Banjarmasin Menghidupkan Kembali Aliran Sungai Guring
Foto Ilustrasi Ai - Wali Kota Banjarmasin bersama warga membersihkan sungai Guring Banjarmasin, salah satu anak sungai yang dangkal dan mati karena tata kelola yang salah. (Foto - Tim Redaksi Economic Travelling.Com).
Banjarmasin lahir dari air. Kota ini tumbuh bukan dengan membelakangi sungai, melainkan dengan hidup berdampingan dengannya. Namun hari ini, ironi itu tampak jelas.
Sungai yang dulu menjadi nadi pergerakan dan sumber kehidupan, perlahan dipersempit, ditutup, bahkan diabaikan. Sungai Guring menjadi salah satu potret paling nyata dari perubahan itu di kota berjuluk Seribu Sungai.
Selama bertahun-tahun, Sungai Guring di Banjarmasin menanggung beban pertumbuhan kota yang tidak selalu ramah lingkungan. Bangunan berdiri di atas alirannya, sampah menumpuk, dan kapasitas sungai menyusut.
Setiap kali hujan turun deras, air pun mencari jalan sendiri masuk ke rumah warga, merendam jalan, dan melumpuhkan aktivitas. Banjir lalu dianggap sebagai kejadian rutin, seolah tak lagi bisa dicegah.
Aksi gotong royong pembersihan Sungai Guring yang dilakukan Pemerintah Kota Banjarmasin pada Senin (26/01/2026) patut ditempatkan sebagai lebih dari sekadar kerja bakti.
Ketika pemerintah berani membongkar bangunan miliknya sendiri yang berdiri di atas badan sungai, maka itulah sebuah pesan ketegasan.Artinya penataan lingkungan tidak bisa dimulai dengan menyalahkan warga semata, melainkan dengan memberi contoh nyata.
Namun keteladanan pemerintah hanya akan bermakna jika disambut kesadaran bersama. Menghidupkan kembali aliran Sungai Guring bukan sekadar urusan teknis,bukan hanya soal alat berat, normalisasi, atau pelebaran alur air. Ini adalah soal cara pandang. Selama sungai masih diperlakukan sebagai halaman belakang permukiman, selama itu pula masalah akan berulang.
Sungai bukan tempat buangan.Sungai itu adalah sistem alami yang menjaga keseimbangan kota. Ketika alirannya dipersempit dan ditutup, air kehilangan ruangnya.
Maka banjir sejatinya bukan sekadar musibah alam, melainkan akibat dari pilihan manusia, suka tidak suka, pilihan tata ruang, pilihan pola hidup, dan pilihan untuk menunda penataan.
Pendekatan persuasif yang ditempuh pemerintah terhadap warga patut diapresiasi. Penertiban tanpa dialog berisiko melahirkan konflik sosial. Namun harus diingat, dialog tanpa ketegasan juga berisiko melanggengkan pelanggaran.
Konsistensi kebijakan menjadi kunci. Aturan sempadan sungai tidak boleh berhenti sebagai teks regulasi, tetapi harus hadir sebagai kesepakatan bersama demi keselamatan kota.
Menghidupkan Sungai Guring berarti mengembalikan fungsinya secara utuh, sebagai aliran air yang sehat, ruang ekologis yang melindungi kota, sekaligus ruang sosial yang layak bagi warga.
Sungai yang bersih dan mengalir baik bukan hanya mengurangi risiko banjir, tetapi juga membuka harapan akan lingkungan yang lebih tertata dan manusiawi.
Kini pertanyaannya bukan lagi apakah sungai perlu diselamatkan, melainkan siapa yang bersedia berubah. Pemerintah telah memulai. Kini giliran warga. Tidak membuang sampah ke sungai, tidak membangun di atas aliran air, dan berani menata ulang ruang hidup adalah bentuk tanggung jawab kolektif yang tidak bisa ditawar.
Aksi di Sungai Guring harus menjadi titik awal, bukan sekadar seremoni sesaat. Kota seribu sungai tidak cukup dijaga dengan slogan dan nostalgia, tetapi dengan keberanian mengambil keputusan,baik oleh pemerintah maupun warga,demi keselamatan bersama.
Jika Sungai Guring kembali mengalir dengan bebas, kota ini akan bernapas lebih lega. Dan bila warga dan pemerintah benar-benar berjalan seiring, Banjarmasin masih memiliki kesempatan untuk berdamai dengan sungainya dan dengan masa depannya sendiri.
Jika Sungai Guring kembali mengalir dengan bebas, kota ini akan bernapas lebih lega. Namun itu hanya mungkin jika semua pihak mau babarataan bersama-sama menjaga apa yang menjadi titipan alam.
Dalam kearifan Banjar, sungai bukan sekadar aliran air, melainkan warisan pian untuk anak cucu di belakang hari. Jangan sampai kita handak nyaman sorang, tapi menyusahkan banyak orang.
Saatnya baimbai,pemerintah dan warga merawat sungai dengan kesadaran dan tanggung jawab. Karena bila sungai dirawat, kota akan selamat.
Dan bila sungai terus diabaikan, maka yang kita wariskan bukan kehidupan, melainkan masalah yang tak putus-putusnya.(Tim Redaksi).
