Cara Tepat Olahraga Saat Puasa

0
JOGGING SAAT PUASA - DAUS ADARO

Foto Ilustrasi - Jogging ringan saat menjelang berbuka puasa dinilai pas dan Pada fase ini tubuh berada dalam kondisi pembakaran lemak yang optimal. (Foto - M.Irfani).

Sering kali pembaca Economic Travelling bertanya kepada tim redaksi, bagaimana menjalankan ibadah puasa namun tetap bugar dan bisa berolahraga.Melalui artikel sederhana yang dikemas dalam tulisan ringan Jurnalisnya, Economic Travelling mencoba mengangkat artikelnya di awal pekan ketiga bulan Pebruari 2026.

Puasa kerap dianggap sebagai masa jeda dari aktivitas fisik. Tubuh yang tak mendapat asupan sejak fajar dipersepsikan rapuh dan mudah lelah. Padahal, sejumlah kajian ilmiah justru menunjukkan hal sebaliknya.

Ketika dilakukan dengan cara yang tepat, olahraga saat berpuasa dapat membantu tubuh beradaptasi secara metabolik dan menjaga kebugaran tetap stabil.

Dalam kondisi normal, tubuh mengandalkan glukosa sebagai sumber energi utama. Namun setelah berpuasa selama beberapa jam, cadangan glikogen mulai menurun dan tubuh beralih menggunakan lemak sebagai bahan bakar.

Proses ini dikenal sebagai lipolisis. Sejumlah penelitian dalam jurnal ilmu olahraga mencatat bahwa aktivitas fisik dalam keadaan puasa dapat meningkatkan oksidasi lemak secara signifikan dibandingkan olahraga setelah makan. Artinya, tubuh lebih efisien membakar lemak saat energi instan dari makanan tidak tersedia.

 

Kalangan penggiat olahraga menyebutkan, waktu berolahraga menjadi penting. Rentang 30 hingga 60 menit menjelang berbuka sering dianggap paling ideal. Pada fase ini tubuh berada dalam kondisi pembakaran lemak yang optimal.

Risiko dehidrasi pun relatif terkendali karena cairan dapat segera diganti saat azan magrib berkumandang. Intensitas yang dianjurkan berada pada level ringan hingga sedang. Jalan santai, bersepeda perlahan, atau sesi yoga singkat cukup untuk menjaga denyut jantung tetap aktif tanpa menguras energi berlebihan.

Pilihan lain adalah berolahraga satu hingga dua jam setelah berbuka. Tubuh telah memperoleh kembali cairan dan asupan energi sehingga lebih siap menerima beban latihan yang sedikit lebih tinggi.

 

Karikatur Ilustrasi – Jogging sehat rentang 30 hingga 60 menit menjelang berbuka sering dianggap paling ideal. (Foto – M.Irfani).

Jogging ringan atau latihan beban dengan intensitas moderat bisa dilakukan pada waktu ini. Pendekatan ini membantu mempertahankan massa otot yang berpotensi menurun selama puasa.

Bagi sebagian orang yang terbiasa bangun lebih awal, peregangan ringan sebelum sahur juga dapat menjadi alternatif. Aktivitas ini tidak ditujukan untuk membakar kalori besar, melainkan menjaga fleksibilitas dan mengaktifkan sirkulasi darah sebelum memulai hari.

Kuncinya bukan pada seberapa keras tubuh dipaksa bekerja, melainkan pada konsistensi dan kesadaran membaca kondisi fisik.

Saat rasa pusing atau lemas berlebihan muncul, tubuh sebenarnya sedang meminta jeda. Mengabaikannya hanya akan menimbulkan risiko dehidrasi atau penurunan gula darah.

Asupan cairan dan nutrisi turut menentukan kualitas olahraga selama Ramadan. Kebutuhan air sekitar satu setengah hingga dua liter per hari sebaiknya dibagi antara waktu berbuka dan sahur.

Karbohidrat kompleks saat sahur membantu menyediakan energi yang bertahan lebih lama, sementara protein saat berbuka mendukung pemulihan otot.

Puasa pada dasarnya adalah latihan pengendalian diri. Ketika dipadukan dengan olahraga yang terukur, ia menjadi latihan adaptasi tubuh yang lebih luas. Tubuh belajar menggunakan energi secara efisien, jantung tetap terlatih, dan metabolisme bekerja lebih seimbang.

Bergerak saat berpuasa bukan tentang mengejar performa tertinggi. Ia lebih menyerupai dialog sunyi antara disiplin dan kesadaran diri.

Sesungguhnya kebugaran menemukan maknanya yang lebih dalam, bukan sekadar kuat secara fisik, melainkan selaras dengan ritme tubuh dan waktu.(M.Irfani).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!