Strategi Ekonomi 2040 Antara AI, Energi Hijau, dan Ketimpangan Sosial

0
DOSEN EKONOMI HIJAU

Oleh: Apippudin Adnan

Bayangkan Indonesia pada 2040. Kota-kota besar bergerak dalam ritme baru. Kendaraan listrik melintas nyaris tanpa suara. Gedung-gedung perkantoran memakai panel surya di atapnya.

Pabrik-pabrik tak lagi dipenuhi suara mesin kasar, melainkan sistem otomatis yang dikendalikan algoritma. Layanan publik dibantu kecerdasan buatan yang mampu membaca data dalam hitungan detik.

Gambaran itu bukan fiksi ilmiah. Dunia memang sedang menuju ke sana lebih digital, lebih hijau, lebih terkoneksi.

Pertanyaannya bukan apakah Indonesia akan ikut berubah, melainkan bagaimana kita memastikan perubahan itu tidak meninggalkan sebagian warga di belakang.

Maka dalam konteks ini 2040 menjadi angka yang penting. Ia bukan sekadar tahun di kalender, melainkan penanda arah.

AI Itu Peluang Besar, Risiko Nyata

Kecerdasan buatan (AI) telah masuk ke ruang-ruang yang dulu sepenuhnya dikerjakan manusia. Di sektor perbankan, algoritma menganalisis risiko kredit.

Di logistik, sistem otomatis mengatur distribusi barang. Di manufaktur, robot mengambil alih tugas-tugas repetitif.

Efisiensi meningkat. Produktivitas terdongkrak. Namun setiap efisiensi selalu memiliki sisi lain: pekerjaan yang hilang atau berubah bentuk. Indonesia, yang akan menikmati puncak bonus demografi pada 2030-an, menghadapi paradoks.

Kita memiliki jutaan tenaga kerja usia produktif, tetapi belum semuanya dibekali keterampilan digital dan sains yang memadai.

Data literasi dan numerasi menunjukkan pekerjaan rumah masih besar. Jika transformasi digital melaju lebih cepat daripada peningkatan kualitas pendidikan, AI bisa menjadi akselerator ketimpangan, bukan kesejahteraan.

Barangkali pertanyaannya sederhana apakah kita sedang menyiapkan manusia untuk mesin, atau hanya membiarkan mesin mendikte manusia?

Energi Hijau, Antara Komitmen dan Realitas

Di sektor energi, Indonesia telah menyatakan komitmen menuju net-zero emission pada 2060. Namun realitas hari ini masih menunjukkan dominasi batu bara dalam bauran energi nasional.

Transisi ke energi terbarukan bukan sekadar mengganti sumber listrik. Ia membutuhkan investasi besar, infrastruktur baru, dan keberanian mengambil keputusan yang kadang tidak populer.

Tarif energi, subsidi, kepentingan industri, hingga nasib pekerja di sektor lama menjadi variabel yang tak mudah disederhanakan.

Di sisi lain, pasar global semakin sensitif terhadap jejak karbon. Produk yang tak memenuhi standar keberlanjutan berisiko tersingkir. Menunda transisi berarti menunda daya saing.

Mungkin tantangannya bukan memilih antara ekonomi atau lingkungan, melainkan memastikan keduanya berjalan beriringan.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif stabil di kisaran 5 persen. Angka itu memberi rasa aman, tetapi belum cukup untuk lompatan besar menuju negara maju. Rasio Gini memang menurun, namun kesenjangan antarwilayah tetap terasa.

Aktivitas ekonomi masih terkonsentrasi di Jawa. Infrastruktur digital di sebagian wilayah timur belum sebanding. Jika AI dan energi hijau berkembang terutama di kota-kota besar dengan konektivitas kuat, maka jurang bisa makin lebar.

Transformasi ekonomi tanpa pemerataan ibarat membangun gedung tinggi di atas fondasi yang rapuh. Dari luar terlihat megah, tetapi menyimpan risiko di dalam.

Strategi menuju 2040 tampaknya perlu berangkat dari kesadaran bahwa pertumbuhan saja tidak cukup. Kualitas pertumbuhanlah yang menentukan arah.Begitu pandangan kami sebagai akademisi.

Reformasi pendidikan menjadi simpul awal. Bukan sekadar mengganti kurikulum, melainkan memastikan akses merata pada pendidikan STEM, pelatihan vokasi yang relevan, serta program reskilling bagi pekerja yang terdampak otomatisasi. Pendidikan bukan lagi sektor sosial semata, tetapi infrastruktur ekonomi.

Ekosistem inovasi juga perlu diperluas. Belanja riset Indonesia masih tertinggal dibanding banyak negara Asia Timur. Tanpa dukungan riset dan kemitraan universitas–industri, kita berisiko menjadi pasar teknologi, bukan pencipta teknologi.

Dalam energi, pendekatan bertahap dan kreatif penting agar transisi tidak membebani fiskal secara berlebihan. Skema pembiayaan campuran, kolaborasi internasional, dan pengembangan industri turunan—seperti baterai dan kendaraan listrik bisa menjadi jalan tengah antara ambisi dan kemampuan.

Dan yang tak kalah penting, pembangunan infrastruktur digital dan energi di luar pusat pertumbuhan harus dipercepat. Tanpa itu, pemerataan hanya akan menjadi slogan.

2040 Soal Arah, Bukan Sekadar Target

AI dan energi hijau adalah mesin baru ekonomi global. Indonesia memiliki sumber daya alam, populasi besar, dan posisi strategis di Asia. Modal itu cukup untuk optimisme.

Namun optimisme perlu diimbangi kewaspadaan. Transformasi yang terlalu cepat tanpa kesiapan sosial bisa menimbulkan gesekan. Sebaliknya, kehati-hatian yang berlebihan bisa membuat kita tertinggal.

Barangkali kuncinya ada pada keseimbangan: inovasi yang progresif, tetapi berpijak pada keadilan. Pertumbuhan yang ambisius, tetapi tidak melupakan pemerataan.

Jika 2040 kelak benar-benar menghadirkan Indonesia yang lebih digital dan lebih hijau, semoga ia juga menghadirkan Indonesia yang lebih setara. Karena pada akhirnya, keberhasilan strategi ekonomi bukan hanya diukur dari angka PDB, melainkan dari seberapa luas kesejahteraan itu dirasakan.

*Penulis adalah Dosen STIE Pancasetia Banjarmasin

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!