Nyamannya Amparan Tatak Pisang dan Putri Selat Banjar
Foto Ilustrasi - Wadai Amparan Tatak Pisang dan Putri Selat Banjar, dua kuliner Banjar yang selalu mendapat tempat dihati penggemar kuliner nusantara dan mancanegara. (Foto - Risanta).
Warisan Rasa Kuliner Banjar yang Tak Pernah Pergi
Menjelang senja di Banjarmasin, aroma santan mulai memenuhi udara. Di deretan stan Pasar Wadai Ramadan, kue-kue tradisional tersusun rapi di atas ceper alumunium dan piring-piring lonjong.
Warnanya lembut putih, kuning, dan cokelat gula aren. Di antara puluhan jenis wadai Banjar, dua yang hampir selalu ada adalah Amparan Tatak Pisang dan Putri Selat Banjar.
Keduanya tampak sederhana. Dipotong persegi, tanpa hiasan berlebihan. Namun di balik tampilannya, ada tersimpan sejarah panjang dan hubungan yang erat dengan kehidupan masyarakat Banjar.
Amparan Tatak Pisang lahir dari dapur masyarakat sungai, jauh sebelum dapur modern dikenal luas. Bahan utamanya mencerminkan lanskap Kalimantan Selatan, pisang talas yang tumbuh subur di pekarangan, santan dari kelapa yang melimpah, serta tepung beras yang menjadi bahan pangan utama sejak berabad lalu.
Secara etimologis, dalam bahasa Banjar, “amparan” berarti hamparan dan “tatak” berarti potongan. Nama ini merujuk pada cara pembuatannya, pisang dihamparkan, lalu dilapisi adonan santan dan tepung beras, kemudian dipotong setelah matang.
Catatan lisan masyarakat Banjar menyebut wadai ini telah dikenal sejak masa Kesultanan Banjar pada abad ke-16 hingga ke-19, ketika sungai menjadi pusat distribusi bahan makanan dan budaya.
Putri Selat Banjar muncul dari tradisi yang sama, tetapi dengan karakter yang lebih halus. Kue ini terdiri dari dua lapisan utama, lapisan putih dari santan, tepung beras, dan telur, serta lapisan cokelat dari gula merah.
Teksturnya lembut, hampir menyerupai custard. Nama “Putri Selat” diyakini mengacu pada kelembutan dan keanggunan, simbol penghormatan kepada tamu dan keluarga.
Dalam tradisi Banjar, kedua wadai ini termasuk bagian dari “Wadai 41”—kumpulan kue tradisional yang disajikan dalam acara adat dan keagamaan.
Tradisi ini telah hidup setidaknya sejak abad ke-19, ketika keluarga Banjar menyajikan berbagai wadai sebagai simbol kemakmuran dan kehormatan.
Pada masa kini, Amparan Tatak Pisang dan Putri Selat Banjar menjadi bagian tak terpisahkan dari Pasar Wadai Ramadan, tradisi tahunan yang telah berlangsung selama puluhan tahun di Kalimantan Selatan.
Pasar ini bukan sekadar tempat jual beli, melainkan ruang budaya tempat generasi baru mengenal rasa lama.Pasar ini pun menjadi simbol peradaban wadai-wadai Banjar asli Kalimantan Selatan.
Bahan kedua wadai ini relatif sederhana. Amparan Tatak Pisang dibuat dari pisang talas matang bisa juga pisang kepok, tepung beras, santan, gula, dan garam.
Sementara Putri Selat Banjar menggunakan tepung beras, santan, gula merah, telur, dan sedikit gula pasir. Prosesnya pun masih mempertahankan metode tradisional, dikukus perlahan hingga teksturnya padat dan lembut.
Bagi masyarakat Banjar, membuat wadai bukan sekadar memasak. Ia adalah praktik budaya. Resep tidak ditulis, tetapi diwariskan melalui kebiasaan.
Biasanya seorang ibu mengajarkan kepada anaknya bukan hanya bahan dan takaran, tetapi juga kesabaran, tentang kapan adonan siap, kapan api harus dikecilkan, dan kapan kue dianggap sempurna.
Ada beberapa alasan mengapa kedua wadai ini begitu disukai, tidak hanya oleh masyarakat Banjar, tetapi juga oleh masyarakat Indonesia secara luas.
Pertama, rasanya akrab. Perpaduan santan, gula, dan pisang menciptakan rasa yang familiar bagi lidah Nusantara. Kedua, teksturnya lembut dan mengenyangkan, menjadikannya cocok sebagai makanan berbuka puasa. Ketiga, bahan-bahannya alami dan mudah dikenali, tanpa tambahan yang berlebihan.
Selain itu, kedua wadai ini juga memiliki nilai emosional. Jajanan yang banyak ditemui di bulan Ramadan ini, juga hadir dalam momen penting seperti Ramadan, pernikahan, selamatan, dan acara adat. Kehadirannya bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian dari peristiwa itu sendiri.
Kini, Amparan Tatak Pisang dan Putri Selat Banjar juga menjadi oleh-oleh khas yang diburu wisatawan. Pengunjung yang datang ke Kalimantan Selatan hampir selalu menyempatkan diri mencicipinya, baik di pasar tradisional, pusat oleh-oleh, maupun hotel yang menyajikan kuliner lokal.
Di tengah arus modernisasi, kedua wadai ini tetap bertahan. Mereka tidak berubah banyak. Bentuknya sama. Rasanya sama. Cara membuatnya pun hampir sama. Mungkin karena bagi masyarakat Banjar, wadai bukan sekadar makanan.
Ia adalah kenangan yang bisa dimakan.Karena itu beruntunglah Indonesia khususnya Kalimantan Selatan tetap lestari wadai-wadai tradisionalnya, memberikan warna potret indahnya Indonesia, terutama di bulan Ramadan. (Muhammad Risanta).

