Lebaran di Negeri Jiran, Hangatnya Silaturahmi Tanpa Sekat
Foto Ilustrasi - Penulis saat berada di Putra Jaya, Malaysia.
Oleh : Muhammad Risanta
Lebaran di Malaysia selalu punya cara sendiri untuk membuat siapa pun merasa pulang bahkan bagi mereka yang datang dari negeri seberang.
Ada rasa yang akrab, nyaris serupa dengan yang kita kenal di Indonesia, namun dengan sentuhan khas yang membuatnya tetap unik dan berkesan.
Segalanya dimulai dari satu kata yang begitu membumi, Balik Kampung. Ceritanya ini bukan sekadar perjalanan pulang, tetapi semacam ritual batin.
Jalan-jalan tol dipenuhi kendaraan, wajah-wajah lelah bercampur rindu, dan harapan sederhana untuk bisa berkumpul kembali dengan keluarga. Dari perjalanan di atas aspal berdebu ini Lebaran mulai terasa, bahkan sebelum takbir benar-benar berkumandang.
Di pagi hari raya, suasana berubah menjadi lebih khidmat. Kaum pria mengenakan baju Melayu lengkap dengan samping yang dililit rapi di pinggang, sementara perempuan tampil anggun dengan baju kurung berwarna lembut.
Ada kesederhanaan yang justru memancarkan keindahan. Busana bukan sekadar pakaian, melainkan identitas bahwa Lebaran adalah tentang kembali pada akar budaya dan nilai.
Namun yang paling membekas dari Lebaran di Negeri Jiran adalah tradisi Open House atau Jamuan Raya. Pintu rumah terbuka lebar.
Siapa saja boleh datang, tetangga, sahabat, bahkan mereka yang berbeda keyakinan. Di meja makan, tidak ada sekat. Semua duduk bersama, menikmati hidangan yang disajikan dengan hati.Bagi perantauan atau yang pernah merasakan berlebaran di negeri Jiran, nuansanya seperti kampung sendiri di Indonesia.

Yang menarik adalah lemang mengambil tempat istimewa. Aroma beras ketan yang dimasak dalam bambu berpadu santan, disajikan bersama rendang yang kaya rempah, serta ketupat yang tak pernah absen dari meja Lebaran.
Sementara di sudut lain, tersaji kuih raya, kue-kue kecil yang manis, seperti bahulu, yang seolah menjadi simbol keramahan tuan rumah.Hal ini dirasakan sahabat dan kerabat kami, Dr Husni Naparin, Dosen UIN Antasari Banjarmasin dan owner Warung Ketupat Kaum.
Lebaran di Malaysia juga terasa panjang. katanya tidak berhenti di satu hari. Perayaan mengalir hingga berminggu-minggu, bahkan sebulan penuh.
“Setiap hari adalah kesempatan baru untuk bersilaturahmi, untuk bertamu dan menerima tamu, untuk kembali mempererat hubungan yang mungkin sempat renggang,” tutur Husni Naparin saat video call dengan kami.
Dan seperti di Indonesia, ada satu momen yang selalu sama: bersalaman, saling menatap, lalu mengucap, “Maaf Zahir dan Batin.”
Kalimat sederhana yang menjembatani banyak hal, tentang kesalahan yang pernah terjadi, jarak yang sempat tercipta, hingga ego yang akhirnya luruh.

Menariknya, pemerintah Malaysia pun ikut mengambil peran dalam memudahkan kebahagiaan ini. Pembebasan tarif tol menjelang Lebaran menjadi bukti bahwa perjalanan pulang bukan hanya urusan pribadi, tetapi juga bagian dari kepedulian bersama.
Hem, Sebuah kebijakan yang sederhana, namun berdampak besar bagi ribuan, bahkan jutaan pemudik.
Jika ini adalah happy endingnya, maka Lebaran di Negeri Jiran mengajarkan satu hal penting, bahwa kebahagiaan tidak selalu tentang kemewahan, melainkan tentang keterbukaan.
Tentang bagaimana sebuah rumah bisa menjadi tempat bagi siapa saja. Tentang bagaimana makanan bisa menjadi bahasa yang menyatukan. Dan tentang bagaimana perbedaan tidak pernah menjadi penghalang untuk saling mendekat.
Lebaran di Malaysia mungkin berbeda dalam beberapa hal, tetapi esensinya tetap sama, kembali, memaafkan, dan merayakan kebersamaan.
Karena di mana pun kita berada, Lebaran selalu menemukan jalannya untuk membuat kita merasa, kita tidak pernah benar-benar sendiri.
*Penulis adalah Jurnalis Senior CNN Indonesia dan Akademisi serta Humas Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) Kalsel.
