Menulis Itu Nafas Akademisi, Bukan Sekadar Kewajiban
Oleh : Muhammad Risanta
Beberapa waktu lalu saya mendapat pertanyaan yang tampak sederhana tetapi sesungguhnya menyimpan kegelisahan yang cukup dalam.
Bagaimana pandangan saya terhadap kebijakan menteri yang mewajibkan dosen menulis di jurnal ilmiah bahkan dikaitkan dengan tunjangan.
Saya menjawabnya ringan. Mungkin terlalu ringan bagi sebagian orang.
Bagi saya menulis bukan beban administratif. Ia adalah nafas akademisi.
Belakangan saya memahami bahwa kebijakan itu di sejumlah kampus menimbulkan keresahan. Tidak sedikit dosen bahkan guru besar yang merasa terbebani.
Bukan karena mereka tidak bisa menulis tetapi karena tuntutan publikasi di jurnal terakreditasi apalagi bertaraf internasional dianggap terlalu tinggi dan terasa dipaksakan.
Di titik ini kita perlu jujur melihat persoalan. Apakah masalahnya ada pada kebijakan atau justru pada cara kita memaknai profesi dosen itu sendiri.
Sebagai akademisi tugas utama dosen bukan hanya mengajar. Ia meneliti lalu menuliskan temuannya. Dan kalau mau jujur justru dari situlah ilmu berkembang.
Saya sering mengibaratkan bahwa bagi dosen tulisan adalah hasil panen. Petani yang tidak panen akan dipertanyakan. Nelayan yang tidak mendapatkan ikan juga demikian. Lalu bagaimana dengan dosen yang tidak pernah menulis.

Lebih jauh lagi menulis adalah proses berpikir. Orang yang tidak menulis dalam jangka panjang biasanya juga berhenti berpikir secara mendalam. Ia mungkin tetap berbicara di kelas tetapi yang disampaikan cenderung berulang dan kehilangan kebaruan.
Karena itu ketika ada kewajiban menulis saya melihatnya bukan sebagai tekanan tetapi sebagai pengingat agar seorang dosen tidak berhenti menjadi ilmuwan.
Meski demikian saya tidak menutup mata bahwa ada jarak antara idealisme dan realitas. Menembus jurnal terakreditasi apalagi internasional memang tidak mudah.
Ada standar metodologi ada tuntutan kebaruan ada aturan penulisan yang ketat. Di sisi lain dosen juga dihadapkan pada beban mengajar yang tidak ringan serta keterbatasan ekosistem riset di sejumlah kampus.
Di sinilah kebijakan seharusnya tidak hanya hadir sebagai tuntutan tetapi juga sebagai dukungan. Pelatihan menulis pendampingan publikasi akses referensi serta ruang kolaborasi menjadi hal yang tidak bisa diabaikan. Tanpa itu kewajiban menulis bisa berubah menjadi tekanan yang tidak sehat.
Kabar baiknya menulis ilmiah bukan bakat bawaan. Melainkan keterampilan yang bisa dilatih. Saya sering mengatakan kepada mahasiswa dan dosen muda untuk memulai dari hal yang sederhana tetapi dilakukan secara konsisten.
Mulailah dari topik yang dekat dengan keseharian akademik. Bisa dari hasil penelitian kecil dari tugas akhir mahasiswa atau dari fenomena yang ditemui di lapangan.
Yang penting ada kebaruan meski tidak besar. Dalam dunia ilmiah kebaruan tidak harus revolusioner. Cukup memberi sudut pandang baru sudah memiliki nilai.

Sebelum menulis biasakan membaca. Tulisan yang baik lahir dari bacaan yang cukup. Dari sana akan terlihat celah penelitian yang bisa diisi.
Struktur penulisan ilmiah memang memiliki pola baku tetapi bukan berarti harus terasa kaku. Tulisan tetap perlu mengalir agar mudah dipahami. Menurut sebagian saran senior saya, di sinilah pendekatan jurnalistik bisa digunakan.
Menulis seperti jurnalis berpikir seperti akademisi. Kalimat harus jelas ringkas dan langsung pada pokok persoalan. Satu paragraf cukup memuat satu gagasan utama. Namun kedalaman analisis tetap harus terjaga dan data harus akurat.
Menulis juga soal disiplin bukan soal menunggu suasana hati. Luangkan waktu secara rutin meski hanya satu hingga dua jam setiap hari. Konsistensi jauh lebih penting daripada menunggu inspirasi datang.
Dalam prosesnya kejujuran akademik tidak bisa ditawar. Setiap kutipan harus dicantumkan setiap sumber harus dihargai. Plagiarisme bukan hanya pelanggaran tetapi juga mencederai integritas ilmiah.
Hal lain yang sering diabaikan adalah memahami karakter jurnal tujuan. Setiap jurnal memiliki gaya dan standar masing masing. Menyesuaikan tulisan dengan gaya tersebut sering kali menjadi penentu diterima atau tidaknya sebuah artikel.
Sejatinya menulis itu adalah investasi intelektual. Bagi dosen tulisan memperkuat reputasi dan karier. Bagi mahasiswa ia melatih cara berpikir kritis dan menjadi bekal masa depan. Bagi dunia ilmu pengetahuan tulisan adalah jejak yang bisa diwariskan.
Kebijakan bisa berubah dan aturan bisa berganti tetapi tradisi menulis tidak boleh hilang dari seorang akademisi.
Karena dosen yang baik bukan hanya yang mampu berbicara di kelas tetapi yang mampu meninggalkan gagasan dalam tulisan yang bisa dibaca diuji dan terus hidup melampaui zamannya.

