Paman Birin, Kesederhanaan, dan Pasar Wadai Ramadan

0
RISANTA PAMAN BIRIN

Oleh : Muhammad Risanta

Kesederhanaan sering kali bukan sekadar sikap, melainkan cara hidup yang tumbuh dari pengalaman panjang seseorang bersama masyarakatnya.

Hal itu terasa kuat pada sosok yang akrab disapa Paman Birin, atau Sahbirin Noor. Bagi banyak warga Kalimantan Selatan, ia bukan sekadar mantan gubernur, tetapi figur yang tetap menjaga kedekatan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Banua.

Kesederhanaan itu tidak muncul tiba-tiba ketika ia menjabat. Bahkan sebelum menjadi orang nomor satu di provinsi tersebut, Paman Birin telah dikenal sebagai pribadi yang merakyat.

Ketika memimpin pun, sikap itu tidak berubah. Ia tetap hadir dengan gaya yang sama, apa adanya, tanpa jarak yang kaku antara pemimpin dan rakyat.

Suasana itu terasa ketika secara kebetulan kami bertemu di sebuah Pasar Wadai Ramadan di kawasan Pasar Pandu. Petang itu pasar sedang ramai. Lampu-lampu kios memantulkan warna hangat di antara deretan kue tradisional Banjar yang tersusun rapi.

Aroma santan, gula aren, dan pisang matang bercampur menjadi satu, menciptakan suasana khas Ramadan yang selalu dirindukan warga Banjarmasin.

Di tengah keramaian itu, tiba-tiba sosok yang dikenal luas masyarakat Banua muncul tanpa pengawalan mencolok. Ia mengenakan kaos coklat muda sederhana dan peci haji.

Warga yang melihatnya sempat terkejut. “Paman Birin,” bisik beberapa orang dengan nada tak percaya. Namun bagi sang mantan gubernur, kehadirannya di pasar itu tampak seperti hal biasa, seolah pria sederhana ini  hanya seorang warga yang datang berburu hidangan berbuka puasa.

 

Paman Birin saat menyapa warga berbelanja di Pasar Wadai Ramadan – Pasar Pandu Banjarmasin, Kamis (12/03/2026). (Foto Risanta).

Ia berjalan perlahan dari satu lapak ke lapak lainnya, menyapa pedagang dan pembeli. Senyumnya ringan, sapanya hangat. Tidak ada kesan formal atau jarak.

Di hadapan aneka wadai khas Banjar, Paman Birin tampak benar-benar menikmati suasana. Tangannya sesekali menunjuk pilihan kue yang ia kenal sejak lama.

Di antara yang ia pilih adalah Bingka yang lembut, lalu Amparan Tatak Pisang yang berlapis manis, juga Putri Selat dan Sari Muka yang selalu hadir di pasar Ramadan. Tak ketinggalan pula Ipau, wadai gurih yang menjadi favorit banyak orang.

Bagi Paman Birin, wadai-wadai itu bukan sekadar makanan. Ia adalah bagian dari ingatan masa kecilnya sebagai anak yang tumbuh di bantaran Sungai Martapura. Dari sanalah kedekatannya dengan tradisi Banjar terbentuk, tradisi yang tidak pernah ia tinggalkan meski pernah memegang jabatan tinggi.

Pertemuan malam itu bagi saya terasa lebih dari sekadar perjumpaan biasa. Ia seperti membuka kembali lembar lama perjalanan persahabatan kami. Saya dan Paman Birin pernah menempuh masa sekolah di SMA Negeri 5 Banjarmasin.

Pada masa itu, ia dikenal sebagai sosok yang aktif dan dipercaya menjadi ketua OSIS. Sementara saya berada di kepengurusan yang sama, di seksi pendidikan dan publikasi, sebuah pengalaman yang tanpa disadari justru mengantar saya menekuni dunia jurnalistik hingga hari ini.

Percakapan kami di tengah pasar terasa ringan, seolah waktu berputar kembali ke masa-masa sekolah. Kami mengenang kebiasaan lama yang ternyata tidak berubah, sama-sama menyukai wadai-wadai Banjar dan menikmati hidangan sederhana seperti ayam panggang. Hal-hal kecil seperti itulah yang membuat pertemuan itu terasa akrab, tanpa jarak.

Kecintaan terhadap kue-kue tradisional Banjar memang telah ada sejak masa kanak-kanak. Tradisi berburu wadai saat Ramadan menjadi kebiasaan yang ia bawa hingga dewasa.

Bahkan ketika menjabat sebagai pejabat negara, ia tetap menyempatkan diri menikmati sajian sederhana yang begitu akrab dengan kehidupan masyarakatnya.

Di situlah letak makna kesederhanaan yang sering melekat pada dirinya. Kesederhanaan bukan sekadar penampilan, tetapi kesediaan untuk tetap berada di tengah kehidupan rakyat.

Datang ke pasar tanpa protokol yang berlebihan, berbincang dengan pedagang, dan menikmati wadai yang sama dengan yang dibeli masyarakat biasa.

Pasar Wadai Ramadan pada akhirnya bukan hanya tempat jual beli makanan. Ia adalah ruang perjumpaan antara tradisi, kenangan, dan kehidupan masyarakat Banjar.

Dan petang menjelang malam itu, di tengah riuhnya pasar, sosok Paman Birin menjadi pengingat bahwa seorang pemimpin pun pada akhirnya tetap bagian dari cerita sederhana rakyatnya.

*Penulis adalah Jurnalis Senior CNN Indonesia – Akademisi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!