Membangun Kenangan Riuh Rasa Pasar Wadai Ramadan
Foto Ilustrasi - Kenangan indah suasana menjelang berbuka puasa di Pasar Wadai Ramadan Banjarmasin. (Foto - Olpah Sari).
Oleh : Olpah Sari
Setiap Ramadan tiba, Banjarmasin selalu punya cara sendiri menyambut senja. Di antara lalu-lalang warga yang berburu waktu berbuka, Pasar Wadai Ramadan hadir sebagai ruang temu antara rasa, ingatan, dan tradisi.
Memang pasar ini bukan sekadar pasar musiman, melainkan potret hidup kebudayaan Banjar yang terus beradaptasi dengan zaman.Karena banyak kenangan dan cerita yang terbungkus dalam lintasan sejarah dan waktu.
Jika menoleh kebelakang kejak Pasar Wadai Ramadan telah lama mengakar dalam ingatan kolektif warga. Pasar ini tumbuh sederhana, dari lapak-lapak kecil yang menjajakan kue rumahan untuk berbuka puasa.
Dari waktu ke waktu, geliatnya makin terasa hingga kemudian bertransformasi menjadi Festival Wadai Ramadan, sebuah perayaan kuliner yang dirancang lebih teratur dan terbuka bagi khalayak luas.
Perubahan bentuk itu menandai satu hal penting wadai Banjar bukan hanya konsumsi lokal, tetapi warisan rasa yang layak dirawat dan diperkenalkan.Tentu campur tangan pemerintah daerah memberikan arti tersendiri akan keberadaan pasar yang menjembatani warna-warni kehidupan di bulan Ramadan di sebuah kota di Banjarmasin.

Kenangan paling indah warga kerap bermula dari satu ritual sederhana, berburu takjil. Di Pasar Wadai, mata dan ingatan dimanjakan sekaligus. Amparan tatak pisang yang legit, tatal yang lembut, nasubah berlapis rasa, raraban yang unik, hingga putri selad yang manis dingin,semuanya tersaji berdampingan.
Belum lagi kehadiran “wadai 41 macam”, simbol kekayaan kuliner Banjar yang tak sekadar soal jumlah, tetapi juga filosofi keberagaman rasa.Sungguh beruntung penulis berada di lintasan sejarah sejak pasar ini dipopuler di tahun 80-an.
Pasar ini juga tak berhenti pada kue basah. Aroma soto Banjar, mie habang, dan ayam panggang khas Banjar kerap menggoda dari kejauhan, mengingatkan bahwa berbuka puasa di Banjarmasin selalu punya dimensi rasa yang lengkap dari manis, gurih, hingga rempah yang hangat di tenggorokan.
Menariknya, Pasar Wadai Ramadan hampir selalu berpindah tempat. Ia pernah hadir di berbagai sudut kota, tentu nomaden mengikuti situasi dan kondisi, menyesuaikan denyut ruang publik Banjarmasin.
Hingga akhirnya, dalam beberapa tahun terakhir, pasar ini menetap di kawasan Nol Kilometer, tepat di depan kantor Gubernuran lama. Lokasi ini memberi makna simbolik Pasar Wadai berada di titik temu sejarah kota, ruang publik, dan kehidupan sehari-hari warga.Hem romantisme sore di bulan Ramadan.
Di satu sisi, Pasar Wadai Ramadan diharapkan menjadi sentra berkesinambungan bagi pelestarian wadai-wadai Banjar. Ia memberi ruang bagi resep-resep lama untuk tetap hidup, diturunkan dari dapur rumah ke etalase publik.
Di sisi lain, festival ini menjelma menjadi magnet pariwisata. Setiap tahun, ia berpotensi menggoda wisatawan nusantara bahkan mancanegara untuk datang bukan hanya mencicipi makanan, tetapi merasakan suasana Ramadan khas kota sungai.
Hingga sudut akhir kisah, Pasar Wadai Ramadan adalah tentang membangun kenangan. Tentang senja yang riuh oleh tawa dan tawar-menawar, tentang rasa yang membawa pulang cerita, dan tentang sebuah kota yang merawat identitasnya lewat makanan.
Di tengah perubahan zaman, Pasar Wadai tetap menjadi penanda setia, yang mengukuhkan cerita indah Banjarmasin memilih menjaga tradisi, sambil membuka pintu bagi dunia untuk ikut menikmatinya.
*Penulis adalah Jurnalis & Pemimpin Umum Economic Travelling.Com

