mereka tumbang akibat kelalaian dalam urusan dapur?
Setiap petugas harus sadar, di balik seragam yang mereka kenakan, ada keringat dan air mata jemaah yang telah menabung puluhan tahun.
Maka, ketika para pejabat turun tangan langsung mencicipi dan memeriksa detail menu, pesan yang dikirimkan sangat kuat, pengawasan tidak boleh kendor satu inci pun.
Mandat telah diketuk. 99 petugas kini memikul tanggung jawab besar untuk membuktikan bahwa Embarkasi Banjarmasin bukan sekadar gerbang keberangkatan, melainkan rumah perlindungan.
Sejatinya pula suksesnya penyelenggaraan haji 1447 H tidak diukur dari megahnya seremoni pengukuhan.
Melainkan dari senyum puas jemaah saat mereka kembali dengan predikat mabrur, berkat pelayanan petugas yang ikhlas menghamba pada kemanusiaan. Selamat menjalankan tugas mulia ini!

