Sedapnya Sepiring Nasi Kandar Lebaran di Kuala Lumpur
Foto Ilustrasi - Made Ludya Edwi Shanty saat lebaran di Malaysia mengunjungi kerabat asli Malaysia di Kuala Lumpur. (Foto - M.Irfani).
Pagi itu, takbir belum sepenuhnya reda di langit Kuala Lumpur. Udara masih menyimpan gema kemenangan, tapi dari lorong-lorong kota, ada yang lebih dulu bangun, yakni aroma rempah.
Aromanya pun menyelinap pelan, menembus sela-sela gedung, menuntun langkah ke satu tempat yang sama, sebuah kedai nasi kandar.
Lebaran di negeri jiran, rupanya, tak hanya soal maaf dan peluk hangat. Ada satu ritual lain yang tak tertulis, mencari sepiring nasi kandar, hidangan yang seolah menjadi penutup sempurna dari rangkaian silaturahmi.
Setidaknya Tim Economic Travelling.Com merasakan sesuatu berbeda lebaran di negeri jiran. Beruntung saat peliputan bertemu Made Ludya Edwi Shanty, Penggiat pariwisata nasional yang tengah berlebaran bersama keluarga di Kuala Lumpur.
Nasi kandar, bagi banyak orang, bukan sekadar santapan. Menu yang satu ini adalah jejak sejarah yang masih hangat. Dari Penang, para pedagang Muslim Tamil dulu memikul dua sisi kehidupan nasi di satu bahu, lauk di bahu lainnya.
Konon mereka ini berjalan dari satu sudut kota ke sudut lain, menawarkan bukan hanya makanan, tapi juga rasa kenyang yang sederhana dan jujur.
“Kini, warisan itu menjelma menjadi ikon. Dan setiap Lebaran, ia seperti dipanggil pulang, terbukti seperti ketupat dan opor ayam di negeri kita, Nasi Kandar pun demikian begitu istimewa,” cerita Ludya sambil mengajak Tim Economic Travelling.Com menikmati sedapnya nasi Kandar.

Lebih jauh Ludya yang kerap kali bertandang ke Malaysia, bercerita panjang kalau lelepas salat Ied, setelah pintu-pintu rumah terbuka dan hidangan khas keluarga disantap, langkah kaki sering kali berubah arah.
Bukan lagi ke ruang tamu, melainkan ke kedai. Di sana, antrean mengular tanpa keluhan. Wajah-wajah yang tadi saling bermaafan, kini bersatu dalam satu tujuan menikmati “banjir”.
Istilah itu terdengar sederhana, tapi di situlah letak keajaiban nasi kandar. Sepiring nasi putih hangat, disusun dengan ayam goreng merah yang renyah di luar dan lembut di dalam, kari sotong yang hitam pekat, hingga potongan kambing yang jatuh dari tulangnya.
Lalu, dengan satu gerakan cepat, kuah kari dari berbagai periuk disatukan dituangkan begitu saja, tanpa ragu.
Seperti hujan yang tak memilih tempat jatuh.
Aroma jintan, kapulaga, dan rempah India Selatan menyeruak. Tajam, hangat, dan menggoda. Dalam satu suapan, rasa gurih, pedas, dan sedikit manis berkelindan.
Tidak ada yang dominan, semuanya saling menguatkan. Ada sensasi nasi kandar bukan lagi sekadar makanan namun menjadi sebuah pengalaman traveling indah liburan lebaran.
Di kedai-kedai legendaris seperti Nasi Kandar Pelita atau Nasi Kandar Hamidiyah, suasana itu terasa lebih pekat. Meja-meja sederhana, suara piring beradu, obrolan ringan yang tak pernah benar-benar selesai. Orang datang dan pergi, tapi rasa tetap tinggal.
Berbeda dengan nasi Padang yang akrab di lidah Indonesia, nasi kandar menyuguhkan sesuatu yang lebih kompleks. Kuahnya bukan satu, melainkan campuran.
“Bumbu-bumbunya bukan sekadar santan, melainkan jejak panjang pengaruh India yang kuat. Di sinilah letak “liarnya”,sebuah keberanian rasa yang tidak kompromi.Kami pun langsung gaspol,” kata perempuan cantik yang pernah menjadi anggota DPRD Tanah Bumbu, Kalsel.
Dan mungkin, itu pula yang membuatnya cocok untuk Lebaran.
Karena Lebaran, seperti nasi kandar, adalah tentang percampuran. Tentang banyak rasa yang hadir bersamaan,sebuah bahagia, haru, rindu, dan syukur. Semuanya tumpah dalam satu waktu.
Tradisi ini, pelan-pelan, menyeberang. Di Jakarta, di sudut Kemang, atau di Batam yang lebih dekat secara geografis, nasi kandar mulai menemukan rumah barunya. Tapi tetap saja, ada yang berbeda. Ada yang tak bisa dipindahkan begitu saja, suasana.
“Tak heran bagi yang penggemar nasi Kandar, mereka pun rela terbang ke Kuala Lumpur hanya untuk merasakan sensasi sedapnya nasi kandar,” ungkap Husni Naparin, warga Banjarmasin yang baru saja menyelesaikan S3 di Kuala Lumpur.
Menurut Dosen UIN Antasari Banjarmasin ini menikmati nasi kandar di Malaysia saat Lebaran bukan hanya soal rasa di lidah. Tetapi adalah peristiwa. Ada tawa keluarga, ada cerita yang diulang setiap tahun, ada tangan-tangan yang saling berbagi lauk.
Dan di antara semua itu, ada satu hal yang selalu kembali: kesadaran bahwa kita sedang merayakan lebih dari sekadar hari raya.
Menikmati Nasi Kandar Malaysia, terkadang seperti anggapan orang kita sedang merayakan pulang. Pulang ke kenangan. Pulang ke kebersamaan.
Dan, diam-diam, pulang ke rasa yang dalam bentuk paling sederhana, hadir sebagai sepiring nasi kandar dengan kuah yang tak pernah benar-benar ingin berhenti mengalir.(Muhammad Irfani).

