Es Teller Bukan Sekadar Penyegar di Bulan Ramadan
Foto Ilustrasi - Es Teller naik kelas dan menjadi minuman Indonesia terutama di bulan Ramadan. (Foto - Risanta).
Menjelang waktu berbuka puasa, sebagian jalan tertentu termasuk Pasar Wadai Ramadan Banjarmasin, mulai dipadati warga. Di antara aroma gorengan dan kue tradisional, suara es diserut berpadu dengan obrolan pembeli.
Di sebuah gerobak sederhana, dan lapak-lapak berkelas, potongan alpukat hijau, irisan nangka kuning, dan kelapa muda tersusun rapi dalam wadah transparan. Hem segarnya, itulah es teller kembali menemukan momentumnya, bulan Ramadan.
“Kalau bulan puasa, bisa dua sampai tiga kali lipat penjualan,” ujar Nia (42), pedagang es teller musiman yang sudah berjualan selama delapan tahun di kawasan Pasar Wadai Ramadan Banjarmasin.
Dari Kompetisi Resep ke Meja Buka Puasa
Es teller bukan minuman kuno yang diwariskan turun-temurun dari masa lampau. Ia lahir dari kreativitas era modern. Sejumlah literatur kuliner menyebut es teller mulai populer setelah memenangkan kompetisi resep minuman tingkat nasional pada era 1980-an.
Nama “teller” sendiri diyakini berasal dari nama penciptanya yang kemudian melekat sebagai identitas minuman tersebut.
Komposisinya sederhana alpukat, kelapa muda, nangka, es serut, dan susu kental manis. Namun kesederhanaan itu justru menjadi kekuatannya. Perpaduan tekstur lembut, kenyal, dan manis segar membuat es teller cepat diterima lintas generasi.
Di bulan Ramadan, minuman ini menemukan relevansi spiritual sekaligus fungsional. Setelah lebih dari 12 jam berpuasa, tubuh membutuhkan cairan dan asupan energi yang cepat terserap.
Kandungan gula alami buah, tambahan susu, serta air kelapa muda membantu mengembalikan energi secara instan.
“Kalau buka puasa, rasanya memang paling pas minum yang manis dan segar. Es teller itu lengkap,” kata Made Ludya, warga Banjarmasin yang rutin membeli untuk keluarga setiap Ramadan.

Bagi pelaku UMKM, Ramadan adalah bulan penuh harapan. Rahmadi mengaku dalam sehari ia bisa menjual hingga 150 porsi es teller selama bulan puasa, dibandingkan hari biasa yang rata-rata hanya 40–50 porsi.
Harga satu porsi berkisar Rp15.000–Rp20.000, tergantung variasi tambahan seperti kolang-kaling atau cincau.
“Alhamdulillah, cukup untuk tambahan kebutuhan Lebaran,” ujarnya.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana Ramadan tidak hanya menjadi momentum ibadah, tetapi juga menggerakkan ekonomi rakyat kecil. Data Dinas Perdagangan daerah setempat setiap tahunnya menunjukkan peningkatan aktivitas UMKM kuliner musiman selama Ramadan, terutama minuman berbasis buah dan es.
Ekonom lokal menyebut perputaran uang di sektor kuliner Ramadan bisa meningkat signifikan karena konsumsi rumah tangga cenderung naik menjelang berbuka dan Lebaran.

Resep Es Teller Klasik Rumahan
Bagi yang ingin menghadirkan kesegaran khas Ramadan di rumah, berikut resep sederhana es teller klasik:
Bahan:
2 buah alpukat matang
1 buah kelapa muda (daging dan airnya)
100 gram nangka matang, iris tipis
2–3 sendok makan susu kental manis
2 sendok makan sirup cocopandan atau gula cair
Es batu secukupnya
Cara Membuat:
Keruk alpukat, masukkan ke mangkuk saji.
Tambahkan kelapa muda dan irisan nangka.
Masukkan es batu.
Siram susu kental manis dan sirup.
Aduk perlahan sebelum disajikan.
Untuk variasi, bisa ditambahkan kolang-kaling, cincau, atau biji selasih.
Lebih dari Sekadar Pelepas Dahaga
Di tengah menjamurnya minuman modern seperti boba dan kopi susu kekinian, es teller tetap bertahan. Minuman ini bukan sekadar produk kuliner, tetapi simbol kebersamaan Ramadan.
Di meja makan keluarga, di masjid saat buka bersama, atau di pasar wadai yang riuh menjelang magrib, es teller selalu punya tempat dan hati.
Ketika azan berkumandang dan sendok pertama menyentuh campuran buah dan es yang dingin, yang hadir bukan hanya rasa segar. Ada rasa syukur, ada tradisi, dan ada denyut ekonomi kecil yang ikut bergerak.
Ramadan mungkin datang setahun sekali, tetapi es teller selalu kembali membawa cerita tentang kebersamaan, kreativitas, dan keberkahan yang sederhana.(Ridzky Husna).
