Menanti Ramadhan dari Banjarmasin
Sekretaris Daerah Provinsi Muhammad Syarifuddin, turut memantau kegiatan Hisab Rukyat awal bulan Ramadhan tahun ini, Selasa (17/02/2026), bersama Kepala Kementerian Agama Provinsi Kalsel H Muhammad Tambrin dan Kepala Biro kesra Setdaprov Fahrurrazi. (Foto - Biro Adpim Kalsel).
Senja turun perlahan di Banjarmasin, Selasa, 17 Februari 2026. Dari rooftop lantai 13 Rumah Sakit Amanah Medical Center, pandangan mata diarahkan ke ufuk barat. Pada momen ini, para petugas hisab rukyat menanti tanda paling sederhana sekaligus paling menentukan hilal.
Pemantauan awal Ramadhan 1447 Hijriah itu dihadiri perwakilan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. H. Muhidin diwakili Sekretaris Daerah Provinsi Muhammad Syarifuddin, bersama Kepala Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Selatan H. Muhammad Tambrin serta jajaran terkait.
Secara astronomis, hasil pengamatan di Banjarmasin menunjukkan matahari terbenam pada pukul 18.42 Wita, sementara bulan terbenam lima menit lebih awal. Tinggi bulan masih berada di bawah ufuk.
Artinya, hilal belum memenuhi kriteria imkanur rukyat yang disepakati negara-negara anggota MABIMS. Dari perhitungan itulah, awal Ramadhan secara hisab diperkirakan jatuh pada 19 Februari 2026.
Namun, rukyat bukan semata perkara terlihat atau tidaknya bulan sabit. Ia adalah ruang pertemuan antara sains dan keyakinan, antara hitungan dan harapan.
Kepala Kemenag Kalsel, Muhammad Tambrin, mengingatkan bahwa potensi perbedaan penetapan awal Ramadhan selalu ada.
“Yang terpenting adalah menjaga suasana tetap kondusif dan damai,” katanya.
Di Kalimantan Selatan, pemantauan hilal dilakukan di tujuh titik, dari Hulu Sungai hingga pesisir. Upaya itu menunjukkan satu hal, negara hadir untuk memastikan proses penentuan awal bulan berjalan tertib dan ilmiah, tanpa menafikan keberagaman pandangan yang hidup di tengah umat.
Melalui Sekdaprov Muhammad Syarifuddin, Gubernur H. Muhidin menyampaikan pesan yang lebih luas dari sekadar penanggalan.
Ramadhan, kata dia, bukan hanya soal kapan dimulai, tetapi bagaimana ia dijalani. Pemerintah daerah mengajak masyarakat Muslim di Banua menyambut Ramadhan dengan kegembiraan, keikhlasan, dan semangat memperbaiki diri.
Ramadhan juga diharapkan menjadi momentum memperkuat ukhuwah—baik ukhuwah Islamiyah maupun ukhuwah wathaniyah. Di bulan ini, kesetaraan, empati, dan kepedulian sosial diuji dan ditumbuhkan.
“Perbedaan hendaknya disikapi dengan saling menghormati, agar ibadah dapat berlangsung dengan tenang dan khusyuk,” ujar Syarifuddin menyampaikan pesan Gubernur.
Menanti Ramadhan dari Banjarmasin, pada akhirnya, adalah menanti dengan kesabaran. Ketika hilal belum menampakkan diri, yang dihadirkan adalah ketenangan dan kedewasaan.
Negara sendiri menyiapkan rambu, ulama memberi tuntunan, dan umat berjalan bersama menuju bulan yang diyakini penuh rahmat dan ampunan.
Di bawah langit senja itu, Ramadhan memang belum dimulai. Tapi harapannya sudah lebih dulu hadir. Selamat menunaikan Ibadah Puasa. (Tim Redaksi).
