Perkebunan Sawit dan Tanggung Jawab pada Anak Banua

0
RISANTA KEBUN SAWIT

Foto Ilustrasi - Penulis sedang meliput perkebunan kelapa sawit di Kalsel secara komprehensif. (Foto.Risanta).

Oleh: Muhammad Risanta

Perkebunan sawit kerap hadir dalam perdebatan publik sebagai entitas ekonomi: produktivitas, ekspor, harga CPO, dan laba. Jarang sekali sektor ini dibaca dari sudut yang lebih sunyi.

Bicara tentang anak-anak yang tumbuh di sekitar kebun, menghirup debu jalan produksi, dan setiap pagi berangkat ke sekolah dengan harapan yang sederhana, bisa belajar lebih tinggi dari orang tuanya.

Di Banua, sawit tidak berdiri di ruang hampa. Perkebunannya hidup berdampingan dengan desa, sekolah, dan keluarga-keluarga yang menggantungkan masa depan pada kerja keras hari ini.

Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan semata berapa besar kontribusi sawit pada ekonomi, melainkan sejauh apa ia ikut memikirkan generasi yang tumbuh di sekitarnya.

Dalam konteks sederhana inilah tanggung jawab sosial industri menemukan relevansinya. Bukan sebagai kewajiban yang harus dipenuhi agar lolos audit, tetapi sebagai kesadaran bahwa keberlanjutan tidak mungkin tercapai tanpa investasi pada manusia.

Jika kita telaah Pendidikan, dalam konteks ini, menjadi pintu masuk yang paling masuk akal dan paling berdampak.

 

Perwakilan manajemen PT TBM, Doli Bahrein Nasution menyerahkan secara simbolis beasiswa kepada para siswa berprestasi dari jenjang SD hingga SMA di sekitar wilayah operasional Astra Agro Lestari Group. (Foto – Humas Astra Agro Lestari).

Langkah Astra Agro Lestari Group melalui entitasnya, PT Tri Buana Mas, menyalurkan beasiswa kepada ratusan siswa berprestasi di sekitar wilayah operasional, patut dibaca sebagai upaya merawat ekosistem sosial.

Bukan karena angkanya besar, tetapi karena pesannya jelas, industri ini melihat anak-anak Banua sebagai bagian dari masa depannya.

Beasiswa, dalam banyak kasus, bukan sekadar bantuan biaya sekolah. Ia adalah legitimasi sosial. Bagi siswa di daerah, perhatian seperti ini menumbuhkan rasa percaya diri, yang semakin menegaskan bahwa prestasi mereka tidak sia-sia, bahwa dunia di luar kampung juga peduli. Efeknya sering kali lebih psikologis daripada ekonomis, dan justru ini menjadi daya dorongnya atau pengungkitnya (mengambil istilah kutipan para pemerhati pendidikan).

Yang menarik, dorongan agar sektor perkebunan lebih serius memperhatikan pendidikan tidak hanya datang dari perusahaan secara individual. GAPKI Kalimantan Selatan mulai memainkan peran penting dalam membentuk kesadaran kolektif industri.

Melalui berbagai forum internal, asosiasi ini mendorong anggotanya untuk melihat pendidikan sebagai bagian dari strategi keberlanjutan, bukan sekadar program pelengkap.

 

Foto Ilustrasi -Aktivitas salah satu perkebuan kelapa sawit Astro Agro Lestari Grup. (Foto- Humas Astra Agro Lestari).

Peran asosiasi menjadi krusial karena ia bekerja di wilayah nilai. Ketika perhatian pada pendidikan menjadi norma bersama, bukan lagi pengecualian, maka wajah industri pun berubah.

Sawit tidak lagi selalu tampil defensif, tetapi mulai berbicara dengan bahasa kontribusi.

Namun tentu saja, beasiswa bukan jawaban tunggal. Tantangan pendidikan di sekitar perkebunan jauh lebih kompleks, keterbatasan sarana, kualitas guru, hingga akses jenjang lanjutan.

Menurut hemat kami ini  membutuhkan pendekatan yang lebih kolaboratif, antara perusahaan, pemerintah daerah, sekolah, dan komunitas.

Dunia usaha bisa mengambil peran sebagai pemantik, membuka ruang, dan menjaga kesinambungan.

Solusinya bukan dengan program yang seragam, melainkan dengan kepekaan lokal. Di satu tempat, beasiswa mungkin paling dibutuhkan. Di tempat lain, pelatihan guru atau perbaikan fasilitas justru lebih mendesak. Yang penting, sektor perkebunan hadir bukan sebagai penentu, tetapi sebagai mitra.

Indonesia Emas 2045 kerap diulang dalam pidato. Namun emas itu tidak akan lahir dari angka produksi sawit semata. Ia akan tumbuh dari anak-anak Banua yang hari ini duduk di bangku sekolah, membangun mimpi di tengah keterbatasan.

Jika industri ingin bertahan dan diterima dalam jangka panjang, maka tidak ada investasi yang lebih masuk akal selain memastikan anak-anak itu punya masa depan.

Sejatinya memang perkebunan sawit selalu dihadapkan pada pilihan berhenti pada kinerja, atau melangkah ke tanggung jawab.

Ketika ia memilih yang kedua, maka ia tidak hanya menanam sawit namun juga ikut menyemai harapan.

*Penulis adalah Jurnalis Senior CNN Indonesia – Akademisi

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!