ASPPI di Usia 18, Merawat Nalar, Menggerakkan Arah Pariwisata
Oleh : Muhammad Risanta
Ada organisasi yang lahir dari kebutuhan administratif. Ada pula yang tumbuh dari kegelisahan.
Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) jelas berada pada kategori kedua.
Ia tidak dibangun oleh ambisi kekuasaan, melainkan oleh kesadaran kolektif, bahwa pariwisata Indonesia pernah goyah, dan ketika itu terjadi, yang paling dibutuhkan bukan sekadar strategi, tetapi jaringan kepercayaan.
Sejarah pun dimulai dari sebuah mailing list bernama TRASS.Mereka yang merupakan para pelaku wisata menemukan kembali satu hal yang hampir hilang, yakni rasa memiliki terhadap industri ini.
Delapan belas tahun kemudian, pertanyaannya bukan lagi bagaimana ASPPI berdiri. Pertanyaan yang lebih relevan, sejauh mana ia mampu berpikir, bertindak, dan menentukan arah.
Usia 18 sering dirayakan sebagai simbol kedewasaan. Tetapi dalam organisasi, kedewasaan bukan perkara angka. Namun sejatinya diukur dari kemampuan membaca zaman dan keberanian untuk tidak sekadar ikut arus.

Pariwisata Indonesia hari ini itu bergerak dalam lanskap yang kompleks. Ia tidak lagi sekadar menjual panorama, tetapi juga pengalaman, keberlanjutan, dan narasi.
Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat, tetapi untuk memahami. Dalam konteks ini, pelaku pariwisata tidak bisa lagi bekerja secara sporadis. Mereka membutuhkan orkestrasi.
Bagi penulis yang berlatar belakang Jurnalis dan akademisi, sosok ASPPI adalah wadah lintas profesi, mulai dari biro perjalanan, pemandu wisata, hingga penggerak desa wisata.
Satu hal penting itu adalah ASPPI sebenarnya memegang satu fungsi yang jarang disadari, yakni sebagai produsen makna dalam industri pariwisata.
“Organisasi ini bukan hanya menggerakkan orang, tetapi juga membentuk cara pandang terhadap destinasi,” begitu pendapat sebagian ahli pariwisata dalam berbagai diskusi.
Travel mart, table top, atau adventure trip bukan sekadar agenda rutin. Semua itu adalah instrumen produksi nilai.

Karena disana sudah pasti ada destinasi dinegosiasikan, cerita dikonstruksi, dan persepsi dibentuk. Jadi wajar saja, jika Pariwisata pada akhirnya, adalah tentang bagaimana sebuah tempat dipahami dan memang pasti ASPPI ikut menentukan pemahaman itu.
Namun, kekuatan terbesar ASPPI bukan pada programnya, melainkan pada filosofinya yang nyaris sederhana, persahabatan dan persaudaraan.
Dalam logika bisnis modern, ini terdengar naif. Industri pariwisata adalah ruang kompetisi,siapa cepat, dia dapat. Siapa kuat, dia menang.
Tetapi ASPPI memilih jalan yang berbeda, membangun ekosistem berbasis kepercayaan.Inilah kekuatan sejatinya serta letak kecerdasannya.
Akademisi tentu sepakat bahwa ekonomi pariwisata tidak pernah benar-benar berdiri sendiri. Ia bergantung pada jejaring antara pelaku usaha, pemerintah, komunitas lokal, hingga wisatawan itu sendiri.
Tanpa kepercayaan, jejaring ini akan rontok dan mudah jatuh. Tanpa kolaborasi, ia mudah runtuh. ASPPI, sejak awal, tampaknya memahami ini bukan sebagai pilihan, tetapi sebagai prasyarat.
Karena itu, ketika organisasi ini bertahan hingga usia 18 tahun dengan jejaring yang kian luas, yang sebenarnya sedang kita lihat adalah keberhasilan menjaga sesuatu yang tak kasat mata, sebuah kohesi sosial dalam industri.

Meski demikian, bertahan tidak sama dengan cukup.
ASPPI hari ini dihadapkan pada tantangan yang lebih subtil, bagaimana tetap relevan di tengah perubahan cepat. Digitalisasi, perubahan perilaku wisatawan, hingga tuntutan pariwisata berkelanjutan bukan lagi wacana, melainkan realitas.
Meningkatkan kualitas SDM seperti yang menjadi fokus ASPPI saat ini bukan sekadar program pelatihan dan kompetensi orang di dalamnya.
Karena itu dalam pandangan kami, ia harus dibaca sebagai investasi intelektual. Pelaku pariwisata tidak cukup hanya terampil, mereka harus mampu membaca tren, memahami data, dan membangun narasi yang kuat.
Demikian pula dengan sinergi. Kata ini sering terdengar klise, tetapi dalam praktiknya sangat konkret. Sinergi berarti menghapus ego sektoral, menyederhanakan koordinasi, dan membuka ruang kolaborasi yang setara.
Tanpa itu, pariwisata hanya akan bergerak dalam fragmen-fragmen kecil yang tidak pernah menjadi kekuatan besar.
Di tengah semua itu, jargon “ASPPI Bisa, Harus Bisa, dan Pasti Bisa” menemukan konteksnya.
Jika dibaca sepintas, ia terdengar seperti slogan optimisme. Tetapi jika ditelisik lebih dalam, ia adalah struktur berpikir.
Bisa adalah pengakuan atas potensi.
Harus bisa adalah kesadaran akan tanggung jawab.
Pasti bisa adalah komitmen untuk mengeksekusi.
Tiga lapisan ini, jika dijalankan secara konsisten, menjadikan organisasi bukan sekadar simbol, tetapi instrumen perubahan.
Sebagai jurnalis, saya terbiasa melihat realitas secara dingin, data, fakta, dan kecenderungan. Sebagai bagian dari ASPPI, saya melihat sesuatu yang lebih hangat, harapan yang bekerja dalam diam.
ASPPI tidak selalu hadir dalam headline besar. Organisasi yang sekarang dinakhodai Azwani “Popon” Awi itu sering bekerja di ruang-ruang sunyi,di balik penyelenggaraan event, dalam diskusi-diskusi kecil, atau dalam perjalanan menjelajahi destinasi yang belum banyak dikenal. Tetapi justru dari ruang-ruang itulah pariwisata Indonesia bergerak.
Delapan belas tahun bukanlah puncak. Bagi saya pribadi ini adalah fase ketika organisasi diuji.Sederhannaya pakah ia masih mampu berpikir jernih, bergerak efektif, dan tetap setia pada nilai awalnya.
Jika ASPPI mampu menjaga ketiganya seperti nalar, gerak, dan nilai, maka ia tidak hanya akan bertahan. Ia akan menjadi salah satu penentu arah.
Sejatinya, pariwisata Indonesia tidak hanya membutuhkan promosi. Ia membutuhkan organisasi yang mampu berpikir.
ASPPI, sejauh ini, sedang menuju ke sana.Berada dalam lintasan sejarah yang memberikan makna. Selamat Ulang Tahun ASPPI!.

