Catatan Capacity Building Jurnalis Kalsel 2026
Para Jurnalis Ekonomi Banua yang mengikuti Capacity Building Jurnalis 2026 bersama Bank Indonesia. (Foto - Risanta).
Oleh: Muhammad Risanta
Pelatihan jurnalis kerap terdengar rutin. Tetapi Capacity Building Jurnalis 2026 yang digelar Bank Indonesia memberi kesan berbeda.
Bukan karena istilah atau kemasannya, melainkan karena disini menyentuh hal paling mendasar dalam kerja jurnalistik cara berpikir sebelum menulis.
Bagi jurnalis yang lama bergelut di desk ekonomi, bisnis, dan perbankan, forum ini menjadi ruang jeda. Sebuah kesempatan untuk berhenti sejenak dari kejaran tenggat dan grafik, lalu bertanya ulang, apakah kita masih menulis untuk dipahami, atau sekadar untuk tayang?
Kegiatan ini juga relevan bagi jurnalis yang baru bersentuhan dengan desk ekonomi. Di sini, bahasa perbankan yang dingin dan teknokratis dipaksa turun ke tanah.
Bukan untuk disederhanakan secara serampangan, melainkan diterjemahkan agar masuk akal bagi publik. Ekonomi tidak kehilangan maknanya hanya karena ditulis tanpa jargon.
Justru di situlah tantangannya. Data dan angka bukan tujuan akhir. Ia hanya alat.
Ketika jurnalis gagal mengolahnya, ekonomi berubah menjadi berita yang berjarak dan menakutkan. Tetapi ketika diolah dengan tepat, isu ekonomi bisa menjadi cerita yang bernas, utuh, dan mengasyikkan.

Saya pribadi mengikuti pelatihan ini bukan sebagai jurnalis yang merasa kurang jam terbang. Puluhan tahun di desk ekonomi dan perbankan tidak otomatis membuat seseorang kebal dari keusangan berpikir.
Dunia berubah. Ekosistem media berubah. Cara orang membaca berita pun berubah.
Di Banua, saya berhadapan dengan jurnalis-jurnalis muda yang datang dengan kecepatan, keberanian, dan sudut pandang segar. Adaptasi menjadi keniscayaan.
Tidak ada istilah terlalu senior atau terlalu junior. Yang ada hanyalah jurnalis yang mau belajar, dan yang berhenti belajar.
Arus informasi hari ini tidak lagi mengalir. Ia datang menghantam. Media berlomba cepat, sementara publik semakin mudah lelah.
Dalam situasi seperti ini, kecepatan justru menjadi jebakan. Kesalahan kecil bisa berlipat ganda dampaknya ketika disebarkan secara digital.
Di sinilah konsep triple filter test menemukan relevansinya. Tiga pertanyaan sederhana, tetapi kerap diabaikan: benarkah informasi ini? baikkah jika disampaikan? perlukah publik mengetahuinya?
Wakil Kepala Desk Ekonomi dan Bisnis Kompas, Aris Prasetyo, menyebut tiga pertanyaan itu sebagai rem. Rem, bukan gas. Sebuah pengingat bahwa tugas jurnalis bukan hanya menyampaikan, tetapi mengolah dan memberi makna.
Akurasi saja tidak cukup. Setiap informasi membawa konsekuensi. Dampaknya harus dihitung, bukan dalam angka, tetapi dalam implikasi sosial.
Niat, cara penyampaian, dan kanal distribusi adalah bagian dari etika, bukan urusan teknis semata.
Tantangan ini kian terasa di ruang digital. Berita bisa tayang, dihapus, lalu meninggalkan jejak yang membingungkan. Judul masih terpampang, isinya lenyap. Publik dibiarkan menebak-nebak. Kepercayaan perlahan tergerus.
Realitas ini menuntut jurnalis bekerja lebih disiplin. Proses editorial tidak boleh berhenti saat berita tayang. Verifikasi dan konfirmasi harus menjadi kebiasaan, bukan pengecualian.
Karena itu, triple filter test bukan sekadar alat kerja. Sejatinya menurut pandangan saya pribadi, ia adalah cara berpikir. Sebuah upaya menjaga martabat profesi di tengah hiruk-pikuk konten.
Capacity Building Jurnalis 2026 memberi satu pelajaran penting, di era ketika semua orang bisa menyebarkan informasi, yang justru menguji jurnalis dari kemampuannya menahan diri.
Menahan untuk berpikir. Menahan untuk menyaring. Dan menahan untuk bertanggung jawab.
Tapi setidaknya 4 hari berkumpul dengan Jurnalis Ekonomi Banua memberikan satu catatan penting, jangan berhenti untuk belajar dan mau menerima masukan kritikan, bukan merasa super top.Karena ilmu mengalir dan ada sepanjang masa, sepanjang kita rajin mempelajarinya.
*Penulis adalah Jurnalis CNN Indonesia – Ahli Pers Dewan Pers – Akademisi
