Menjaga Asa Pasca Banjir di Gunung Batu

0
BANTUAN BANJIR TABALONG

Prosesi penyerahan bantuan kemanusiaan bersama Lazizmu dan KS2 Tabalong. (Foto-Risman).

Bantuan Kemanusian Penanda Bahwa Mereka Tidak Sendiri

Jejak banjir bandang itu masih tampak jelas di Desa Gunung Batu, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Tabalong. Lumpur mengering di sudut rumah, perabot yang belum sepenuhnya kembali ke tempatnya, dan raut wajah warga yang masih menyimpan kelelahan panjang.

Namun pada Sabtu, 24 Januari 2026, suasana desa berubah perlahan. Anak-anak berdiri berjejer di halaman, sebagian menggenggam tangan ibunya, menyambut kedatangan rombongan yang membawa sesuatu yang lebih dari sekadar bantuan.

Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah Muhammadiyah (Lazismu) bersama Komunitas Sayangi Sesama (KS2) Tabalong hadir di tengah desa. Rombongan dipimpin Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Tabalong, DR Wahyu Wibowo, bersama Ketua KS2 Tabalong, Erlina Effendi Ilas. Mereka datang dengan tujuan sederhana, memastikan anak-anak dan para ibu penyintas tidak berjalan sendiri melewati masa pemulihan pascabencana.

Paket perlengkapan sekolah menjadi bantuan pertama yang diserahkan. Tas, buku, dan alat tulis berpindah tangan dari relawan kepada anak-anak yang beberapa pekan sebelumnya harus kehilangan banyak hal. Bantuan ini pun memberikan harapan mereka, karena tas baru bukan sekadar benda.Melainkan itu adalah penanda bahwa sekolah, mimpi, dan rutinitas masih mungkin dilanjutkan.

Selain perlengkapan pendidikan, Lazismu juga menyalurkan berbagai kebutuhan dasar. Perlengkapan mandi dan cuci, popok bayi, hingga kebutuhan khusus perempuan. Dalam situasi bencana, kebutuhan-kebutuhan kecil justru sering menjadi yang paling mendesak.

Ketua Majelis Tabligh PDM Tabalong, Nur Huda, menyampaikan bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban keluarga sekaligus menjadi penguat batin di tengah kondisi yang belum sepenuhnya pulih.

“Tak ada yang terjadi kecuali Allah SWT sertakan hikmah di balik kejadian. Kesabaran dan keikhlasan atas musibah ini dapat menguatkan ikhtiar kita untuk tumbuh menjadi lebih baik,” ujarnya.

 

Antusias anak-anak penyintas banjir Balangan ketika menerima bantuan kemanusiaan dan perlengkapan sekolah. (Foto – Risman).

Di kesempatan yang sama, KS2 Tabalong turut menyerahkan Al-Qur’an beserta terjemahannya, serta ratusan nasi bungkus untuk warga. Bantuan ini melengkapi ikhtiar pemulihan yang tidak hanya menyasar kebutuhan fisik, tetapi juga ketenangan jiwa.

Menurut Ketua KS2 Tabalong, Erlina Effendi Ilas, kunjungan tersebut merupakan bagian dari rangkaian pendampingan yang telah dilakukan sejak awal bencana.

“Pada saat bencana terjadi kami hadir bersama BPBD Tabalong. Hari ini kami hadir bersama Lazismu Tabalong,” kata Erlina.

Banjir bandang yang melanda wilayah Balangan pada akhir Desember 2025 berdampak pada ribuan warga di beberapa desa di Kecamatan Tebing Tinggi.

Data awal mencatat lebih dari seribu kepala keluarga terdampak, dengan ratusan rumah mengalami kerusakan dari kategori sedang hingga berat. Desa Gunung Batu menjadi salah satu wilayah yang merasakan dampak paling nyata.

Namun, di balik angka-angka tersebut, ada cerita lain yang tak selalu tercatat dalam laporan kerusakan yakni sebuah trauma. Dari hasil kunjungan sebelumnya, KS2 menemukan banyak ibu yang masih menyimpan ketakutan setiap kali hujan turun deras. Ingatan tentang air yang datang tiba-tiba dan merenggut rasa aman belum sepenuhnya pergi.

Erlina mengatakan, pendampingan ke depan tidak hanya akan berfokus pada bantuan logistik. KS2 berencana menghadirkan tenaga profesional untuk membantu pemulihan psikologis warga, khususnya para ibu.

“Insya Allah kami akan mengajak terapis profesional untuk membantu ibu-ibu melepaskan traumanya,” tuturnya.

Bagi Lazismu dan KS2, pemulihan pascabencana bukanlah pekerjaan satu hari. Ia adalah proses panjang yang membutuhkan konsistensi, kolaborasi, dan kehadiran yang berulang.

Bantuan yang disalurkan di Gunung Batu menjadi bagian dari komitmen tersebut. Dan memastikan zakat, infak, dan sedekah tidak berhenti pada distribusi, tetapi berlanjut pada pendampingan.

Di Desa Gunung Batu, anak-anak kembali menggendong tas di punggung mereka. Para ibu mulai tersenyum meski belum sepenuhnya lega.

Di antara sisa-sisa banjir bandang, tumbuh keyakinan baru, tentang kepedulian yang datang tepat waktu dapat menjadi fondasi awal untuk bangkit, perlahan namun pasti.(M.Irfani).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!