Ketika Kaki di Pintu Lebaran
Foto Ilustrasi - Penulis saat bersama ratusan pemudik di Bandara Syamsudin Noor Banjarbaru. (Foto - Risanta).
Oleh: Septian Reiswandy
Ada satu momen yang selalu terasa sama setiap tahun ketika kaki mulai berdiri di ambang pintu keberangkatan. Tas sudah siap, tiket di tangan, dan hati… entah mengapa selalu bergetar dengan cara yang sulit dijelaskan.
Itulah saat Lebaran belum benar-benar tiba, tetapi sudah terasa begitu dekat. Saat kita belum sampai di kampung halaman, tapi pikiran sudah lebih dulu pulang.
Mudik, bagi saya pribadi, bukan sekadar perjalanan dari kota ke desa. Ini merupakan perpindahan perasaan dari lelah menjadi rindu, dari sibuk menjadi hening, dari jarak menjadi kedekatan.
Di kota, hari-hari terasa seperti berlari tanpa jeda. Pagi dikejar waktu, malam dipenuhi sisa pekerjaan. Namun setiap menjelang Lebaran, ritme itu perlahan berubah. Ada jeda yang sengaja diciptakan, seolah hidup memberi ruang untuk kembali mengingat: kita berasal dari mana.
Saya masih ingat perjalanan mudik pertama yang benar-benar saya sadari maknanya. Bukan soal macet panjang atau tiket mahal, tapi tentang perasaan aneh ketika melihat wajah mama dan abah di pintu rumah, ada campuran lega, haru, dan rasa bersalah karena terlalu lama tak pulang.
Sejak itu, mudik tak pernah lagi sekadar rutinitas.
Seorang teman pernah bercerita, ia rela menempuh perjalanan lebih dari 20 jam dari Jakarta ke kampungnya di Sulawesi. Bukan karena ia suka perjalanan panjang, tapi karena ia tahu ada satu hal yang tak bisa dibeli di kota, yakni pelukan orang tua.
Teman lain memilih mudik dengan sepeda motor, menembus hujan dan panas. “Capek, tapi pas sampai rumah, semua hilang,” katanya singkat.
Kalimat sederhana itu selalu terngiang, karena di dalamnya ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan logika.

Tradisi mudik memang telah menjadi fenomena tahunan di Indonesia. Dilansir dari BRIN, jutaan orang bergerak serentak, meninggalkan kota tempat mereka bekerja untuk kembali ke kampung halaman. Sebuah arus besar yang bukan hanya soal mobilitas, tetapi juga soal makna.
Kepala Pusat Riset Masyarakat dan Budaya BRIN, Aulia Hadi, menyebut bahwa mudik bukan sekadar pulang, melainkan bagian dari budaya komunal yang kuat. Ia adalah cara masyarakat menjaga hubungan, merawat kekerabatan, dan memastikan bahwa jarak tidak benar-benar memutuskan ikatan.
Barangkali itu sebabnya, meski teknologi semakin canggih,video call, pesan instan, dan media sosial,semuanya tetap terasa kurang. Ada hal-hal yang hanya bisa dirasakan ketika kita benar-benar hadir, mencium tangan ibu dan ayah, duduk di ruang tamu yang sama, atau sekadar mendengar suara ayam pagi di kampung.
Mudik juga adalah nostalgia.
Kita kembali ke rumah lama yang mungkin sudah berubah. Jalan yang dulu sempit kini sudah diaspal. Warung kecil di ujung gang mungkin sudah tutup. Tapi ada satu hal yang tetap kenangan.
Kita bertemu teman masa kecil, berbincang tentang masa lalu, tertawa pada hal-hal sederhana yang dulu terasa biasa. Di situ, waktu seperti berhenti sejenak, memberi kita kesempatan untuk menjadi diri yang lebih jujur.
Namun mudik bukan hanya tentang masa lalu. Ia juga tentang refleksi.
Tentang bagaimana kita melihat diri kita sekarang, dibandingkan dengan siapa kita dulu.
Tentang pertanyaan-pertanyaan kecil yang muncul diam-diam, sudah sejauh apa kita berjalan? Sudahkah kita menjadi seseorang yang dibanggakan oleh keluarga?
Di sisi lain, mudik juga membawa dampak yang nyata. Perputaran ekonomi meningkat, oleh-oleh dibawa pulang, amplop dibagikan, dan kampung halaman kembali hidup dengan aktivitas. Tapi di balik itu semua, ada makna yang lebih dalam tentang berbagi dan memberi.
Lebaran sendiri menjadi puncak dari semuanya. Ia bukan hanya perayaan religius, tetapi juga perayaan kemanusiaan. Setelah sebulan menahan diri, kita kembali sebagai manusia yang diharapkan lebih bersih bukan hanya dari dosa, tetapi juga dari ego.
Dan di situlah mudik menemukan maknanya yang paling utuh.
Ia adalah perjalanan pulang bukan hanya ke rumah, tetapi ke diri sendiri.
Kini, setiap kali saya berdiri di ambang keberangkatan, saya tahu satu hal perjalanan ini mungkin melelahkan, mungkin penuh hambatan, tetapi selalu layak untuk ditempuh.
Karena di ujungnya, selalu ada rumah.
Selalu ada mereka yang menunggu.
Dan selalu ada alasan untuk kembali.
*Penulis adalah eksekutif muda tinggal di Banjarmasin
