Mengenang Kartu Lebaran, Selembar Kertas Menyatukan Hati

0
KARTU LEBARAN RISMAN ADARO

Foto Ilustrasi - Momen bahagia menjelang Idul Fitri maupun lebaran di era 80-90 adalah tibanya kartu lebaran ke rumah kita. (Foto- Risanta).

Oleh : Muhammad Risanta

Ada masa ketika menjelang Idulfitri, kantor pos dipenuhi antrean panjang. Lalu di berbagai kawasan ada tangan-tangan sibuk memilih kartu terbaik, menuliskan doa dengan tinta paling rapi, lalu menempelkan prangko sambil membayangkan senyum penerimanya.

Hem itulah era kartu Lebaran. Sebuah tradisi sederhana yang kini perlahan hilang, tergeser oleh telepon genggam, SMS, Whatsapps, media sosial dan gelombang digitalisasi.

Sebelum layar sentuh dan pesan instan mengambil alih, kartu Lebaran adalah medium silaturahmi paling dinanti. Kartu ini bukan sekadar ucapan “Selamat Idulfitri”, melainkan simbol perhatian yang nyata.

Selembar karton bergambar masjid, ketupat, bulan sabit, atau kaligrafi itu membawa pesan maaf, doa, dan harapan yang ditulis tanganpersonal, hangat, dan penuh makna serta ada romantisme.

Di era 1980-an hingga awal 2000-an, tradisi ini begitu hidup. Perusahaan-perusahaan mengirim kartu resmi kepada relasi bisnis, sekolah-sekolah mengajarkan muridnya menulis ucapan untuk guru, dan keluarga-keluarga menyisihkan waktu khusus untuk memilih desain terbaik di toko buku atau kios musiman.

 

Foto Ilustrasi – Saat itu kartu lebaran menjadi penyampai pesan dari hati-hati merajut silaturahmi. (Foto – Risanta).

Bahkan bagi perantau, kartu Lebaran menjadi jembatan rindu lintas pulau dan benua. Bayangkan ia menempuh perjalanan jauh demi satu tujuan, demi menyampaikan sebuahrasa.

Ada romantika tersendiri dalam prosesnya. Menentukan kata-kata yang tepat, menuliskan alamat dengan hati-hati, hingga menunggu balasan yang kadang tiba setelah hari raya usai.

Justru di situlah letak keindahannya, tentang kesabaran dan ketulusan. Setiap goresan tinta menyimpan emosi yang tak tergantikan.

Namun waktu bergerak cepat. Hadirnya telepon seluler, SMS berantai, Whatsapps hingga media sosial membuat ucapan Lebaran dapat dikirim dalam hitungan detik. Praktis, cepat, dan menjangkau ribuan kontak sekaligus.

Tradisi kartu fisik pun perlahan meredup. Toko-toko tak lagi memajang rak penuh kartu ucapan, dan kantor pos tak lagi dipadati pengirim kartu musiman.

Digitalisasi memang membawa kemudahan, tetapi juga mengubah cara kita merayakan kedekatan. Pesan instan sering kali terasa seragam,copy paste, tanpa sentuhan personal.

Berbeda dengan kartu Lebaran yang memerlukan waktu, tenaga, dan niat. Nilainya bukan pada harga kertasnya, melainkan pada kesungguhan di baliknya.

Meski kini jarang ditemui, kenangan tentang kartu Lebaran tetap hidup dalam ingatan banyak orang. Karena kalau mau jujur menjadi bagian dari sejarah sosial bangsa, sebuah masa ketika komunikasi dibangun dengan kesabaran dan kehangatan.

Selembar kartu mampu menyatukan hati dari Sabang sampai Merauke, bahkan hingga mancanegara, membawa pesan maaf yang melampaui jarak dan waktu, begitu kata teman kami saat bernostagia buka puasa bersama di Banjarmasin beberapa hari lalu.

Barangkali kartu Lebaran tak benar-benar hilang. Sejatinya ia hanya berubah bentuk. Namun esensinya keinginan untuk saling memaafkan, menyambung silaturahmi, dan menjaga persaudaraan tetap relevan di era apa pun.

Tantangannya kini adalah bagaimana menghadirkan kembali kehangatan itu, meski lewat medium yang berbeda.

Sebab pada akhirnya, Lebaran bukan tentang cara kita mengirim pesan, melainkan tentang ketulusan di dalamnya. Dan kartu Lebaran, dengan segala kesederhanaannya, pernah menjadi saksi bagaimana bangsa ini merawat rasa dengan tinta, kertas, dan doa.Alhamdulillah lebaran sebentar lagi!.

Penulis Adalah Seorang Jurnalis Senior CNN Indonesia – Akademisi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!